
"Dia selalu berlagak polos dan juga benar" jawab Chika.
"Tunggu!" seru Chika tiba-tiba, Chika mengambil tissu yang ada di dekatnya lalu mengusap sisi bibir Burhan yang terlihat ada noda kopi di sana, dengan lembut Chika mengusap noda tersebut, membuat Burhan sedikit canggung bahkan kedua pasang mata mereka untuk beberapa saat lamanya saling bertemu, Burhan merasakan ada getaran-getaran aneh di sana.
Tak ingin terhanyut oleh perasaannya Burhan mengambil tisu dari Chika, lalu membersihkan noda itu oleh tangannya sendiri.
"Lain kali jangan pernah lakukan itu" ucap burhan sambil menatap tajam ke arah Chika.
"Aku hanya membantumu!" jawab Chika dengan cueknya.
Burhan terdiam.
Mereka akhirnya menghabiskan makan itu berdua, tanpa ada yang membuka suara lagi, bahkan sampai saat mereka harus berpisah Chika turun dari mobil Burhan begitu saja, tanpa menoleh lagi ke arah Burhan.
"Gadis kecil!" umpat Burhan.
Chika masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
"Dari mana?" tanya Salsa.
"Bukan urusan kamu!" bentak Chika.
Salsa menarik tangan Chika, rasanya saat ini kemarahan dalam dirinya pada Chika sudah tak terbendung.
"O_ bukan urusanku, setelah kamu mengambil alih tugasku mengantar adik-adik ke sekolah, dan dengan seenaknya kamu pergi meninggalkan mereka hingga mereka pulang sendiri!" seru Salsa.
Chika terdiam, dia tadi lupa menjemput lagi adik-adiknya ke sekolah. Chika menggunakan tangan Salsa yang sedang mencengkeramnya.
"Mereka sudah baik-baik saja, tak usah marah!"
Chika meninggalkan Salsa masuk ke dalam kamarnya.
Salsa mengerutkan keningnya
kemana tadi Chika pergi hingga melupakan adik-adiknya, walaupun Chika judes dan galak tapi dia sangat sayang dengan adiknya.
Salsa merasa banyak yang aneh terjadi pada diri Chika.
Chika masuk ke dalam kamarnya sambil membanting tas nya, semua orang hari ini sangat menyebalkan, Burhan dan Salsa sama saja, mereka semua menganggap dirinya tak berguna.
__ADS_1
"Burhan lain kali aku akan membuat kamu bertekuk lutut di hadapan ku"
"Dan kamu salsa aku pasti akan mengalahkan kamu, dan merebut semuanya dari kamu hingga kamu sengsara" umpat Chika dengan penuh rasa marah.
Burhan masuk ke dalam rumah di sambut oleh Mona, Mona hendak mencium pipi Burhan seperti biasanya ketika menyambut Burhan pulang dari bekerja, tapi Burhan menolaknya, membuat Mona agak sedih, memang sudah beberapa hari ini.
Mona sebenarnya ingin bertanya pada Burhan tapi tampang Burhan kelihatan sedang marah padanya, jadi Mona memutuskan untuk bertanya nanti jika Burhan sudah melunak.
"Ada apa?apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan padaku?" tanya Burhan tiba-tiba.
Mona terkejut dia menggeleng lemah, membuat Burhan menghela nafasnya "entah sampai kapan Mona akan menyembunyikan semua padanya, apa Mona mengharapkan dirinya tahu dari orang lain?" hati Burhan bertanya-tanya.
Burhan dengan kesal berjalan masuk ke dalam kamarnya, di dalam kamar dia melihat ke cermin, entah mengapa dia teringat kejadian tadi saat makan siang bersama Chika, tanpa sadar Burhan mengusap sisi bibirnya yang tadi di usap lembut oleh Chika, Burhan tersenyum, Burhan merasa hatinya seperti ada yang menggelitik.
"Jangan bilang kalau aku mulai menyukainya, dia cuma gadis kecil penggoda dirinya, entah apa yang di inginkan gadis itu padanya, tapi Burhan bisa melihat tatapan gadis itu padanya, terlihat penuh takjub.
Burhan sambil tersenyum pergi ke kamar mandi hendak membersihkan diri.
"Sepertinya kamu sedang bahagia!" seru Mona saat Burhan keluar dari kamar mandi dengan tersenyum kecil.
"Bukan urusan kamu!" sentak Burhan membuat Mona terhenyak, ini untuk pertama kalinya Burhan melakukannya, biasanya Burhan selalu lembut padanya.
Burhan menghentikan kegiatannya, lalu menatap Mona.
"Semua karena ulah kamu juga!"
Mona terdiam, memikirkan apa yang telah di lakukan olehnya, yang membuat Burhan marah.
"Aku melakukan apa?"tanya Mona kebingungan.
Burhan menoleh lagi ke arah Mona yang sekarang sedang berada di belakang nya.
"Kamu tidak melakukan apa-apa, tapi kamu telah menyembunyikan sesuatu dan berbohong padaku!"
Mata Mona melebar mendengar perkataan Burhan barusan. Mona berpikir sebentar, apa yang telah di sembunyikan olehnya pada Burhan hingga Burhan marah padanya, Mona mundur selangkah menjauhi Burhan "apa dia telah tahu masa laluku?" bathin Mona berteriak. Mona menatap tajam punggung Burhan yang memang sekarang ini Burhan dalam posisi membelakangi dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan?" bathin Mona.
Burhan melirik.ke arah cermin yang ada di sebelahnya untuk melihat ekspresi Mona saat ini.
__ADS_1
"Maafkan aku, selama kamu tidak menceritakan masa lalu mu padaku aku akan memperlakukan kamu dengan kasar!"
Mona keluar dari kamar tersebut dengan wajah bingung sekaligus sedih.
Mona berjalan ke arah kamar Thomas kecilnya, "apa nanti akupun harus meninggalkan kamu?" ucap Mona sambil melihat ke arah Thomas yang sedang tertidur nyenyak.
***
Keesokan harinya...
Burhan keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi seperti biasanya. Tapi apa yang dilakukan nya hari ini tidak seperti biasanya, dia pergi begitu saja, tanpa berpamitan pada Mona yang sedang ada di ruang makan sedang mempersiapkan sarapan.
Mona yang merasa Burhan tak kunjung terlihat, memutuskan untuk menjemput Burhan untuk sarapan, dengan senyum kecil di bibirnya.
Mona terkejut saat mendengar bunyi mobil Burhan sedang ada di gerbang hendak pergi.
Mona segera berlari ke arah pintu untuk melihatnya, wajah Mona seketika berubah sedih melihat kepergian Burhan tanpa pamit padanya.
"Apa dia begitu marah padaku?!" ucap Mona pelan.
Burhan yang tiba dirumah sakit langsung menuju ruangannya. Burhan menjatuhkan pantatnya pada kursi nya, lalu termenung, sebenarnya tadi ia melihat Mona yang berdiri di depan pintu, bahkan dirinya sempat melihat wajah sedih Mona melihat ke arahnya.
"Dia memang harus di hukum, karena kelakuannya yang buruk"
Burhan merasa harus menghukum Mona yang telah membohonginya, bisa-bisanya Mona menyembunyikan rahasia besar padanya, apa dia begitu takut aku meninggalkan dirinya, karena hal ini? tapi bagaimanapun juga dia seharusnya mengatakan semua itu padanya, hati Burhan terus meracau.
Burhan melihat handphone nya melihat jadwal yang ia punya hari ini, setiap hari seharusnya ia mempunyai janji dengan pasien, tapi hari ini terlihat kosong.
Burhan menyandarkan punggungnya, Burhan memejamkan matanya, bayangan seorang gadis lewat begitu saja membuat Burhan terpaksa membuka matanya.
"Chika" ucapnya pelan.
Chika yang sedang terditur terbangun mendengar namanya di panggil, tapi ketika membuka matanya Chika tak melihat siapa pun didalam kamarnya.
"Burhan, kenapa kamu begitu kasar padaku?" ucap Mona.
Mona mendengus kesal mengingat bagaimana sikap Burhan padanya kemarin saat mereka bertemu.
"Apa aku tak bisa mempunyai pria tampan yang menyanyangi aku, seperti Salsa"
__ADS_1
"Aku pasti mendapatkan kamu Burhan! Kamu pasti menjadi milikku!" janji Chika dalam hatinya.