
Setyo terbangun, membuka matanya perlahan, terkejut saat melihat Rihana tidur dalam pelukannya, dan dalam keadaan polos, begitu pula dengan dirinya, bahkan Setyo melihat ada beberapa noda di dadanya, Setyo tahu noda apa yang ada di dadanya itu, tapi Setyo tidak merasa melakukan apa-apa dengan Rihana, Setyo secara perlahan turun dari tempat tidurnya lalu berlari ke kamar mandi setelah memakai celana nya, yang tergeletak di lantai.
Setyo menutup rapat, pintu kamar mandinya, lalu menyalakan shower dingin yang ada di kamar mandinya, sambil mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi semalam, mengapa sampai bisa, dia tidur dengan Rihana?.
Sedangkan Rihana, yang sudah tahu, kalau Setyo sudah bangun, membuka matanya perlahan, setelah Setyo masuk ke dalam kamar mandi.
Rihana tersenyum lebar, kemudian terdiam, menunggu Setyo keluar dari kamar mandi, kening Rihana berkerut, karena Setyo tak kunjung keluar dari kamar mandi juga, padahal Setyo sudah lama berada di sana.
Rihana tersenyum untuk kedua kalinya, Rihana duduk sambil memeluk ke dua lututnya dan mulai menangis.
Setyo yang sedang berada di dalam kamar mandi otomatis, mendengar suara tangisan dari Rihana, dengan malas Setyo membuka pintu kamar mandi nya.
Setyo melihat Rihana sedang, duduk memeluk kedua lututnya masih dalam keadaan polos, menangis terisak-isak.
"Ada apa?" tanya Setyo, pura-pura tidak tahu kenapa Rihana menangis.
Rihana menatap bingung pada Setyo "apa yang telah terjadi pada kita, semalam?" tanya Rihana di sela isak tangisnya.
"Maksud kamu, apa?" tanya Setyo tidak mengerti.
"Mengapa, aku dalam keadaan seperti ini?" tanya Rihana.
"Itu, hanya kamu yang tahu, kamu kan yang mengantar aku kemari karena kepalaku yang tiba-tiba pusing dan lemas" potong Setyo.
Rihana menghentikan tangisnya, "maksud kamu, aku sengaja membuka baju ku sendiri hingga polos begini!?" sentak Rihana.
"Mana aku tahu, malam itu aku merasa lemas, tak mungkin aku kuat membuka baju mu!" omel Setyo.
Rihana menatap tak percaya pada Setyo, dengan kesal Rihana memakai bajunya yang berserakan di lantai, dari semalam.
"Aku tak akan, menuntut kamu atas kejadian ini! tapi jika aku sampai hamil, kamu tak akan lepas dari tanggung jawab!" omel Rihana, sambil keluar dari kamar setyo.
Setelah Rihana keluar dari kamarnya, Setyo terduduk lemas di atas sofa, kenapa hal ini harus terjadi di saat hubungannya dengan Salsa mulai membaik, tidak mau memikirkan hal yang lebih aneh, Setyo mengambil handphonenya, lalu menelepon Salsa, memberitahukan kalau dirinya akan menjemput.
Saat sarapan pagi itu, Setyo tidak melihat Rihana, kebetulan, karena saat ini, rasanya Setyo tidak ingin bertemu dengan Rihana, dengan cepat Setyo menghabiskan sarapannya, karena dia berjanji akan menjemput Salsa.
__ADS_1
***
Setyo terduduk lemas di kursi nya, di dalam ruangan kerjanya, Setyo menyandarkan punggungnya di kursi itu, memikirkan apa yang telah terjadi, Setyo merasa bingung dengan apa yang terjadi semalam, bagaimana bisa Rihana polos tanpa pakaian dan tidur di sisinya, apa benar semalam telah terjadi sesuatu antara dirinya dan Rihana, Setyo sama sekali benar-benar tidak ingat dan tidak merasakan apapun.
Setyo menelepon Rihana, Rihana yang sedang duduk termenung, memikirkan nasibnya, terkejut saat melihat nama yang tertera di handphonenya, tak lama kemudian tersenyum
"Halo, ada apa?" tanya Rihana.
"Kita harus bicara!" jawab Setyo.
"Baiklah, di mana?" tanya Rihana lagi.
"Cafe kuning!" jawab Setyo cepat
Setelah itu Setyo pun langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Rihana mendengus kesal, Setyo tak pernah memperlakukan dirinya dengan baik, semenjak dia tinggal di sini. Padahal dulu waktu kecil, Setyo sangat menjaga dirinya.
Rihana dan Setyo siang itu akhirnya bertemu, di tempat yang di janjikan.
"Ya, begitulah!" jawab Rihana.
"Tidak mungkin, karena aku ingat, aku begitu lemas saat itu!" sentak Setyo.
"Kalau begitu kamu mau mangkir dengan tanggung jawab kamu padaku?" ucap Rihana,sambil menatap tajam ke arah Setyo.
"Tentu saja, karena aku tak pernah merasa melakukan itu padamu?" sarkas Setyo.
"Bagaimana kalau aku sampai, hamil?"
”hamil? itu tidak mungkin, kalaupun kamu hamil, aku yakin itu bukan bayiku!" ucap Setyo sambil tertawa sinis, Rihana menatap Setyo,ternyata tak mudah membodohi Setyo, Rihana yang kesal bangun dari duduknya.
"Plak!" Satu tamparan jatuh telak di pipi Setyo ”kamu pikir, aku wanita seperti apa! ingat bagaimana pun, aku akan membuat kamu bertanggung jawab dengan diriku!” ancam Rihana lalu pergi meninggalkan Setyo.
Setyo mengusap pipinya yang terasa panas, karena bekas tamparan Rihana "kurang ajar! dia yang berulah, aku yang kena masalah!" umpat Setyo.
__ADS_1
Setyo kembali ke kantornya, dengan kesal, masuk ruangannya dan terkejut melihat Salsa sedang menunggu nya.
"dari mana?" tanya Salsa
"Bertemu teman!" bohong Setyo.
"Makan siang!" ucap Salsa, sambil menunjukan apa yang ada di tangannya, Setyo tersenyum lalu menghampiri Salsa duduk di sampingnya, memeluk Salsa erat, seakan-akan tak ingin dia lepas lagi.
"Kenapa? ada masalah?" tanya Salsa merasa Setyo bersikap terlalu berlebihan.
"Tidak, entah mengapa, aku jadi takut kehilangan kamu!" ucap Setyo, membuat Salsa tertawa.
"Tenanglah, aku tak akan pernah meninggalkan kamu, bagaimana pun keadaan kamu!" ucap Salsa menenangkan Setyo.
"Benarkah?" tanya Setyo menatap Salsa tak percaya, Salsa mengangguk, Setyo mempererat pelukannya.
***
Rihana dengan perasaan kesal menelepon fajar, Rihana butuh pelampiasan rasa kesal di hatinya pada Setyo, Rihana menemui Fajar di kontrakan nya yang kecil itu sambil mengumpat, Fajar yang sejak tadi menunggu kedatangan Rihana, menjadi tidak sabar, begitu tahu yang datang Rihana, Fajar langsung menarik Rihana masuk ke dalam, dan langsung menciumnya, Rihana pun membalasnya, Rihana juga ingin bercinta saat ini, untuk melepaskan rasa kesalnya pada Setyo bersama Fajar, Fajar sebenar nya tahu kalau dirinya hanya sebagai pelampiasan, untuk sekarang hal itu masih dapat di terima olehnya, karena ia pun sangat menyukai tubuh Rihana yang seksi.
Keduanya saling beradu kekuatan hari itu, hingga akhirnya kedua nya jatuh lemas di atas tempat tidur yang sempit itu.
"Apa dia, membuatmu kesal lagi hari ini?" tanya Fajar
"Begitulah, aku sudah menjebaknya, tapi dia tidak percaya" ucap Rihana.
"Ceritakan padaku bagaimana, ceritanya!" pinta Fajar sambil menarik Rihana yang polos, dalam pelukannya.
Rihana pun mulai bercerita apa yang telah dia lakukan pada Setyo, dengan dan jelas dan panjang lebar pada Fajar, Fajar tersenyum mendengar cerita Rihana, tentang bagaimana rencana nya yang gagal.
"Harusnya kamu jangan memberinya obat bius, tapi juga obat perangsang!" ucap Fajar
"Apa kamu punya, obat itu?" tanya Rihana.
"Tentu saja! nanti akan aku berikan padamu"
__ADS_1
Setelah puas, Rihana pun keluar dari kontrakan sempit milik Fajar, sepeninggalan Rihana, Fajar tersenyum lebar, ia mengambil handphonenya yang ada di balik bantal tidurnya, lalu memutar sebuah rekaman suara, kemudian Fajar tertawa keras "kamu akan jadi milikku dan hancur!".ucap Fajar.