
Setelah mandi, rasanyaaaa... aku ingin sekali tiduuurrrrr..
Kubaringkan badan ini di atas kasurku,
"Tenang, kasur, kau akan tetap kubawa walau aku pindah nanti" kutepuk kasur itu, dan berbaring dengan enaak sekali.
Saking enaknya tidur, aku sampai bermimpi.
Dimimpiku, aku berada di sebuah taman yang indah sekali. Semua berpakaian putih, anak kecil berlarian menarikku untuk ikut berlari. Taman bunga itu, berwarna warni. Semua tersenyum kepadaku. Jembatan gantung, jembatan itu seperti dihias dengan bunga yang saling terikat satu sama lain. Aku terpana. Seorang laki-laki berbaju putih, tersenyum kepadaku. Ia berada di sebrang jembatan itu. Pemandangannya lebih indah dari tempat aku berdiri. Tapi, sepertinya aku mengenalnya. Bang Romi, ia melambaikan tangannya, seolah mengajak aku untuk menghampirinya. Hatiku berkata, aku merindukannya. Sangat merindukannya. Benar-benar merindukannya. Air mataku turun tatkala melihatnya kembali. Kenapa dia di sana. Dia melambaikan tangannya lagi. Sepasang anak kecil menarik tanganku untuk melewati jembatan itu. Tapi, suara ayah memanggilku.
"Ayu, Ayu... kembali nak.. Sini nak. Jangan kesana"
Langkahku terhenti. Kulihat ayah dan ibuku tersenyum memanggilku, dan di seberang sana, bang Romi terus melambaikan tangannya dengan senyuman khasnya.
"Yu.. Ayu... Sini nak" panggil ayah.
Ku lihat lagi ke arah seberang, bang Romi tetap tersenyum melihatku.
Tiba-tiba, aku dibangunkan oleh suara ponselku. Keringat mengucur di keningku.
"Hallo" ucapku dengan suara berat.
"Kamu tidur? Udah makan belum?" tanya seseorang.
Aku jadi ingat bang Romi, yang selalu menanyakan apakah aku sudah makan apa belum. Dan sudah 2 tahun ini, aku masih selalu mengingat tentangnya.
"Hallo. Yu.." panggilnya lagi.
"Oh ya, maaf, aku belum kumpul nyawanya. Hehe. Aku belum makan. Kenapa?" tanyaku.
"Keluar sekarang."
"Kenapa?"
"Ya keluar saja, sekarang aku tunggu"
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Jangan banyak tanya, ikuti saja perintahku"
Aku turun dari tempat tidur, menguncir rambutku, dan keluar dari kamar kosan.
Toni sudah berdiri di samping mobilnya.
"Loh, kamu? Sama siapa?" tanyaku kaget, karena tangan sebelahnya kan sedang di gips.
"Ini makanmu" ia memberikan bungkusan berisi nasi beserta lauk pauk.
"Lah, kamu gak makan?"
"Kamu saja yang makan. Aku sudah kenyang"
"Memangnya kamu sudah makan?"
Toni menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu, kita makan saja di dalam" ajakku. Kemudian, dia menekan remote control mobilnya.
Aku mengajaknya untuk duduk di ruangan kamar kosanku yang tidak besar.
Aku merapikan tempat tidurku, dan handuk yang masih disisi kasurku.
Segera ku ambil piring dan sendok untuk kami.
"Silahkan makan" ucapku menyodorkan nasi yang sudah aku piringi.
Dia menggelengkan kepalanya.
Aku diam.
Akhirnya aku menyadari, tangan kanannya masih di gips.
Mau tidak mau, aku menyuapi Toni.
"Terima kasih," ucapnya.
__ADS_1
"Besok ke kantor, jemput aku ya" pintanya.
"Aku? Pake apa?" tanyaku.
"Makanya beli mobil"
"Hiss.. daripada mobil, aku mau beli rumah dulu."
"Rumah? Buat apa? Kan bisa tinggal di rumahku"
"Aneh.."
"Ya gak aneh lah. Daripada beli rumah, itung-itung nyewa kamar, di rumahku. Uangnya bisa dibeliin mobil"
"Aneh"
"Aneh aja terus. Pikirkan saja dulu. Lagian tempat ini terlalu jauh dari kantor."
"Di sini kan aman. Lagian aku di sini dari jaman kuliah"
"Aman, atau terjebak nostalgia?" pertanyaan yang membuat aku tersedak. Dari mana dia tau?
Dia memukul pundak ku pelan.
"Biasa aja kali."
Aku terdiam.
"Kan orangnya udah gak ada lagi. Ya pindah aja. Kan bisa"
Aku diam. Air mataku tiba-tiba keluar, aku cepat-cepat menghapusnya.
"Masih nunggu dia? Sampe kapan? Jangan menutup diri seperti ini"
Aku mengeluarkan air mata itu lagi, sialan.
Tidak, sosoknya tidak akan ada yang menggantikan. Dan tak akan terganti. Dia orang yang pertama membuat aku merasakan cinta.
__ADS_1
## Sudah sampai di episode ke 11. Terima kasih sudah mau membaca novelku lagi. Jangan lupa like, komentar, dan vote kalian ya.. 😍😍😍