Salsa

Salsa
bab 42. Kegundahan


__ADS_3

Rihana menatap kepergian Nyonya nur, sambil tersenyum lebar, sepertinya dirinya akan aman selama bisa membuat Setyo terus berada di rumah ini.


Rihana melanjutkan langkahnya ke ruang makan, seperti rencana nya semula, yaitu pergi sarapan tapi tadi terpaksa harus tertunda karena kehadiran Setyo, Rihana mengusap perutnya yang keroncongan, selam di sini Rihana bertekad akan menggunakan fasilitas apapun yang tersedia dengan semaksimal mungkin, hingga tak ada penyesalan nantinya.


Rihana melihat banyak makanan yang terhidang di meja makan, segera bereaksi cepat. Tanpa buang waktu Rihana mengambil semua yang dia inginkan pagi ini.


Setelah merasa perutnya cukup mual karena, sudah terisi penuh Rihana berhenti makan, lalu segera kembali ke dalam kamarnya, untuk mengunci diri, merencanakan rencana yang akan dia jalankan.


Rihana mengambil handphonenya lalu menelepon seseorang untuk di minta bantuannya, Rihana mempunyai kenalan seorang dokter untuk melancarkan rencananya.


"Mahal sekali!" gumam Rihana setelah tahu berapa uang yang harus di keluarkan untuk melakukan tes DNA, kening Rihana berkerut, ia berpikir harus mempunyai cara agar Setyo mau mengeluarkan uangnya untuk tes DNA ini, sisanya akan di urus oleh nya, agar di pastikan hasil lab menunjukan bahwa bayi yang di kandungnya, benar-benar bayi Setyo.


Rihana bangun dari tidurnya, berganti pakaian dan juga bermake-up, secantik mungkin, dia berencana menemui seseorang yang akan membantunya.


Tak lama Rihana pun keluar dari kamarnya, lalu menuju garasi untuk mengeluarkan salah satu mobil yang ada di dalam sana. Rihana tersenyum karena masih bisa memakai fasilitas dari rumah ini.


Setelah selama satu jam perjalanan, Rihana tiba di suatu tempat, tempat yang tidak asing baginya dulu.


"Ayah!!" panggil Rihana.


Rihana pergi menemui ayah nya untuk meminta sedikit bantuan.


"Ayah!!" panggil Rihana lagi.


Rihana masuk ke dalam kamar ayah nya yang sempit itu, Rihana sungguh terkejut saat melihat Ayah nya sudah terbujur kaku di tempat tidur.


Rihana dengan sedikit ragu mendekati tubuh ayahnya, ada setetes air mata turun membasahi pipi Rihana, tak menyangka ayah nya, yang dulu di segani akan meninggal seperti ini sendirian di tempat tidur, sungguh mengenaskan.

__ADS_1


Rihana memang sudah beberapa bulan tidak menemui ayahnya, entah mengapa beberapa saat yang lalu Rihana ingat ayahnya, dan juga ada sedikit bantuan yang akan di pinta oleh Rihana pada ayahnya, tapi kenyataan berkata lain, Ayahnya kini telah pergi untuk selamanya, dengan meninggalkan setumpuk masalah untuk dirinya, walaupun itu sepenuhnya bukan salah ayahnya.


Rihana menetes kan air matanya, yang tak kuasa ia tahan untuk tidak keluar, dia ingat kenangan manis bersama ayahnya, di saat mereka sedang berjaya, ayah adalah orang pertama yang selalu memanjakan dan mendukungnya, di bandingkan dengan anggota keluarga nya yang lain.


Setelah mengurus, semua yang di perlukan untuk pemakaman ayahnya.


Rihana mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membiayai pemakaman ayahnya. Rihana dengan gesit membongkar semua isi lemari dan juga meja yang ada di rumah kontrakan ayahnya, dengan nada putus asa Rihana terduduk di kursi lama yang ada di dekatnya, tak ada satupun yang bisa ia gunakan, Rihana menjerit histeris, tak pernah membayangkan seumur hidupnya akan menghadapi masalah seperti ini.


Rihana menelepon seseorang yang mungkin masih bisa ia hubungi untuk menolongnya.


"Halo"


"Ya Halo"


"Tolonglah ayah ku, dia sudah meninggal tapi aku tak punya uang untuk pemakaman nya!" ucap Rihana langsung ke pokok masalahnya.


"Ingat rahasia anda, ada padaku!" ancam Rihana.


Rihana tidak mendengar jawaban apapun dari suara di balik telepon.


"Jika memang itu mau mu, aku akan memutuskan untuk memberitahukan nya!" ucap Rihana tak sabar mendengar jawaban dari orang pemilik suara yang di telepon olehnya.


"Baiklah!" ucap orang tersebut akhirnya, Rihana menarik nafas lega, urusan pemakaman ayahnya, telah beres.


***


Hubungan Salsa dan Danuarta makin hari makin terlihat akrab dan dekat, semua keperluan Salsa, Danuarta benar-benar mengurusnya dengan baik.

__ADS_1


Salsa tersenyum ketika melihat Danuarta, sambil tidak berhenti berkata mengurus semua baju yang diperlukan untuk keperluannya yang akan pergi ke luar kota selama beberapa hari mendatang.


"Kamu tidak cape, mengurus itu semua?" tanya Salsa, mendengar pertanyaan Salsa Danuarta menoleh ke arah Salsa, yang sedang tersenyum padanya.


"Aku di bayar oleh mu, untuk melakukan hal ini! ingat itu!" jawab Danuarta, sambil tersenyum.


"Kamu benar juga!" timpal Salsa.


Salsa bangkit dari duduk nya, lalu menghampiri Danuarta, Danuarta yang tidak menyadari Salsa yang berdiri tepat di belakang nya, membalikkan badannya, hingga akhirnya mereka berdua saling berhadap-hadapan satu sama lain, dengan jarak yang teramat rapat, bahkan sekarang wajah mereka dapat merasa kan, hembusan nafas yang keluar dari masing-masing hidung mereka, mata mereka terikat satu sama lain, seakan-akan sedang membicarakan sesuatu, Salsa yang lebih dulu menyadari hal ini, merasa canggung lalu segera memutuskan tatapan matanya, dan menjauh dari tubuh Danuarta, kecanggungan pun terjadi di antara mereka.


"Maaf!" ucap Danuarta.


"Aku juga minta maaf,aku pasti telah mengagetkan dirimu!" balas Salsa. Salsa kembali ke tempat semula, sedang Danuarta keluar dari ruangan itu.


Salsa menarik nafas lega ketika mendengar pintu ruangan ini di tutup oleh Danuarta, Salsa tak pernah membayangkan peristiwa ini akan terjadi pada dirinya dan Danuarta.


Salsa menatap wajahnya di cermin, ia melihat sedikit ada rona merah di pipinya, Salsa menepuk perlahan pipinya, untuk menghilangkan rona malu tersebut. Setelah yakin Salsa bangkit dari duduknya, lalu ke luar untuk menemui Danuarta, dengan membawa koper yang tadi di siapkan oleh Danuarta, Salsa telah bersiap akan pergi.


Salsa melihat Danuarta yang sedang duduk, sambil memainkan handphonenya, Salsa meraba dadanya, yang tiba-tiba merasa gugup bertemu dengan Danuarta, Danuarta yang mendengar bunyi pintu di buka menoleh ke arah Salsa, dan tak dapat di sangkal lagi kedua mata mereka saling bertemu kembali.


Salsa merasakan hal yang berbeda di hatinya, tapi kemudian dia mencoba menguasai dirinya,agar tidak terlalu terlihat kalau dia gugup di depan Danuarta.


Salsa berjalan mendekati Danuarta perlahan, dan senormal mungkin untuk menutupi perasaannya yang sekarang sedang bergemuruh di dadanya.


Danuarta berdiri dari duduknya, untuk menyambut kedatangan Salsa, setelah merasa jarak mereka telah amat dekat, Danuarta segera mengambil alih koper yang di pegang oleh Salsa, lalu berjalan mendahului Salsa, sebenarnya Danuarta pun merasakan kecanggungan yang terjadi di antara dirinya dan Salsa, tapi Danuarta yang bekerja sebagai seorang pengacara selama ini,sudah terlatih untuk menata hatinya, hingga ekspresi wajah nya, kadang berbanding terbalik dengan isi hatinya yang sedang bergejolak, seperti saat ini.


"Kita harus cepat, sebelum terjebak kemacetan!" ucap Danuarta, untuk melepaskan kegundahan di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2