
Setyo bangun dari tidurnya, lalu berniat menjemput Salsa untuk pergi ke kantor bersama, tapi langkah Setyo tertahan oleh panggilan ibu nya.
"Mau kemana? pagi sekali!" sapa nyonya nur.
"Mau menjemput, Salsa!" jawab Setyo.
"Sudahlah, ada Danuarta yang mengurus dia" lanjut nyonya nur.
"Tapi dia, istriku!" protes Setyo.
"Hanya sementara, kita akan membuat dia menggugat cerai kamu, karena tidak memperhatikan dia, dengan begitu harta secara otomatis jatuh ke tangan kita"
Setyo terdiam mendengar, semua yang di ucapkan ibu nya, Setyo, kembali lagi ke kamarnya, dengan kesal, sedangkan nyonya nur tersenyum lebar.
Setyo menunggu kedatangan Salsa pagi itu, tapi Setyo terkejut, ketika melihat Salsa turun bukan dari mobil Danuarta, tapi "Juna" lirih Setyo, Setyo memperhatikan, bagaimana Juna membukakan pintu untuk Salsa.
*Bagaimana bisa Juna mengantar Salsa* bathin Setyo, Setyo mencegat jalan Salsa.
"Bagaimana kamu bisa, bersama Juna?" tanya Setyo.
"Juna tetangga kita" jawab Salsa.
"Bagaimana bisa?" tanya Setyo tak percaya. Salsa menghentikan langkahnya, lalu menatap Setyo tajam.
"ini yang ingin kamu bicarakan, kemarin!" potong Salsa.
Setyo menarik Salsa ke dalam pelukannya "ini yang ingin aku katakan dan lakukan dari kemarin!" bisik Setyo.
Salsa mendorong tubuh Setyo kasar, lalu melanjutkan langkahnya, Setyo mengejar Salsa.
"Dengarkan aku!" geram Setyo, saat mereka ada dalam satu ruangan.
"Apalagi yang harus aku, dengarkan!" sentak Salsa.
"Kamu tak bisa ke rumah, karena ibumu bukan!?" tanya Salsa, melihat Setyo terdiam
"Tidak usah dijawab juga, aku tahu!" potong Salsa.
"Lebih baik, kita sudahi saja pernikahan ini!" lanjut Salsa, Setyo menatap tajam ke arah Salsa, Setyo tak menyangka kata-kata itu akan keluar dengan mudahnya dari mulut Salsa.
"Bukankah ini, yang selalu kamu inginkan, sejak pertama pernikahan kita?" sentak Salsa lagi, Salsa selama ini bertahan melihat Setyo yang terlihat tulus pada nya selama ini, tapi melihat kegelisahan Setyo yang harus memilih antara dirinya atau ibunya, membuat Salsa mengambil keputusan untuk berpisah dengan Setyo.
"Apa maksud, kamu!?"
"Aku tahu kamu, menikahi ku karena kamu mengincar harta itu, bukan?" tanya Salsa, Setyo merasa jantungnya berhenti saat itu juga, mendengar ucapan Salsa *sejak kapan Salsa tahu hal ini* bathin Setyo, Setyo menundukan kepalanya dalam-dalam, Setyo merasa malu untuk melihat ke arah wajah Salsa. Setyo tidak tahu harus berkata apa lagi, saat ini, Setyo berjalan keluar ruangan Salsa dengan wajah sedih dan Malu nya.
Setyo masuk ke dalam ruangannya dengan wajah yang masih tertunduk. Tak lama Setyo keluar lagi "aku izin pulang! jika ada yang mencarimu!" pamit Setyo pada sekertaris nya.
Setyo tiba di rumah,langsung masuk ke dalam kamarnya, Setyo merasa tak ada lagi yang ingin dia kerjakan hari ini, semua terasa mimpi.
__ADS_1
Setyo mengambil handphonenya, lalu melihat foto-foto pernikahan yang selalu dia simpan, wajah Salsa yang cantik saat itu, langsung memikat hatinya, Setyo saat itu sebenarnya telah jatuh cinta pada Salsa, dia mencoba untuk tidak menghiraukan keinginan ibunya, tapi sekarang_setelah Setyo tahu, kalau Salsa tahu kalau dia bersekongkol dengan ibu nya, untuk merebut harta, Setyo merasa tak punya wajah lagi untuk memperjuangkan Salsa, untuk dirinya.
Nyonya nur, yang melihat kepulangan putranya sejak siang menjadi sedikit khawatir karena Setyo tak kunjung keluar lagi. Nyonya nur, mengetuk kamar Setyo pelan.
"Ada apa, Bu?" tanya Setyo
"Kita makan malam"
"Baiklah" Setyo mengikuti langkah ibunya dari belakang menuju ruang makan, Rihana dan Malika sudah ada di sana terlebih dahulu.
"Kamu terlihat lesu, apa lagi yang di lakukan pengamen itu padamu?" omel nyonya nur, melihat kesedihan di wajah Setyo.
"Jangan bicarakan dia, mah!" jawab Setyo.
"Dia pasti memarahi mu, dia tidak tahu kalau kamu sedang menjaga ibu mu yang sakit" potong Rihana.
"Diam kamu!" bentak Setyo pada Rihana. Rihana cemberut kesal,sikap Setyo selama ini masih saja sinis padanya.
"Jangan begitu, sayang! Rihana tidak bersalah padamu dalam hal ini!" ucap nyonya nur.
"Kapan kamu pulang?" tanya Setyo pada Rihana, tanpa menggubris perkataan dari ibunya barusan.
"Setyo!" bentak nyonya nur.
"Ibu, membela wanita itu! daripada putra ibu sendiri?" sela Setyo.
"Bukan begitu, tapi seharusnya kamu menghormati tamu kita!" omel nyonya nur.
"Dia orang asing! bukan istri kamu!" bentak nyonya nur.
"Dia memang orang asing mulai sekarang, karena dia telah meminta cerai padaku!" bentak Setyo kesal sambil pergi meninggalkan meja makan saat itu juga.
Nyonya nur, Rihana dan Malika terdiam, mereka tak ada yang bereaksi sedikit pun, setelah Setyo masuk ke kamarnya, mereka semua tertawa keras, merayakan keberhasilan mereka.
***
Salsa termenung sendirian di dalam kamar nya, memikirkan keputusan nya. Walau hati berat, karena sebenarnya Salsa ingin memperjuangkan Setyo, tapi bagaimana dengan Nyonya nur yang sakit.
"Siang!" sapa Mona, sambil membawa sesuatu di tangan nya.
Salsa yang sedang melamun, menyambut kedatangan Mona, dengan senyum lebar di wajahnya.
"Kenapa lagi ini, tetangga ku yang cantik! Wajahnya kusut sekali!" seru Mona, melihat Wajah Salsa yang di tekuk begitu dalam.
Salsa menggeleng lemah, lalu menceritakan tentang dirinya dan Setyo, yang akan berpisah, Mona memandang wajah sedih putri nya, yang cantik itu, lalu memeluk nya.
"Sudahlah! lupakan dia, bagaimana kalau sekarang kita minta Juna untuk mengantar kita berjalan-jalan ke Mall" usul Mona.
"Sekalian ajak, adik-adik kamu, kasian mereka di rumah terus" lanjut Mona.
__ADS_1
"Baiklah"
Mona begitu senang saat, bisa mengajak putra dan putri kecil nya berjalan keluar, wajahnya terlihat bersinar, Salsa pun demikian, walaupun sudah menjadi orang kaya, tapi Salsa belum menikmati waktu bersantai, dia sibuk belajar dan belajar, untuk menjadi wanita yang mandiri.
Juna merasa senang, bisa menemani Salsa berjalan-jalan, apalagi sekarang dia tahu cerita sebenarnya, tentang pernikahan Salsa.
Juna yang awalnya akan menyerah, mengurungkan niatnya, karena Juna baru merasa tertarik dengan wanita untuk pertama kalinya, hanya dengan Salsa.
Salsa yang cantik sekali dan juga sangat polos, berbeda dengan gadis yang dia kenal, sebelumnya.
Sedang asyik berjalan-jalan, Salsa terkejut bertemu dengan Nyonya nur dan rombongan di mall tersebut.
"Apa kabar, Bu?" sapa Salsa.
"Baik!" jawab nyonya nur cuek.
Rihana memandang ke arah Juna, yang berjalan di samping Salsa *siapa lelaki itu? tampan juga, sepertinya dia seorang pengusaha juga* bathin Rihana.
"Gadis pengamen ini, ternyata cukup beruntung, lepas dari Setyo dapat lebih dari Setyo" gumam Rihana.
Juna yang merasa di perhatikan oleh Rihana, memincingkan matanya ke arah Rihana, membuat Rihana jadi malu.
Malika yang tahu siapa Juna,melotot ke arah Salsa *bagaimana mungkin kakak iparnya ini, bisa dekat dengan pria seperti Juna yang terkenal sangat dingin, terhadap wanita!* bathin Malika.
Mona yang melihat, tatapan intimidasi dari nyonya nur, pada Salsa, menghampiri Salsa.
"Kamu baik-baik, saja?" tanya Mona.
"Maaf, nyonya tolong jangan halangi, jalan kami!" tegur Mona, dengan sinis! Nyonya nur dengan gaya angkuhnya, memberi jalan pada Salsa dan Juna.
"Siapa, pria tampan di samping, salsa?" tanya Rihana, pada Malika.
"Pria itu, anak dari partner perusahaan ayah!" jawab Malika.
"Dari mana Salsa, mengenal dia?"
"Mungkin karena Salsa adalah pemilik perusahaan, sekarang!" jawab Malika.
Nyonya nur dan rombongan, meneruskan aksi belanja mereka
"Maaf, kartu kredit ku ketinggalan! bisa sekalian tolong bayarkan belanjaan ku nanti, ku bayar di rumah!" ucap Rihana, nyonya nur dan Malika saling pandang.
"Sepertinya, kamu sering ketinggalan kartu kredit!" sindir Malika.
"Maaf!" ucap Rihana, pura-pura menyesal.
Setelah selesai berbelanja mereka pun akhirnya pulang, mereka berpapasan dengan Setyo, lalu mulai bergosip.
"tadi ibu bertemu salsa!" ucap nyonya nur, menghentikan langkah kaki Setyo.
__ADS_1
"Salsa bersama Juna" lanjut nyonya nur, yang mengenal siapa pria yang bersama Salsa di mall tadi.