Salsa

Salsa
bab 61.


__ADS_3

Setyo mengerutkan keningnya untuk kedua kalinya, Setyo tersenyum kecil, Setyo berpikir sepertinya ada orang yang ingin menghancurkan Rihana, dia akan menuruti permainan mereka, hingga tak usah bersusah payah mencari keburukan Rihana.


Setyo setelah menerima telepon tersebut menjadi enggan bekerja, Setyo memilih untuk pulang untuk mengabarkan hal ini.


Rihana yang sudah berada di kamar baru terkejut melihat Setyo yang sudah ada di rumah.


"Makan siang di rumah?" tanya Rihana lembut.


"Iya, pikiranku sedang kacau tadi ada orang asing yang menelepon mengatakan jika anak di dalam perut kamu bukan anakku"


Rihana langsung berhenti melangkah di samping Setyo, mendengar kabar ini, bagaimana mungkin orang itu berani menelepon Setyo.


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Rihana.


"Entahlah tidak jelas, dia bicara terburu-buru"


"Mungkin orang iseng!" ucap Rihana lalu menggandeng tangan Setyo mengantar Setyo ke ruang makan.


Di sana sudah duduk manis Nyonya Nur, Nyonya Nur menyambut kedatangan Setyo.


"Apa ada masalah hingga kamu pulang cepat?" tanya Nyonya Nur dengan nada penuh rasa khawatir.


"Tadi ada yang menelpon Setyo katanya bayi dalam kandungan ku bukan anaknya" jawab Rihana cepat sambil menatap tajam ke arah Nyonya Nur.


"Apa kamu yakin akan hal itu?" tanya Nyonya Nur dengan ekspresi wajah cemas pada Setyo tanpa memperdulikan tatapan Rihana padanya.


"Kamu baik-baik saja kan?" lanjut Nyonya Nur lagi.


"Iya ibu, jangan khawatir" jawab Setyo lalu duduk di kursi nya.


Rihana dengan telaten melayani Setyo makan, dai berharap Setyo melihat ketulusannya.


"Aku harap orang tersebut cuma membual, jika itu kenyataan pasti kamu akan terluka, sayang!" ucap Nyonya Nur sambil mengusap yang Setyo namun matanya ke arah Rihana yang sedang melayani Setyo.


"Tentu saja dia terluka ibu, bagaimana mungkin tidak terluka dia sangat mengharapkan anak ini, tapi ternyata anak orang lain, tentu saja dia akan sakit hati, tapi tenangnya sayang aku jamin anak ini adalah anak kandung kamu!" ucap Rihana panjang lebar, Setyo menggenggam tangan Rihana dan tersenyum lebar pada Rihana, Rihana langsung merasa hatinya berbunga-bunga dan berada di atas awan, sedangkan Nyonya Nur menatap nya sinis.

__ADS_1


"Seandainya jika dalam kandungan Rihana bukan anak kamu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Nyonya Nur.


Setyo terdiam, lalu menatap Rihana "apa ada kemungkinan dia bukan anakku?" tanya Setyo pada Rihana sambil memandang ke arah perut Rihana.


"Tentu saja tidak!!" jawab Rihana cepat.


"Kamu harus pastikan itu Rihana! aku tak ingin putraku terluka karena kamu!" ucap Nyonya Nur masih dengan nada sinis.


"Tenanglah ibu!" jawab Rihana lagi sambil memandang ke arah Nyonya Nur.


Setyo memperhatikan kedua wanita yang ada di sampingnya saat ini, Setyo merasa antara ibunya dan Rihana sedang saling menjatuhkan, biasanya mereka selalu kompak apalagi dulu saat Salsa masih tinggal di sini, mereka terlihat akrab, tapi sekarang terlihat seperti musuh.


Setyo langsung pergi ke kamarnya setelah selesai makan siang.


"Jangan antar aku, aku tak akan membiarkan kamu naik turun tangga bahaya buat bayi kita" pesan Setyo.


Rihana yang mendengar Setyo menyebut bayinya adalah bayi kita, merasa senang sekali, wajahnya langsung berubah gembira dan itu sangat tidak di sukai oleh nyonya Nur, Nyonya Nur merasa sedikit aneh dengan perubahan sikap putranya pada Rihana, kenapa Setyo menjadi agak lembut dengan Rihana belakang ini.


"Jangan senang dulu, begitu bayi itu keluar, saat itu juga kamu keluar dari rumah ini!" ucap Nyonya Nur.


Nyonya Nur mendengus kesal, mendengar itu, beraninya Rihana mengancam dirinya.


"Dia lupa status nya dalam rumah ini, walau dia berhasil menjadi istri Setyo tapi kedudukannya tetapi bawahku, jadi aku bisa mengusirnya kapan pun seperti aku mengusir Salsa pergi dari rumah ini" ucap Nyonya Nur sinis.


Setyo yang ada di dalam kamarnya merebahkan diri di atas tempat tidurnya, membuka handphonenya lalu melihat sebuah foto, Setyo tersenyum lebar melihat foto itu "aku rindu padamu" ucapnya lalu mencium foto itu perlahan.


"Aku yakin suatu saat kita akan bersama lagi bersabarlah, tunggu aku!" lanjut Setyo lagi.


***


Di malam hari dikediaman Setyo, di ruang makan, di mana semua orang berkumpul bunyi handphone Setyo berbunyi, membuat semua terkejut.


"Halo"


"Halo, apa anda masih ingin mengetahui siapa ayah dari bayi itu?" suara di telepon.

__ADS_1


"Tentu saja, katakan padaku siapa?" tanya Setyo perlahan.


"Apa anda yakin?" tanya penelepon itu lagi.


"Tentu saja!!" bentak Setyo.


membuat semua yang ada sana terkejut dan menatap ke arah Setyo.


"ada apa?" tanya Nyonya Nur.


"orang yang kemarin menelepon aku, menelepon kembali" ucap Setyo pelan.


Rihana yang mendengar itu menatap tajam ke arah Setyo penuh ketidakpercayaan, sebelum nya dia mengira jika yang menelepon Setyo adalah Nyonya Nur, tapi sekarang dugaannya terbukti salah, lalu siapa yang menelepon Setyo sekarang. Nyonya Nur dan Rihana saling bertatapan mereka sangat terkejut mengetahui hal ini.


"kapan kita bertemu?" ucap Setyo di telepon.


"baiklah, aku akan datang!" jawab Setyo menyudahi obrolan mereka dan menutup sambungan teleponnya.


"kapan kalian akan bertemu?" tanya Nyonya Nur.


"besok"


"di mana?" tanya Rihana, Setyo menyebut kan nama sebuah tempat di mana dirinya berjanji akan menemui penelepon itu, Rihana sangat penasaran dengan orang tersebut, setahu dirinya yang mengetahui tentang kehamilan dirinya hanya Nyonya Nur.


Setyo melihat ke arah Rihana, terlihat wajah Rihana sangat pucat, Setyo terlihat agak khawatir, berita ini akan mengganggu kehamilan nya.


"tenanglah, bagaimana pun aku lebih percaya padamu!" ucap Setyo, membuat Rihana sedikit lega, namun berbeda dengan ekspresi yang di tunjukan oleh Nyonya Nur, dia mendengus kesal.


"tapi bagaimana jika perkataan orang itu benar?" ucap Nyonya Nur.


"dia tak akan pernah punya bukti itu, karena ini adalah anak Setyo asli!" sentak Rihana cepat.


"jangan marah, aku cuma bicara jika dia punya bukti bagaimana?"


"tenanglah aku tak akan pernah mempercayai bukti apapun selain test DNA" potong Setyo cepat menghentikan perdebatan antara Rihana dan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2