Salsa

Salsa
Bab 21. Sandiwara pertama


__ADS_3

"Mungkin itu lebih baik untuknya?" balas Setyo


"Dia akan lebih aman di luar sana, dari pada di sini, iya kan?" lanjut Setyo.


Nyonya nur terdiam, begitu juga Malika. Mereka hanya melihat kepergian Setyo, tanpa berkata apa-apa lagi. Mereka takut jika lebih banyak bicara, Setyo akan lebih marah, karena Setyo sebenarnya sudah mengetahui, siapa di balik semua ini, Setyo hanya tak ingin membicarakan nya, sebab kalau sampai itu terjadi Setyo akan menuduh langsung kepada mereka.


Setyo tiba di hotel, melihat Salsa yang masih juga tertidur, Setyo segera membangunkan Salsa untuk makan, Salsa yang terbangun menatap ke arah wajah Setyo yang sedih.


"Ada apa?" tanya Salsa.


"Tidak, aku hanya baru dari rumah, membawa pakaian kamu dan juga aku" jawab Setyo.


"Memang harus ya, kita tinggal di hotel ini?" tanya Salsa sekali lagi.


"Iya, nanti aku akan mencari rumah, untuk kita tinggali berdua!" lanjut Setyo.


"Benarkah?" tanya Salsa setengah tak percaya. Setyo tersenyum melihat wajah Salsa yang tiba-tiba ceria mendengar dirinya akan mencari rumah, untuk mereka berdua, karena memang seperti itu harusnya.


"Bagaimana rapat kemarin?" tanya Salsa yang sudah ingat tentang kejadian yang telah terjadi kemarin di sana.


"Pasti kacau!" lanjut Salsa dengan nada penuh penyesalan.


"sudahlah, semua bukan salah kamu, juga!" balas Setyo, menenangkan Salsa.


Malam itu, Setyo dan Salsa tidur di hotel di dalam Setu tempat tidur, mereka terlihat tenang dalam pelukan masing-masing.


Sedangkan di rumah Setyo, seseorang terlihat gelisah dalam kamarnya, nyonya nur mondar mandir, memikirkan Setyo yang tidur berdua dalam hotel dengan Salsa.


"Aku yakin Salsa pasti tidak mau, dia pasti takut jika Setyo sampai terluka!" gumamnya, menenangkan hatinya sendiri, karena merasa lelah akhirnya, nyonya nur duduk di pinggir, tempat tidur, lalu merebahkan diri di sana.


***


Salsa dan Setyo, terbangun mereka terlihat segar, Salsa harus ke kantor sekarang, Salsa merasa sedikit ragu, setelah peristiwa kemarin, tapi Setyo meyakinkan kepada Salsa bahwa semua baik-baik saja, dan Setyo berjanji akan selalu mendampingi Salsa di sana.


Setyo dan Salsa tiba di kantor, di sambut Danuarta.


"Pagi"


"Pagi" jawab Salsa dan Setyo bersamaan.


"Aku dengar kalian tinggal di hotel?" tanya Danuarta.


"Gosip ternyata, cepat sekali masuk ke telinga kamu!" sinis Setyo.


"Itu bagian dari pekerjaan aku, atas amanat Pak Handoyo" balas Danuarta.

__ADS_1


Setyo tidak memperpanjang urusan itu,karena Danuarta berlindung di bawah nama Almarhum ayah nya.


Setyo mengantar Salsa sampai di ruangan Salsa, setelah itu Setyo berjalan ke arah ruangan nya, di tengah jalan handphone Setyo berbunyi.


"Ada apa Bu?" tanya Setyo cepat, siang ini, dia berencana untuk mencari rumah, Setyo harus menyelesaikan pekerjaan yang kemarin tertunda.


"Ada di mana?" tanya nyonya Nur.


"Di kantor, kenapa?" tanya Setyo.


"Sudah sarapan?" tanya Nyonya nur lagi.


"Sudah tadi, di hotel! ada apa Bu? aku sedang banyak pekerjaan" ucap Setyo tak ingin bertele-tele.


"Kapan kamu kembali ke rumah?" tanya Nyonya nur, pelan.


"Untuk apa aku kembali! aku akan tinggal dengan Salsa, kami ingin mencari rumah, kurasa itu solusi terbaik, jadi ibu dan Malika bisa tenang di rumah itu! bukan itu yang ibu mau?" Cerocos Setyo.


"Tidak, jika tidak dengan mu!" jawab Nyonya Nur.


"Apa maksud ibu!" sentak Setyo.


"Ibu tak mau kamu, bersama pengamen itu!"


"Tapi, dia istriku sekarang!" protes Setyo


"Sudahlah! cape bicara sama ibu" ucap Setyo memutuskan sambungan teleponnya.


Nyonya nur yang sambungan telepon nya di putus Setyo, terlihat marah, Rihana yang baru saja turun, menghampiri nyonya Nur "ada apa?" tanya Rihana.


"Setyo akan meninggalkan rumah ini, bersama pengamen gembel itu!" omel nyonya Nur.


Rihana terdiam, keningnya berkerut aku tak boleh membiarkan ini terjadi, jika Setyo tidak tinggal di sini, bagaimana aku bisa menjebaknya agar menikahi ku? bathin Rihana.


Rihana membisikan sesuatu pada nyonya nur, yang kemudian membuat nyonya nur tersenyum.


"Apa aku bisa mulai dari sekarang?" tanya nyonya nur, sambil tersenyum lebar pada Rihana.


"Tentu! silahkan drama nya di mulai" jawab Rihana, sambil membalas senyum nyonya nur.


"Aaaaakh" tiba-tiba nyonya Rihana memegang dadanya, dan terjatuh.


Rihana yang terkejut segera berteriak memanggil pelayan atau siapapun, yang dapat membantu dia membawa nyonya nur yang pingsan.


Tak lama Malika dan seorang pelayang datang, mereka membantu memapah nyonya nur ke kamarnya, sedangkan Rihana masih di tempatnya semula, sambil tersenyum licik.

__ADS_1


Rihana menelepon Setyo, dengan handphone nya.


"Halo Setyo, ibu kamu jatuh pingsan!" seru Rihana langsung tanpa basa-basi dulu pada Setyo.


Setyo yang mendengar kabar itu, langsung berdiri dari tempatnya lalu, segera keluar dari ruangannya tanpa memberi kabar kepada Salsa.


Setyo tiba di rumah, melihat ibu nya terbaring lemah di tempat tidur, langsung menghampirinya.


"Apa yang terjadi?" tanya Setyo cemas.


"Aku tidak tahu kak, aku terkejut ketika ka Rihana berteriak minta tolong" jelas Malika dengan wajah sedih melihat ke arah ibunya.


"Aku, baru turun dari tangga, berbicara sebentar dengannya, ibu mu mengatakan jika kamu akan pindah rumah dengan gadis itu, lalu tiba-tiba jatuh pingsan" jelas Rihana cepat.


Setyo melihat ke wajah ibu nya sekali lagi.


"Apa kalian sudah memanggil dokter?" tanya Setyo, Malika dan Rihana menggeleng pelan.


"Bodoh!" maki Setyo.


Setyo lalu mengeluarkan handphone nya, lalu memanggil dokter keluarganya, Rihana terlihat sedikit panik, kemudian Rihana keluar dari kamar itu.


"Aku akan menunggu kedatangan dokter, di bawah" pamitnya pada Setyo dan Malika.


Tak lama dokter yang di tunggu Rihana datang, Rihana segera menyambut dan mengantar dokter itu, ke kamar nyonya nur.


Saat dokter tiba, nyonya nur ternyata sudah terbangun, melihat kedatangan dokter nyonya nur pun sedikit panik, tapi melihat ke arah Rihana yang tersenyum padanya, nyonya nur terlihat lebih tenang.


"sepertinya ibu anda, terkena serangan jantung ringan!" ucap dokter.


"Bagaimana bisa, selama ini ibu selalu sehar-sehat saja!" omel Setyo.


"Mungkin dia kaget, mendengar berita yang tidak dia inginkan,atau hal lain, sebaiknya anda tanyakan pada ibu anda sendiri" cerocos dokter itu.


"Baiklah, aku akan menuliskan resep untuk nyonya nur, biarkan dia istrirahat, kalau bisa turuti segala keinginannya untuk waktu dekat ini, sampai jantungnya kembali normal" jelas dokter lagi.


Setyo menarik nafas panjang, begitu dokter ke luar di antar oleh Rihana.


"Bagaimana ini bisa terjadi, Bu?" tanya Setyo.


"Ibu tadi hanya sedikit marah padamu, karena memutuskan untuk pindah dari rumah ini bersama gadis itu!" jelas nyonya nur.


"Tapi ibu, dia istriku tak bisa aku tinggal sendirian di rumah, aku harus ikut bersamanya" jelas Setyo.


"Tidak!"jawab nyonya nur, sambil memegang dada nya lagi.

__ADS_1


"Aaakkh"


"Ibu!" Teriak Setyo


__ADS_2