Sebatas Angan

Sebatas Angan
Kedatangan mama


__ADS_3

"Mama" Toni terkejut, mamanya sudah ada di depan rumah.


"Wah, motor baru? Siapa yang beli motor?" tanya mama dengan suara agak meninggi.


"A.."belum sempat aku melanjutkan, tiba-tiba Toni menyela.


"Aku yang beli, ma." Toni memegang tanganku.


"Buka pintunya," pinta Toni lembut.


Aku cepat-cepat membuka pintu rumah,


"Masuk, ma" ucapku serba salah.


"Untuk apa beli motor? Apakah kamu ingin menyerahkan nyawamu juga? Apa kamu tidak lihat nasib abangmu? Mama tidak setuju kalau kamu punya motor. Apalagi nanti kalau papa lihat. Stop, nak." Mama menangis.


Aku harus apa? Itu aku yang beli.


"Ma" aku mendekati mertuaku itu


"Mama sudah kehilangan Romi. Mama tidak mau kehilangan anak mama lagi" mama terus menangis.


"Ma, sebenarnya.."


"Yu, ini diletakkan di sini ya" Toni memberi kode kepadaku, agar aku mendekatinya.


Dan aku pergi menujunya.


"Ton.." ucapku memegang lengan Toni.


Toni menepuk tanganku.


"Sudah. Biar aku yang urus."


Toni mendekati mamanya.


Aku hanya mendengarkan pembicaraan itu.


"Maaf, ma. Bukannya Toni ingin membuat Mama menangis, tapi, Toni tidak ingin Ayu pingsan seperti waktu itu, dia jalan kaki ke depan komplek. Motor ini hanya pelengkap saja, ma. Tidak dipakai untuk perjalanan jauh. Toni janji" ucapnya berbohong

__ADS_1


Dia berbohong, kenapa tidak bilang saja, kalau aku yang beli motor tanpa persetujuannya.


Mama melirik ke arah Toni.


"Baiklah, kamu tau kan, mama takut kehilangan lagi. Mama bisa gila kalau kalian meninggalkan mama seperti kejadian itu lagi"


Toni tersenyum padaku, dan memeluk mamanya.


Aku hanya melihat kemesraan anak dan mama itu,


"Mama pulang, ya. Mama hanya ingin melihat kalian saja." ucapnya kemudian mama pulang diantar Toni.


Sayur dan bumbu sudah aku tata rapi di dalam kulkas. Telur pun sudah tersusun dengan rapi. Ayam dan ikan, sudah menantimu untuk dibereskan.


Setelah ikan aku bumbui, aku masukkan ke dalam wadah. "Aah.. tinggal si ayam" ucapku pelan sambil membersihkan ayam.


Toni meletakkan dagunya di pundakku.


"Ngapain?" tanyanya pelan.


Ih.. kenapa jantungku selalu berdetak kencang saat kami kontak fisik.


"Sana, aku lagi pegang pisau" usirku mengalihkan perasaan yang sedang bermain di dalam hatiku.


Aku menggeleng.


"Masak apa kita?" tanyanya.


"Entah.. kamu mau makan apa?"


"Apa saja yang kamu masak, pasti aku makan."


"Baiklah. Tapi lepaskan tangannya, gimana aku bisa kerja kalau begini?" rasanya panas pipiku, menahan malu.


Toni tersenyum, mengelus kepalaku dan berdiri di depanku.


"Kenapa mukanya merah?" godanya.


"Toniiii... pergi sana" dorongku.

__ADS_1


Toni tertawa dan berlalu dari penglihatan ku.


Yang terpikir saat itu adalah balado ayam dan tumis kangkung. Hanya itu yang aku bisa.


Aku sibuk sendiri di dapur itu, Toni hanya memperhatikan gerak gerikku.


"Selesai" ucapku mencuci tanganku.


"Mau makan sekarang, gak Ton?"


Dia hanya diam, aku meliriknya.


"Kok tidur di sini?" gumamku, sambil mengambil bantal dan meletakkan di kepalanya.


Kulihat dia, lelaki yang akan menghabiskan waktunya denganku.


Apa aku sudah mencintainya?


Aah.. aku menggeleng kepala, dan bangun dari sofa itu.


Setelah aku mandi, aku masih melihat dia tidur di sana.


"Ton, kenapa belum makan juga, nanti masakannya dingin." ucapku duduk di depan tubuhnya, dan membangunkannya.


Tangannya memegang sebelah tanganku.


"Aku lapar" suaranya berat.


"Salah siapa tidur di sini. Aku udah selesai masak dari tadi. Ayo bangun." aku menarik tangannya.


"Maafin aku ya" ucapku di sela makan siang kami.


Toni melirik melihatku.


"Kamu dimarah mama tadi"


Toni tersenyum.


"Masakannya enak ya.. Bisa-bisa aku gendut kalau begini" ucapnya mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Ton..."


"iya, tadi mama marah padaku. Tapi ya sudahlah. Dari pada mama membencimu, lebih baik mama membenciku, mama tidak akan lama marah." ucapnya sambil meneruskan makannya.


__ADS_2