
Dikediaman Atmaja terlihat kesibukan sedang berlangsung. Terlihat dari beberapa maid sibuk mondar mandir untuk menyiapkan makan malam untuk sang tuan rumah.
dari lantai atas terlihat Clara, Ratu sang rumah berjalan menuruni tangga menuju dapur.
"Bi ijah, makan malam sudah siap? "
"Sudah buk,"
"Ya sudah panggil, Suami saya dan anak saya ya bi"
"iya buk"
bi' ijah adalah orang kepercayaan keluarga atmaja.Dia sudah bekerja dikediaman atmaja belasan tahun. Bahkan mereka sudah menganggap bi' Ijah bagian dari mereka. Meskipun mereka orang terpandang, itu tidak membuat keluarga atmaja sombong.
mereka sangat menghormati orang lain.
Bi' ijah berlalu untuk memanggil tuan besar dan tuan muda nya. bi'ijah tiba didepan pintu sang putra mahkota rumah atmaja.
tok.. tok.. tok...
"Iya,,siapa?"
"ini saya Den, Bi' ijah"
"iya bentar bi'"
kriekk,,,,
"Ada apa bi'?,
"Ini den,, aden disuruh ibuk turun buat makan malam"
"Bi'kan aku dah bilang, jangan panggil aden, panggil nama aku aja,, kayak sama siapa aja deh.! " fendesta memutar mata nya malas, dia paling ngk suka jika orang terdekat nya memanggil dia Aden. terlebih Bi' ijah,, dia sudah menganggap bi'ijah seperti keluarga dia sendiri.
"iya den,, uupsss maksud saya nak fandesta"
__ADS_1
"Nah gitu dong,, bilangin sama mama aku akan turun,, aku lagi siap siap dulu" sambil tersenyum fandesta menutup pintu kamar nya, dia tersenyum puas karena bi ijah sudah tidak memanggil nya aden lagi.
sedangkan bi ijah pergi menuju sang kamar utama,
tok.. tok..tok..
"iya siapa? "
"ini saya bi ijah pak,, saya disuruh ibuk manggil bapak buat makan malam. "
"iya bi,, ini saya mau turun"
Huda sang raja bisnis,,bahkan hampir menguasai semua aspek bisnis di Asia. Dia sangat tegas, dan lembut bersamaan. Huda berjalan menuju meja makan menemui istri nya tercinta.
"Sayang"
huda memeluk leher Clara dari belakang, sedangkan Clara tersipu malu atas perlakuan suami nya. Sedangkan para Maid hanya tersenyum senyum melihat keromantisan tuan dan nyonya rumah ini.
"Apa sih sayang,, udah lepas,, aku malu" muka Clara memerah
pukkk.. Clara menepuk tangan suami nya dengan manja.
"Iiihhh apa an sih kamu sayang" muka Clara makin memerah.
dari arah tangga terlihat Fandesta yang geleng geleng melihat keromantisan mama dan papa nya.
"Dasar ngk tau tempat, ngk tau waktu, bermesraan jangan dimuka umum dong"
Fandesta menggerutu melihat kelakuan mama papa nya.
sedangkan kan Huda dan Clara tertawa melihat muka masam anak nya.
"maka nya cari pasangan, betah amat nge jomblo, tu muka dimanisin kalo dekat cewek, jangan kayak muka ice gitu, dingin. "
"Apaan sih pa, ngak jelas. Ma pa, aku izin keluar ya, buat bertemu sama Angga buat bahas pertemuan besok"
__ADS_1
Angga sekretaris sekaligus asisten pribadi Fandesta. Dia juga sahabat baik ifan.
"Hati hati sayang, nanti kalo pulang bawa sekalian angga kerumah. mama rindu sama dia, itu anak ngk rindu apa sama mama, ngk pernah kesini lagi" Clara sudah menganggap Angga seperti anak sendiri, begitu pun dengan Huda. mereka tidak pernah membedakan antara Angga dan Ifan.
"iya ma,,ya udah,, assalamualaikum ma, pa"
"Waalaikumsalam sayang, hati hati"
Ifan menyalimi mama dan papa nya lalu berlalu pergi.
"Sayang,, gimana kalo kita jodohkan saja ifan dengan anak relasi bisnis aku"
"tidak, aku tidak setuju sayang, awas saja kamu kalo sampai menjodohkan ifan, aku mau dia yang mencari jodoh nya dan atas kemauan dia, kalo sampai kamu menjodohkan ifan, aku marah dan ngk mau lagi berbicara dengan kamu. " Clara cemberut dan menatap tajam suami nya. Dia tidak habis fikir dengan jalan fikiran suaminya.
melihat tatapan tajam istri nya, Huda terdiam. meskipun dia penakhluk dunia bisnis, dia tetap lah Huda yang sayang istri dan tidak bisa membantah istri nya. katakan lah suami takut istri, tapi itulah kenyataan nya akibat cinta.
"Iya sayang,, ngk akan. aku kan cuma berpendapat. ngk usah natap aku kayak gitu"
Huda membujuk istri nya supaya tidak ngambek.
"Habis kamu sih"
"iya, iya, maaf"
cup..huda mencium clara dan memeluk nya.
"Ya sudah kita makan yuk, aku lapar sayang"
"Ya ampunn aku sampai lupa, kamu kan belum makan,, kamu sih ngajak debat, aku jadi lupa kan, yuk makan"
Huda hanya tersenyum melihat istrinya menggerutu. Itu lah sosok Clara, Wanita baik hati dan selalu mementingkan kebahagiaan orang lain dari pada kebahagiaan diri nya sendiri. meskipun dia nikah karena dijodohkan, tapi dia bersyukur. Clara adalah wanita satu satu nya yang pantas untuk ibu dari anak anak nya.
Bersambung>>
next chap👉
__ADS_1