
"Aku tak akan pernah membiarkan Setyo jatuh ke tangan kamu, aku kenal wanita seperti apa, kamu" orang itu bergumam sendiri.
Lalu segera masuk ke dalam kamarnya agar tidak terlihat oleh Rihana dan Setyo.
Setyo mengantar Rihana samapi Rihana masuk ke dalam kamarnya, lalu kemudian masuk ke dalam kamarnya sendiri.
"Aku harus menjaga Rihana sampai dia melahirkan, karena pada saat itu akan ku pastikan bahwa anak yang di kandung Rihana bukan anakku, dan pada saat itu juga aku akan meninggalkan Rihana" ucap Setyo pada dirinya sendiri.
Setyo merasa sangat tak sabar menanti kelahiran bayi dalam kandungan Rihana, karena di hati itu akan di pastikan olehnya hari itu adalah hari kebebasannya.
Setyo berbaring di atas tempat tidurnya lalu membuka handphonenya dan melihat foto Salsa yang sedang tersenyum lebar di sana.
"Kamu akan menjadi milikku lagi" ucap Setyo.
***
Salsa kembali ke rumahnya hampir tengah malam, dan terkejut saat melihat Danuarta ada di depan pintu gerbang rumahnya, Danuarta berdiri sambil menyandarkan punggungnya pada pagar rumah. Salsa tersenyum pada Danuarta, Danuarta membalasnya dengan sedikit senyuman.
"Ayo masuk!" ajak Salsa.
"Tidak di sini saja, aku hanya memastikan jika kamu baik-baik saja" tolak Danuarta.
"Tenanglah, aku ini muridmu, aku pasti pandai menjaga diri" balas Salsa, Danuarta tersenyum sinis mendengar itu.
"Aku pulang!!" Pamit Danuarta.
Salsa melihat ke arah Wajah Danuarta, Danuarta terlihat berbeda, Salsa baru menyadari Danuarta malam ini terlihat acak-acakan, tidak berpakaian rapi seperti biasanya.
"Apa pekerjaan kamu banyak?" tanya Salsa.
"Bagaimana mungkin banyak di kantorku banyak asisten yang akan menghandle pekerjaanku, aku hari ini saja banyak diam di kantor, hingga merasa bosan sendiri!" jelas Danuarta.
Salsa tersenyum kecil, sebenarnya dia pun tahu, jika Danuarta berada di kantor hanya bertugas menemui tamu-tamu penting sedangkan pekerjaan lainnya sudah ada yang mengerjakannya.
"Syukurlah kalau begitu!" ucap Salsa.
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Apa aku bisa jadi manager kamu lagi? tanya Danuarta.
__ADS_1
Salsa terdiam lalu menggeleng lemah dan berkata "maaf aku tak bisa melakukan itu, tim baruku sudah berusaha keras hari ini, tak mungkin aku memutuskan mereka seenaknya" tolak Salsa.
"Apa yang kamu lakukan padaku juga seenaknya!" ujar Danuarta sinis.
Salsa terdiam sekali lagi, menatap Danuarta yang seperti nya sangat marah pada dirinya. Salsa tidak tahu harus berkata apa lagi mengenai hal ini.
"Mamih mu?!"
"Jangan jadikan Mamih ku menjadi alasan!" bentak Danuarta
"Sudah ku bilang dia menjadi urusanku!" lanjut Danuarta lagi
Maaf aku tak bisa seperti itu, aku merasa tak nyaman karena itu!" protes Salsa.
Kini Danuarta yang terdiam mendengar ucapan Salsa, memang selama ini Mamih nya adalah orang yang paling memperhatikan kehidupannya apalagi soal wanita, Mamih selalu banyak pertimbangan karena takut putranya di sakiti lagi, tapi karena hal itu Danuarta merasa kurang bebas dan merasa ibunya terlalu mengatur hidupnya.
"Tapi aku masih ingin bekerja dengan kamu"
"Aku merasa nyaman bekerja bersama kamu, aku seperti selalu di butuhkan hingga aku merasa berguna" jelas Danuarta.
"Maaf aku tak bisa" ucap Salsa sekali lagi.
"Baiklah, aku pamit!" ucap Danuarta akhirnya meninggal Salsa masuk ke dalam mobilnya.
Salsa menatap kepergian Danuarta dengan sedih bagaimana pun Danuarta sangat banyak berjasa bagi kehidupan nya selama ini, jika tak ada masalah ini mungkin rasanya mereka tak akan pernah berpisah, Salsa akhirnya masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Chika.
"Apa kakak bertemu dengan pak Danuarta di luar?"
"Iya, sebentar!"
"Kasihan dia menunggu kakak sejak tadi"
"Mau gimana lagi, kamu pasti mengerti"
Chika berhenti mengikuti Salsa, ia merasa kasihan pada Danuarta tapi juga mengerti di mana posisi kakaknya.
"Apa yang aku bisa lakukan untuk pak Danuarta?" bathin Chika, Chika dapat melihat Danuarta adalah sosok pria yang sangat baik, apalagi setelah dirinya bekerja di kantornya, Chika pastinya lebih mengenalnya jadi di bandingkan mantan suami kakaknya yang plin-plan itu Danuarta lebih mempunyai pendirian menurut Chika.
"Aku harus punya cara bagaimana menyatukan kakak dengan pak Danuarta lagi!" ucap Chika pelan.
Chika kemudian masuk ke dalam kamarnya, untuk kembali tidur.
__ADS_1
***
Keesokan harinya di rumah besar Setyo terjadi keributan kecil setelah Setyo berangkat bekerja dan meminta beberapa pelayan untuk merapihkan kamar yang ada di bawah.
Nyonya nur yang merasa tidak terima Setyo sekarang memperhatikan Rihana, melabrak Rihana di dalam kamarnya.
"Jangan kamu pikir aku akan diam saja melihat semua ini!"
"Apa maksud ibu!!" balas Rihana yang tidak terima dirinya di bentak seperti tadi.
"Aku tahu siapa bapak dalam kandungan kamu jadi jangan harap Setyo akan menjadi suami kamu!" bentak nyonya nur lagi.
"Aku juga tahu kalau ibu pura-pura sakit!" balas Rihana dengan suara tenang.
Nyonya nur terdiam, menatap tajam ke arah Rihana tak menyangka dalam posisinya Rihana masih bisa mengancam dirinya.
"Ingat jika kamu ingin menjadi istri Setyo, jangan pernah melawan aku!" ancam Nyonya Nur.
"Ibu pun harus tahu, jika masih ingin tinggal di rumah ini jangan pernah melawan aku!" balas Rihana, nyonya Nur merasa kesal dengan sikap Rihana, dengan marah Nyonya Nur keluar dari kamar Rihana.
"Di antara kita tak akan ada yang pernah menang Nyonya, karena jika salah satu kita hancur makan keduanya pun akan lebih hancur!" ucap Rihana pelan setelah kepergian Nyonya Nur dari kamarnya.Nyonya Nur benar-benar marah dengan Rihana dia mengamuk besar di dalam kamarnya, kenapa dia bisa bersekutu dengan Rihana yang hanya ingin mengambil keuntungan dari hartanya saja, tanpa ada timbal balik.
"Aku harus punya rencana untuk menyingkir kan Rihana dari rumah ini, karena rumah ini hanya milik aku!".
***
Setyo yang sedang bekerja tiba-tiba menerima sebuah panggilan di handphonenya dengan nomor asing, Setyo mengerutkan keningnya, siapa yang sedang menelepon nya sekarang, Setyo segera mengangkatnya.
"Halo"
"Tuan Setyo, aku hanya ingin memberitahu siapa ayah dari anak yang di kandung oleh calon istri anda"
"Halo! Apa maksud kamu?!" sentak Setyo.
"Anak yang di kandung Rihana bukan anak Anda!"
"Siapa ayahnya?"
"Maaf Tuan Setyo aku tak bisa memberitahukan sekarang, nanti lain waktu"
"Tunggu!" telepon pun di putus.
__ADS_1