
Burhan terpaku di tempatnya, memikirkan apa yang di katakan oleh Chika, apa benar istrinya sudah pernah menikah dan pergi meninggalkan mereka.
Tanpa pikir panjang Burhan segera pulang ke rumah untuk menyelidik.
Mona yang sedang bersama anak nya, terkejut melihat Burhan sudah pulang, Mona pun segera menyambut kedatangan nya, dengan memasang senyum yang lebar, seperti biasanya.
Burhan awalnya membalas senyuman Mona, tapi ketika ingat apa yang di katakan oleh Chika, senyum itu segera hilang dari bibirnya, dan itu terlihat aneh di mata Mona.
"Ada apa?"
"Hanya sedang tidak enak saja" bohong Burhan.
Burhan menghampiri putra nya yang masih kecil, ia menggendongnya, lalu mengajaknya bermain.
"Bagaimana bisa seorang ibu, meninggalkan anak-anaknya?" ucap Burhan tiba-tiba, menghentikan langkah Mona yang hendak membuat minuman untuk Burhan
*Apa maksud Burhan, berkata seperti itu? apa dia sudah mengetahui sesuatu?* bathin Mona.
"Mungkin karena terpaksa!" jawab Mona.
"Bagaimana pun alasan nya, seorang ibu tidak boleh meninggalkan anak-anaknya!" jawab Burhan dengan nada marah.
Mona terdiam, ia telah mengenal bagaimana sifat Burhan yang selalu memegang prinsip dalam hidupnya.
Mona meneruskan pergi ke dapur, untuk membuatkan minuman buat Burhan. Di dalam dapur, Mona menitikkan air matanya, Mona merasa sebentar lagi diapun harus berpisah dengan Burhan dan Thomas bayi kecilnya.
Mona segera kembali menemui Burhan setelah selesai membuatkan minuman untuk Burhan, Mona melihat Burhan masih bermain dengan Thomas, mereka terlihat bahagia, Mona meletakkan minuman di atas meja, dan segera mengambil Thomas dari tangan Burhan.
Burhan menatap Mona sebentar, lalu mengambil minuman yang telah Mona buat untuknya.
"Bagaimana menurut mu, soal yang tadi?" tanya Burhan.
"Soal yang mana?" tanya Mona.
"soal ibu yang meninggal anak-anaknya!"
Mona terdiam, lalu menatap ke arah Burhan lalu berkata "memang seharusnya tidak ada alasan apapun untuk seorang ibu meninggalkan anak-anaknya, jika itu memang terjadi pasti ibu itu, menyesal seumur hidupnya" jawab Mona.
Burhan menatap Mona, Burhan melihat ada sedikit gurat kesedihan terlihat di wajah Mona.
Burhan menarik nafasnya dalam-dalam, Burhan merasa bingung harus berbuat apa pada Mona jika itu benar-benar terjadi, dan Mona yang melakukan nya.
__ADS_1
Mona menoleh ke arah Burhan, melihat Burhan yang sedang kebingungan dan juga bersedih, Mona semakin yakin kalau Burhan tahu akan sesuatu, tentang dirinya dan itu membuat harus lebih cepat berbuat sesuatu untuk Restu yang sedang dalam penjara, karena ia bisa membuat Restu di rehabilitasi dengan koneksi dari Burhan.
"Ada anak temanku yang terkena kasus narkoba, bisakah kamu membantunya?" tanya Mona memberanikan diri.
"untuk membuatnya di rehabilitasi bukan di penjara!" lanjut Mona.
"Tergantung" jawab Burhan, menatap curiga pada Mona.
"Apa yang harus di lakukan agar, anak itu masuk rehabilitasi?" tanya Mona.
"Berapa umurnya?"
"sekitar 14 tahun"
"muda sekali" ucap Burhan, mendapat anggukan lemah dari Mona.
"mungkin karena salah pergaulan!" balas Mona.
"mungkin juga, aku akan meminta bantuan temanku untuk membantunya" jawab Burhan, mendengar itu Mona menahan diri untuk tidak bersorak senang, Mona tak ingin membuat Burhan makin mencurigai dirinya, Mona berharap keburukan nya, akan dapat di ketahui oleh Burhan setelah Restu masuk Rehabilitasi.
Mona mencoba untuk bertahan, untuk tidak menunjukkan ekspresi yang akan membuat Burhan curiga, Mona akan melakukan apapun agar Restu tidak masuk ke dalam penjara, karena ini salah satu cara dia, agar Restu memaafkan dirinya.
***
Danuarta sedikit mengkhawatirkan Salsa dan juga kandungan nya. Danuarta menatap iba pada Salsa, yang tak ada satupun orang dari keluarganya, yang mendukung Salsa di saat seperti ini, Salsa yang tertidur nyenyak terlihat sangat cantik membuat hati Danuarta sedikit berdesir dan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Danuarta meraba dadanya *apa dia benar-benar jatuh cinta pada Salsa? atau hanya sekedar kasian?* bathin Danuarta.
Salsa perlahan membuka matanya yang terasa berat, Salsa tersenyum saat melihat Danuarta sedang menatap ke arah nya.
Danuarta membalas senyum dari Salsa.
"Bagaimana keadaan, kamu?" tanya Danuarta.
"sedikit lebih baik" jawab Salsa.
"lain kali jika merasa lelah bicara lah, jangan diam saja" lanjut Danuarta. Salsa tersenyum mendengar perkataan dari Danuarta lalu mengangguk pelan, sebenarnya bukan faktor pekerjaan yang menyebabkan kondisi Salsa menurun tapi juga bathin, Salsa memikirkan Restu yang sedang dalam penjara dan juga sikap Chika yang banyak berubah, belum lagi masalah Setyo yang terus menggangu pikirannya, karena bagaimanapun Setyo adalah ayah dari anak yang sekarang sedang di dalam perutnya.
"Apa kata Dokter?" tanya Salsa.
"Apa bayiku baik-baik, saja?" tanya Salsa dengan cemas.
"Kamu hanya kelelahan, aku akan mengatur ulang jadwal kamu!" jawab Danuarta.
__ADS_1
"Terimakasih" ucap Salsa.
"Itu sudah menjadi tugasku sebagai meneger kamu"
Salsa mesti bersyukur karena masih bertemu dengan orang seperti Danuarta yang selalu mau membantunya, padahal mereka belum lama saling mengenal.
"Aku pasti sangat merepotkan kamu!" ucap Salsa.
"Sedikit, lain kali aku akan minta balasan dari jasa ku!" ancam Danuarta sambil tertawa lucu.
"Katakan saja jika sudah waktunya, aku membalas semua jasa mu ini!"
"Aku bercanda" ucap Danuarta, sambil tertawa lagi.
Mereka akhirnya tertawa bersama, Salsa merasa nyaman ada di dekat Danuarta karena dia tidak pernah menekan dirinya, bahkan Danuarta selalu memberinya saran.
Untuk tiga hari ke depan Salsa harus beristirahat sebentar, dan karena sekarang Salsa menjadi sorotan publik, Setiap gerak gerik nya, pasti di perhatikan, seperti saat ini, Salsa yang sedang terbaring di rumah sakit menjadi pemberitaan di berbagai media, yang akhirnya masuk ke telinga, Setyo yang mendengar berita bahwa Salsa masuk rumah sakit, menjadi sedikit khawatir, bagaimana pun Salsa masih menjadi istrinya, ingin rasanya pergi ke sana untuk menengoknya, tapi Setyo masih berpikir tentang kesehatan ibu nya pun masih merupakan tanggung jawabnya, Setyo menjadi termenung sendirian di kursi kerjanya.
"Tok, tok, tok!" suara pintu kantor di ketuk.
"Masuk!" jawab Setyo.
"Aku dengar Bu Salsa masuk rumah sakit, anda tidak menjenguk nya?" tanya sekertaris Setyo.
"Entahlah, aku takut dengan kondisi ibu!" jawab Setyo.
"Anda bisa menjenguk Bu Salsa secara diam-diam, lagi pula untuk saat ini, kurasa Bu Salsa tidak bisa di jenguk sembarangan orang, dua kan selebriti sekarang, bisa jadi gosip!" cerocos sekertaris Setyo, apa yang di katakan oleh sekertaris nya memang benar, dia bisa melihat keadaan Salsa dari jauh.
Setyo segera bangkit dari duduk nya dan pergi keluar dari kantornya, untuk menjenguk Salsa.
Tak lama setelah kepergian Setyo Rihana datang ke kantor Setyo, dengan gaya angkuh dan mewah nya. Sekertaris Setyo melirik sinis ke arah Rihana, yang tanpa permisi masuk ke ruangan Setyo.
Rihana tak lama keluar kembali, karena pasti tak bisa menemukan Setyo di dalam sana, Rihana menoleh ke arah meja sekertaris Setyo, lalu berkata.
"Di mana Pak Setyo?" tanya Rihana.
"Dia baru saja keluar!" jawab sekertaris Setyo.
"Kemana?" lanjut Rihana.
"Menjenguk Bu Salsa!" jawab sekertaris Setyo dengan jelas,membuat Rihana mendengus kesal.
__ADS_1
Rihana segera keluar dari kantor Setyo untuk menyusul Setyo pergi ke rumah sakit di mana Salsa berada.
"Aku harus memberi pelajaran, pada Salsa kali ini!" gerutu Rihana di dalam mobilnya.