
Setyo yang kesal masuk ke kamar tidurnya dengan membanting pintu kamar tidur nya, semuanya terasa rumit baginya kini.
Sedangkan Rihana tertawa terbahak-bahak, lalu berbaring di atas tempat tidurnya dengan tersenyum lebar.
"Semua nya akan jadi milikku, aku akan jadi orang kaya lagi" seru nya.
Sedangkan Salsa setelah kepergian Setyo, memandang dirinya di cermin, mampu kah Salsa melawan rasa cinta nya pada Setyo, setelah merasakan perlakuan Setyo yang hangat dan romantis padanya hari ini.
***
Keesokan harinya, Setyo dengan rasa tak sabar ingin bertemu dengan Salsa, selesai berganti pakaian langsung keluar dari kamarnya lalu mengetuk pintu kamar Salsa, untuk mengajak Salsa sarapan bersama, tapi bukan pintu kamar Salsa yang terbuka tapi pintu kamar Rihana yang letaknya kebetulan berdampingan dengan kamar Salsa "Dia sudah pergi dari pagi tadi" seru Rihana.
Setyo berhenti mengetuk pintu kamar Salsa, begitu mendengar apa yang di katakan oleh Salsa, Setyo dengan malas turun ke bawah untuk sarapan, Rihana dengan gesit mengejar Setyo lalu bergelayut manja di lengan Setyo, Setyo membiarkan Rihana dengan tingkahnya, saat itu.
"Ada apa dengannya?" tanya nyonya Nur.
"Di tinggal istrinya pergi" jawab Rihana.
"Istri macam apa! bukannya melayani suami sarapan! entah sudah ada di mana dia, pagi-pagi begini!" omel nyonya Nur, memanas-manasi Setyo.
Setyo terdiam mendengar ucapan ibu nya "apa yang di katakan ibu, memang benar! tugas istri adalah melayani suami bukan pergi pagi-pagi secara diam-diam begini!" gerutu Setyo, menyalahkan Salsa, sepertinya Setyo termakan ucapan nyonya nur.
Nyonya nur melirik ke arah Rihana, mereka tersenyum lebar saat mendengar keluhan Setyo.
"Sudah jangan pikirkan istri seperti itu, masih ada Rihana yang akan melayani kamu!" ucap nyonya nur.
"Kamu mau kan?" tanya nyonya nur pada Rihana.
"Tentu saja dengan senang hati" jawab Rihana.
"Kamu mau apa?" tanya Rihana dengan suara lembutnya pada Setyo.
"Nasi goreng saja" jawab Setyo pelan.
***
Salsa yang sedang terlelap tidur, terbangun karena bunyi handphonenya malam itu. Salsa langsung terbangun, saat mendengar kabar Ayah nya sakit, ingin rasanya malam itu, Salsa langsung menemui ayah nya tapi tak bisa Salsa lakukan, Salsa tak mau mengganggu tidur Setyo.
Dengan terpaksa Salsa tidak tidur semalaman menunggu pagi.
__ADS_1
Begitu pagi datang Salsa sudah bersiap akan pergi, Salsa keluar dari kamarnya secara perlahan, karena tak ingin mengganggu siapapun penghuni rumah ini, termasuk Setyo suaminya.
Saat itulah Rihana tahu kalau Salsa pergi keluar pagi itu, karena semalaman Rihana tidak bisa tidur, karena di teror oleh penagih hutang semalaman.
Salsa ketika sampai di kontrakan, langsung melihat keadaan ayah nya, Salsa mendekati ayah nya, Salsa memeriksa suhu tubuh ayah nya.
"Panas" gumam Salsa, Salsa memanggil taxi, lalu membangunkan Restu, dan meminta restu untuk memanggil tetangga yang dapat membantu menggotong ayah sampai ke taxi, yang telah di pesan olehnya.
Pagi itu juga, Salsa membawa ayah nya ke rumah sakit, setelah pemeriksaan Salsa di panggil oleh dokter.
"Sepertinya ayah anda perlu penanganan khusus, setelah kami periksa, ususnya membengkak, apa dia sering mabuk?" ucap dokter itu.
"Hampir tiap hari dokter" jawab Salsa sambil menunduk malu.
"Kalau seperti itu, ayah anda lebih baik di rumah sakit ini, untuk mencegah dia menegak minuman keras kembali selama pengobatan masih berjalan" ucap dokter lagi.
"Terserah anda dok, usahakan yang terbaik untuk ayah saya, karena hanya dia, orang tua yang ku punya sekarang" ucap Salsa.
Setelah bicara dengan dokter Salsa kembali ke kamar ayah nya di rawat.
Baron menatap ke arah Salsa yang masuk ke dalam kamar "seharusnya kamu tak usah bawa ayah kemari, ayah pasti akan sembuh sendiri" ucap Baron.
"Itu bohong!! ayah tidak sakit parah!!" bentak Baron, hendak turun dari tempat tidur nya.
"Aaaaa" teriak Baron kesakitan.
Salsa yang panik segera memanggil dokter, untuk memeriksa keadaan ayah nya.
Salsa terus menemani ayah nya hari itu, saat sore tiba Salsa meminta suami nya bi Marni untuk datang ke rumah sakit, menggantikan dirinya yang harus pulang ke rumah nya.
Tak lama setelah suami Bi Marni datang, salsa pun pamit kepada ayah nya, dan berjanji besok pagi dia akan datang lagi.
Salsa yang lelah, sampai di rumah, melihat Setyo yang sedang bercengkrama dengan Rihana, mendengus kesal, Salsa tanpa menyapa Setyo berjalan masuk menuju kamar nya.
Setyo yang melihat Salsa, langsung mengejar Salsa dan menarik tangan Salsa dengan kuat, hingga Salsa kesakitan.
"Bagus! dari mana kamu? dari pagi pergi jam segini baru pulang!" omel Setyo.
Salsa yang benar-benar sedang merasa lelah, malas sekali menjawab pertanyaan dari Setyo, apalagi tadi Salsa melihat Setyo dan Rihana sedang berduaan.
__ADS_1
"Jawab!!" sentak Setyo.
Salsa menatap tajam ke arah Setyo *ternyata dia sudah menunjukan sifat aslinya* bathin Salsa.
"Urus saja kekasih kamu itu! jangan hiraukan aku!" balas Salsa yang sudah terpancing emosi.
Setyo tak terima ia menarik tangan Salsa kuat, masuk ke dalam kamar nya, Setyo mendorong Salsa ke atas tempat tidurnya dengan kasar.
Salsa menatap Setyo dengan pandangan benci, Setyo yang melihat kebencian di mata Salsa kepadanya, sedikit terkejut *apa yang di lakukan oleh nya sekarang, membuat Salsa membenci dirinya?*bathin Setyo
Setyo membuang perasaan tidak enak tersebut, Setyo naik ke atas tempat tidur.
Mendorong Salsa dan mencium bibir Salsa dengan penuh nafsu, Salsa berusaha menolak dan mendorong Setyo, tapi tenaga Salsa tidak cukup kuat untuk itu.
Setyo yang sudah terbakar amarah, menyerang Salsa secara brutal "kamu milikku! jadi jangan bermain api di belakang ku!" ucap Setyo.
"Maksud kamu apa!?" tanya Salsa bingung, saat Setyo melepaskan bibirnya.
"Seharian kamu pergi ke mana!?" bentak Setyo, melepaskan cengkraman nya.
"Ayah ku masuk rumah sakit!" jawab Salsa. Setyo menatap tak percaya.
"Seharian aku di rumah sakit! ayah mengalami pembengkakkan usus, mungkin karena terlalu banyak minum-minuman keras!" jelas Salsa.
Setyo terpaku berdiri di tempatnya, menatap Salsa yang menangis, Setyo jadi merasa amat bersalah.
Setyo keluar dari kamarnya, meninggalkan Salsa, sendirian. Setyo mengambil kunci mobilnya, dan pergi entah kemana.
Salsa yang masih menangis, keluar dari kamar Setyo dan berjalan ke arah kamarnya, Rihana membuka pintu kamarnya tepat saat Salsa hendak masuk ke kamar.
"Bagaimana rasanya?" tanya Rihana.
Salsa menatap tajam ke arah Rihana, Rihana tersenyum mengejek.
"Plakk!" satu tamparan keras tepat di pipi Rihana.
"Seperti itulah rasanya!!" jawab Salsa, kini giliran Salsa yang tersenyum mengejek Rihana.
"Hukuman bagi wanita penggoda suami orang!" lanjut Salsa sambil masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1