Sebatas Angan

Sebatas Angan
Maaf


__ADS_3

Aku yang masih kesal dengan kejadian tadi, melangkah masuk ke dalam kantor.


Ku lihat, Toni sudah ada di meja Ina. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu hal yang penting. Tapi ketika melihatku, Toni langsung buang muka, dan berlalu.


"Lama amat keluarnya" Ina melirikku.


"Ada yang harus aku selesaikan. Ngapain bos kesini. Biasanya juga, kita dipanggil ke ruangannya."


"Hanya bertanya yang tidak penting. Tapi, tadi dia melihat ke mejamu. Itu saja dia baru kok ke sini, tapi melihatmu, dia langsung kembali ke ruangannya. Kalian bertengkar ya. Apa benar, gosip di kantor ini?" tanya Ina.


"Gosip apaan sih" ucapku sambil membuka laptopku.


Ina mendekatiku.


"Kalian udah jadian ya? Kok kamu gak cerita sih"


"Apaaaaa???" teriakku, yang membuat sekelilingku memandangku.


Ina menutup mulutku,


"stt. jangan kaget gitu"


"Kenapa teriak-teriak" Toni keluar dari ruangannya.


"Tidak, pak. Maaf, pak" ucap Ina.


"hiss kamu ini." Ina kembali duduk.

__ADS_1


"Gosip gila. Jangan pedulikan" ucapku


"Tapi hampir seluruh kantor tahu, kalau kalian punya hubungan" bahasnya lagi.


"Aku tidak mau membahas ini. Pusing kalau dengar nama dia, sudah. lanjutkan tugasmu lagi, sana"


"Kau yang merawat pak Toni saat sakit kan?" tanya Ina lagi


"Ya, kenapa memangnya"


"Ya sudah, dasar jutek" ucap Ina kembali duduk ke kursinya.


Jam pulang kerja sudah tiba, aku cepat-cepat merapikan mejaku, dan keluar dari tempat itu.


Di halte bis, aku hanya sendiri menunggu bis. Tiba-tiba, hari sangat mendung, Tidak, bisa-bisa aku kebasahan kalau seperti ini, mau kembali ke kantor, rasanya tidak mungkin. Aah.. sudahlah, aku pasrah saja. Bis yang menuju arah kosan kenapa tidak ada. Hm.. hari ini, kenapa begitu menyebalkan. Siapa yang aku mintain tolong kalau begini, keluarga jauh, saudara tidak punya, pacar entah kemana. Dan aku,.. Aku hanya berdiri menyenderkan tubuhku di pinggir, air hujan semakin deras. Dinginnya udara membuat aku menjadi bersin-bersin. Ku lepas sepatuku, dan kupeluk. Badanku semakin dingin.


Aku merasa dipayungi.


Dia menarik tanganku, dan menyuruhku masuk ke dalam mobil.


Dilepaskan jas yang sedang dipakainya, dan dia memakaikan ke tubuhku yang mulai membeku. Tidak ada kata yang keluar dari mulut kami, hanya suara bersin saja yang keluar dari mulutku. Aku sangat menggigil.


Tuhan, kenapa dingin sekali. Mataku memanas.


Dia menggendongku, masuk ke dalam rumahnya. Aku yang merasa lemas, hanya diam.


Ia mengeluarkan kemeja panjang miliknya dan handuk bersih.

__ADS_1


"keringkan tubuhmu" ucapnya sambil keluar kamar.


Aku melepas semua pakaianku, dan menggantinya dengan milik Toni.


Aku duduk di atas tempat tidur yang hangat itu. Menekuk kaki, merasa sangat tidak sehat.


"Hatchi. Hatchi"


Toni kembali dengan segelas teh hangat,


"Minum dulu. Akan mengurangi dinginnya."


"Kenapa aku dibawa kesini?" ucapku sambil menyeruput teh panas itu.


"Lalu, aku harus mengantarmu dalam keadaan basah kuyup, dengan jarak rumahmu yang sangat jauh itu?" ucapnya keras.


Aku yang terkejut, langsung menangis.


"Maaf, maafkan aku, Yu" Dia memelukku.


Aku tetap menangis. Entah tangisan itu mengeluarkan rasa kesalku, atau rasa sedihku, atau apa itu, rasanya campur aduk.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan soal tadi siang juga. Aku..."


Kulepas pelukan itu,


Tapi dia menenggelamkan kepalaku di dadanya lagi.

__ADS_1


"Tidak, Ayu. Sebelum kau memaafkan aku, aku tidak akan melepaskanmu" ucapnya sambil memelukku dengan erat.


Hangat, tubuhnya hangat. Aku memerlukan itu, badanku masih beku.


__ADS_2