
Setyo menatap ke arah Salsa, dan merasa percuma jika harus bicara dengan Salsa saat ini, Salsa masih di dera rasa marah dan sedih, Setyo akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar itu, meninggalkan Salsa.
Tanpa sadar air matanya, turun membasahi pipinya, dengan tergesa-gesa, Setyo pulang ke rumahnya.
Setelah Setyo menutup pintu kamarnya, Salsa menangis untuk kesekian kalinya, baru saja tadi ia menangis melepas kepergian ayahnya untuk selamanya, kini dia pun harus melepaskan kepergian suaminya untuk selamanya juga. Beban ini cukup membuat dada Salsa sesak, akhirnya Salsa memutuskan untuk keluar dari kamarnya, berharap bisa bernafas dengan lebih leluasa di luar rumah, ketika Salsa sedang menenangkan hatinya, Mona datang dan menghampiri nya, Salsa yang melihat nya, langsung memeluk "ibu!!" lirihnya, membuat hati Mona tersentuh begitu mendengar nya, Mona mengusap punggung Salsa dengan lembut dan memeluknya erat
"Menangis lah, jangan di simpan dalam hati, aku akan tetap menemani kamu!" bisik Mona lembut di telinga Salsa putrinya.
Tangis Salsa sekali lagi pecah, kali ini dalam pelukan hangat Mona, membuat Salsa sedikit tenang, karena merasa mempunyai sandaran. pelukan yang erat itu berlangsung cukup lama, hingga tanpa di sadari oleh mereka berdua ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka.
"Mengapa dia menyebut, Mona dengan sebutan ibu" gumam Burhan, yang sempat mendengar Salsa memanggil Mona ibu,
"Rupanya ka Salsa pun telah membohongiku, dengan berpura-pura tidak mengenal siapa itu Mona, padahal?" bathin Chika marah, dia langsung berlari masuk ke dalam kamar nya.
Burhan yang terpana dengan pemandangan di depannya, tersadar dan segera memanggil Mona, Mona yang sedikit terkejut mendengar suara Burhan, segera melepaskan pelukannya pada Salsa, lalu menoleh ke arah Burhan yang ada di belakangnya.
"Apa maksud semua ini? Kenapa dia memanggil kamu ibu?!" sentak Burhan tiba-tiba.
Mona menatap tajam ke arah Burhan, Mona tak menyangka Burhan mendengar semua itu.
"Aku tak sengaja!" jawab Salsa pelan.
"Apa maksud kamu tak sengaja?'" bentak Burhan.
"Kareena dia_ " belum selesai Salsa meneruskan jawabannya, Mona Manarik tangan Burhan agar pergi dari tempat itu, Mona tak ingin menambah bingung Salsa yang sedang bersedih, lagi pula rahasia ini, tidak boleh terbongkar sekarang, Mona belum siap kehilangan salah satu dari mereka, atau bahkan kehilangan keduanya.
Salsa menatap sedih ke arah Mona dan Burhan, Salsa merasa dia telah membuat suatu kesalahpahaman di antara mereka berdua, Salsa berharap tidak terjadi apa-apa pada hubungan nyonya Mona dan suaminya.
Salsa masuk ke dalam rumahnya lagi, merasa udara di luar dingin, dan juga rasa mual, mulai muncul kembali menyerang Salsa. Salsa segera berlari ke kamarnya lalu mengeluarkan apa yang menjadi penyebab rasa mual nya di kamar mandi, seorang diri.
Malam itu entah mengapa rasa mual itu menyerang Salsa, terus menerus hingga akhirnya Salsa berbaring lemas di atas tempat tidur, lalu tertidur nyenyak.
Keesokan harinya, dengan tubuh yang lemas Salsa turun dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi setelah itu pergi ke ruang makan, untuk sarapan bersama adik-adiknya, Salsa tersenyum melihat adik-adiknya begitu menikmati sarapan mereka, hanya mereka yang jadi penyemangat hidup Salsa sekarang ini.
__ADS_1
"Di mana Chika?" tanya Salsa.
"dia sudah pergi dari tadi!" jawab Restu.
"tanpa sarapan?"
"Iya"
Salsa terdiam, seperti ada yang aneh dengan Chika, beberapa hari ini sering sekali pergi tanpa sarapan bahkan seharian kadang mengurung diri di dalam kamar, bathin Salsa.
Salsa walaupun rasanya tak minat untuk sarapan, tapi Salsa sedikit memaksa agar perutnya pagi ini, kemasukan sedikit nasi, karena semalam ia terus mengeluarkan isi perutnya tadi malam. Tapi baru saja beberapa suap, rasa mual menyerang lagi, Salsa segera berlari ke kamar mandi terdekat, dan menumpahkan semuanya lagi di sana.
Setelah berhasil mengeluarkan semua yang ada dalam perutnya, rasa mual pun hilang, Salsa kembali ke kamar, tidak ada niat untuk meneruskan sarapan nya, Salsa meninggalkan adik-adiknya.
Salsa terbaring lemah di tempat tidur, dan terbangun saat Mona mengetuk pintu kamarnya.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Mona, melihat wajah Salsa yang begitu pucat.
"mungkin masuk angin dari kemarin aku, mual dan muntah terus" belum selesai Salsa bicara, rasa mual kembali menyerang, Mona terlihat sangat khawatir, dia menyarankan Salsa pergi ke dokter. Salsa menuruti saran Mona dengan menggunakan taksi Salsa siang itu pergi ke dokter, sendirian.
Salsa keluar dari rumah sakit menuju ke kantor Danuarta, Salsa memutuskan akan menceritakan semuanya hanya pada Danuarta.
Danuarta terkejut dengan kedatangan Salsa siang itu, dengan wajah yang pucat.
"Jangan terlalu bersedih, kasian ayah kamu di sana!" ucap Danuarta, Salsa tersenyum kecil mendengar itu,lalu menatap Danuarta yang sedang bekerja.
"Aku ke sini mau membicarakan sesuatu denganmu!" ucap Salsa, setelah terdiam beberapa saat, Danuarta segera menghentikan pekerjaan, lalu menatap ke arah Salsa.
"Bisakah kamu memberikan aku sebuah pekerjaan, apapun!" tanya Salsa tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Aku ingin menyerahkan warisan ini, pada Setyo!"
__ADS_1
Danuarta menatap dalam-dalam ke arah wajah Salsa,mencari keseriusan dalam mata Salsa.
"Yakin?" tanya Danuarta lagi, dan di jawab anggukan oleh Salsa.
Salsa pun menceritakan apa yang telah terjadi, semuanya pada Danuarta, Danuarta menarik nafas panjang, kemudian tersenyum.
"Baiklah, jika itu mau kamu"
Salsa senang mendapat jawaban sesuai dengan rencananya, Salsa pun meninggalkan kantor Danuarta lalu berjalan ke arah lampu merah yang ada di perempatan jalan, Salsa ingin menemui teman seperjuangan nya dulu. mungkin sebentar lagi diapun akan kembali ke tempat ini, bathin Salsa.
Begitu sampai, Salsa di sambut dengan baik, oleh teman-temannya di sana, bahkan Salsa, menyumbangkan suara merdunya siang itu, Salsa yang siang itu menggunakan celana jins dan kaos oblong rambut ekor kuda dan olesan sedikit make up, membuat penampilannya memukau para pengguna jalan, hingga tanpa sadari oleh Salsa ada yang merekam penampilannya saat itu.
Setelah melepaskan rasa rindunya untuk bernyanyi dan juga melepaskan rasa sedihnya, Salsa pun kembali ke rumah, dan bertemu dengan Chika, Chika yang sedang makan siang begitu melihat Salsa datang, langsung beranjak.dari kursinya, untuk menghindari Salsa, tapi Salsa dengan cepat menghadang.
"Ada apa?" tanya Salsa.
"Bukan urusan mu!"jawab Chika.
"Lalu kenapa kamu marah sama aku!?" tanya Salsa lagi.
"Aku tidak marah tapi kecewa!" sentak Chika
"Kamu telah bohong padaku!" lanjut Chika
"Tentang apa?"
"Tentang nyonya Mona!"
"Memangnya kenapa dengan nyonya Mona?"
"Kamu sudah tahu dari awal lalu dia ibu kita, kan!"
Salsa tertawa, lalu menggeleng pelan "kemarin aku memanggilnya ibu, karena dia sangat mirip dengan ibu, mungkin karena rasa sedihku aku sampai memanggilnya ibu" jelas Salsa.
__ADS_1
Chika terdiam, kalau begitu ceritanya, berarti kakaknya yang polos ini belum tahu kalau Mona adalah ibu mereka.