Salsa

Salsa
Bab 27. Rihana dan rencana nya lagi


__ADS_3

Setyo hari itu, tidak pulang ke rumah ibunya, ia memutuskan untuk menginap di rumah Salsa, Setyo sama sekali tidak ingin bertemu dengan Rihana yang menyebalkan itu.


Setyo tidak tahu apa yang membuat Rihana begitu menyebalkan di matanya, padahal dulu seingat Setyo, Rihana selalu saja dia lindungi dan dia jaga.


Mungkin sejak tahu kalau Rihana bekerjasama dengan ibunya, Setyo mulai tak menyukai Rihana.


"Melamun!" seru Salsa mengagetkan Setyo, Setyo menarik Salsa agar mendekat, lalu menciumnya, rasanya bagi Setyo hal itu, tak akan pernah bosan ia lakukan.


"Apa, kamu masih meminum obat?" tanya Salsa, Setyo terdiam, haruskah dia mengatakan yang sesungguhnya pada Salsa kalau sebenarnya dia tidak sakit, itu hanya akal-akalan ibu nya,agar mereka berpisah.


Setyo ingin sekali membuka mulutnya untuk mengatakan itu semua, tapi ternyata sulit sekali, bibirnya terasa terkunci rapat.


Setyo mencium Salsa sekali lagi "aku akan menandatangani surat penyerahan warisan pada kamu!" ucap Salsa tiba-tiba.


Setyo terpana menatap Salsa "jangan! aku sudah tak ingin semua itu, aku hanya ingin dirimu, jadi kurasa siapapun pemegang hak waris, aku atau kamu sama saja!" tolak Setyo.


"Tapi, ibu mu?" tanya Salsa tidak meneruskan perkataannya.


"Ibu akan menjadi urusan ku, aku hanya minta satu, apapun yang terjadi, berjanjilah akan tetap mempercayai ku!" lanjut Setyo, Salsa menatap ke arah Setyo, lalu perlahan menganggukan.


"Istri yang baik!" ucap Setyo sambil mengelus ujung kepala Salsa dengan lembut.


Setyo sarapan bersama Salsa dan adik-adiknya, terasa ramai tapi menyenangkan.


"Ka Setyo, kenapa tidak tinggal di sini saja, sama kami?" tanya Chika dengan lembut.


"Ingat! Ka Setyo suami ka Salsa, jangan genit!" seru Restu, Chika mendengus kesal.


"Rese kamu!" sentak Chika.


Salsa tersenyum mendengar perdebatan adiknya, yang hampir setiap hari terjadi.


Sedang asyik sarapan, bel pintu berbunyi, Salsa segera membuka pintu rumahnya.


"Masuklah!" ucap Salsa pada Mona.


"Pagi!" sapa Mona, Mona melirik ke arah Setyo yang sedang bergabung sarapan dengan putra dan putrinya, Mona menghampiri Setyo.


"Semoga anda tidak berubah pikiran lagi!" bisik Mona pada Setyo.

__ADS_1


Setyo terdiam, tak menjawab tidak juga memprotes, Setyo meneruskan sarapannya, Setyo merasa sedikit aneh dengan perilaku Mona yang begitu memperhatikan Salsa dan adik-adiknya.


Salsa menatap ke arah Mona, makin hari, Salsa merasa Mona makin mirip dengan ibunya yang telah lama hilang.


Salsa merasa Mona pun sangat menyanyangi adik-adiknya, kadang Salsa melihat ada kesedihan di wajah Mona, saat melihat adik-adiknya.


"Ayah!" seru Restu, melihat ayah nya datang. Mona yang sedang menyuapi Karin terkejut, lalu berdiri dari tempat duduknya.


Baron, yang mengenali Mona, terpaku menatap ke arah Mona *tidak mungkin di dunia ini, ada dua orang yang begitu mirip, kalau dia tidak kembar!* bathin Baron, matanya tak pernah lepas dari Mona, membuat Mona sedikit serba salah.


Salsa yang tahu, mengapa ayahnya menatap Mona seperti itu, menghampiri ayahnya, memperkenalkan Mona padanya.


"Ini, nyonya Mona tinggal di depan rumah kita ayah, dia Istri dari seorang dokter!" ucap Salsa memperkenalkan Mona pada ayah nya.


"Halo Tuan_" Mona tidak meneruskan kata-katanya.


"Baron!" ucap Baron.


"Mona!" ucap Mona.


Mona duduk kembali di tempatnya, sedangkan Baron duduk tepat di bangku yang ada di hadapan Mona, mata Baron terus menatap ke arah Mona, membuat Mona sedikit gemetar, Mona bangun lalu pamit untuk pulang ke rumah nya, dengan alasan putra kecilnya pasti sekarang sudah bangun.


"Ayah, jangan seperti itu, kasian Nyonya Mona!" tegur Salsa.


"Dia bukan Mona tapi Mira" ucap Baron.


"Ayah, jangan mengada-ada!!" sentak Salsa.


"Percayalah, dia Mira bukan Mona!!" ucap Baron sekali lagi.


Salsa menggelengkan kepalanya, Salsa tahu siapa ayahnya, seseorang yang keras kepala. Tapi apa yang di katakan oleh ayahnya, Salsa juga merasakan kalau Mona adalah ibunya yang telah lama pergi.


***


Nyonya nur, terlihat gelisah dari tadi dia berjalan mondar-mandir tak jelas, membuat Malika sebal.


Malika yang tak ingin menanyakan apa yang sedang di pikirkan ibu nya, beranjak pergi dari tempat itu. Nyonya Nur, melihat kepergian putri nya dengan tarikan nafas panjang *anak itu tak pernah berubah, tidak pernah mau memikirkan kesusahan ibunya, inginnya terima beres saja!* gerutu nyonya nur.


Nyonya nur yang merasa kepala nya mendadak pusing kerena memikirkan hal ini, teringat dengan Rihana, lalu segera melangkah berjalan menuju kamar Rihana, menurut nyonya nur, hanya dia yang sekarang dapat ia minta pendapatnya tentang masalah ini.

__ADS_1


Nyonya nur merasa pusing, saat ini karena Setyo, sudah beberapa hari Setyo tidak pulang dan tidur di rumah, dan dia sangat tahu ada di mana putra nya itu saat ini, di mana lagi selain di rumah mereka bersama Salsa.


Nyonya nur terdiam sesaat di depan pintu kamar Rihana, lalu kemudian mengetuk pintu kamar Rihana pelan, tapi tak kunjung ada jawaban.


"Sebenarnya sedang apa dia di dalam? beberapa hari ini kerjaan mengurung diri di kamar saja!" umpat nyonya nur.


Nyonya nur dengan terpaksa mengetuk pintu kamar Rihana sekali lagi dengan ketukan agak keras dan berhasil membuat Rihana membuka pintunya.


"Ada apa?" tanya Rihana, melihat nyonya nur berdiri di depan pintu kamarnya.


Nyonya nur, melihat penampilan Rihana yang amat kusut dan terlihat lelah, padahal selama di rumahnya Rihana, hanya makan dan minum.


"Rencana kita tidak ada yang berhasil!" ucap Nyonya Nur, sambil bergerak masuk ke dalam kamar Rihana.


"Itu salahmu! yang tidak bisa mengendalikan putra mu sendiri!" sinis Rihana.


"Jadi sekarang kamu sudah berani, menyalahkan aku!" sentak nyonya nur.


Rihana yang pikirannya sedang kacau, karena di tak juga hamil, padahal dia sudah sering melakukan itu, dengan Fajar, menatap nyonya nur dengan kesal.


"Aku harap, kamu juga berkontribusi dalam rencana ini, jangan cuma makan dan tidur gratis di rumahku, berikan aku ide lagi, cepat!!" bentak nyonya nur lagi.


Rihana, merasa tersinggung dengan perkataan nyonya nur, walaupun apa yang dikatakan oleh nyonya nur benar semua, tapi seharusnya dia tidak usah mengatakan itu padanya.


Rihana dengan malas membisikkan sesuatu pada nyonya nur, kening nyonya nur sedikit berkerut, dia sedikit tidak suka dengan ide yang dibisikkan oleh Rihana padanya saat ini.


"bagaimana?" tanya Rihana.


"Entahlah, akan ku pikir kan, tapi kita tak bisa memaksa Setyo melakukan hal itu tanpa alasan yang kuat" ucap nyonya nur.


Rihana pun, dengan terpaksa menceritakan kejadian yang telah terjadi beberapa hari yang lalu, antara dia dan Setyo walau itu bukan begitu alur cerita yang sebenarnya.


"Aku dan Setyo telah tidur bersama malam itu!" ucap Rihana, membuat Nyonya nur mundur beberapa langkah, sedikit tak percaya dan juga sebenarnya bukan ini yang dia harapkan akan terjadi, nyonya nur tak ingin Setyo menikahi wanita manapun, karena jika harta itu jatuh ke tangan Setyo, istri Setyo pasti menikmati harta itu, dan nyonya nur tidak suka akan hal itu, ia ingin harta itu, utuh tetap menjadi milik nya untuk selamanya.


"Aku akan memikirkan nya!" ucap nyonya nur, lalu keluar dari kamar Rihana dengan cepat, Rihana mendengus kesal, karena nyonya nur, tidak langsung menyetujui ide nya, untuk menikahkan Setyo dengan dirinya "pasti dia tak ingin putranya menikah dengan siapapun! agar harta itu tetap menjadi miliknya, ibu serakah!" umpat Rihana.


Rihana selama tinggal di rumah ini memahami sesuatu, nyonya rumah ini sebenarnya tak ingin hartanya di nikmati oleh siapapun termasuk oleh anaknya sendiri, nyonya rumah ini ingin harta ini, hanya dia yang menikmati nya *untung saja suami nya itu sangat pintar, mewariskan harta nya pada orang lain!* bathin Rihana, sambil tersenyum kecut.


Salsa sangat senang beberapa hari ini, Setyo selalu 7 nya, Salsa juga sangat yakin jika pernikahannya dengan Setyo akan membaik hari demi hari.

__ADS_1


"Brakk!!" Salsa segera berlari ke arah suara itu.


__ADS_2