
"Yu, aku pergi ke rumah sakit, aku tidak mau mengganggumu yang sedang sibuk. Kalau sesuatu yang penting, aku tau kamu pasti bisa menghandle semua" Pesan itu dikirim, pukul 08.30 wib.
Dan bunyi telepon tadi, itu dari Toni.
Salah siapa, menelpon di jam sibuk. Tapi ternyata dia mau minta antar ke rumah sakit.
Ahh. sudahlah. Terserah dia. Lagian apa peduliku. Ku lanjutkan pekerjaan sampai waktu menunjukkan pukul 17.00 wib.
"Udah, Yu. Kita pulang dulu. Apa mau minep di sini?" tanya Ina.
Kantor itu mulai sepi, hanya tinggal aku, Ina dan OB yang mulai bersih-bersih.
"Sebentar lagi, tanggung, na. Duluan deh" ucapku yang masih asik.
Azan Maghrib telah berkumandang.
Dan aku tersadar, kantor itu sudah menghidupkan lampu-lampu.
Ku lihat, pak Yus, duduk sambil memainkan ponselnya.
"Waduh, pak. Maafkan saya, pak. Bapak sampai belum pulang"
"Gapapa, mbak. Pak Toni juga masih di ruangannya."
Apa? Toni kembali ke kantor? Kapan dia lewat? Kenapa dia tidak pulang? Oh ya, aku baru ingat, Kunci mobilnya kan ada di dalam tasku. Aku segera merapikan lembaran-lembaran kertas Yang ada di mejaku. Dan segera menuju ruang Toni yang terletak di ujung ruangan kantor itu. Niatku ingin mengembalikan kunci itu, dan terserah bagaimana cara dia pulang. Ku buka pintu ruangan itu dengan kasar. Toh tidak ada yang melihat juga. Tapi, aku melihat sosok itu sedang bersujud di atas sajadahnya. Aku terdiam. Seorang lelaki yang angkuh itu, sedang berada di atas sajadahnya? Aku hanya mematung. Tak bergerak.
Akhirnya ia bangun dan melipat sajadahnya.
__ADS_1
Ia melirik ke arahku.
"Kamu sudah selesai kerjanya? Udah sholat belum?"
Aku menggeleng. "Sholat dulu sana, baru kita pulang"
Dan aku mengikuti ucapannya. Emosi yang tadinya meluap-luap, tiba-tiba terhenti, setelah air wudhu itu membasuhi mukaku.
Setelah sholat, aku melihat ia berdiri di depan mushola kantor, sambil memegang tasku.
Ku lepaskan mukena yang ku pakai, dan menyusunnya kembali.
"Ayo, kita pulang" ajaknya yang dengan nada suara yang pelan, tidak seperti tadi pagi.
"Kunci mobilnya mana?" tanyanya.
"Kenapa tidak kamu ambil saja di dalam tasku?"
"Ini kuncinya. Kamu sudah bisa mengendarai mobil sendiri?" tanyaku.
"Akan kucoba, walau tadi dokter bilang, jangan banyak bergerak dulu"
"Oh. Ya sudah kalau begitu, aku pulang ya." ucapku
"Biar aku antar. Ini sudah malam. Kamu tidak boleh pulang sendirian"
Hm. tumben bahasanya bagus seperti ini.
__ADS_1
Akhirnya aku naik ke dalam mobil itu lagi.
Sesekali aku mendengar ringisan dari mulutnya.
Apakah masih sakit? Tadi kan dokter bilang, kalau dia tidak boleh banyak gerak, sedangkan menyetir, harus banyak bermain tangan.
"Pinggirkan mobilnya"
Dan ia menuruti perintahku. Aku segera turun, dan mengetuk kaca jendelanya.
"Turun, biar aku saja yang bawa" ucapku.
Ia tetap mengikuti perintahku, sambil tersenyum dan menyentuh kepalaku.
Ku tepis tangannya itu.
"Tadi buburnya, enak?" tanyanya.
Kok dia tau, jangan-jangan bubur itu berasal dari pesanannya
"Ya, aku yang pesan, aku gak mau kamu sakit." ucapnya.
Aku menelan ludah saat dia berkata seperti itu.
"Pekerjaan menantimu." lanjutnya, yang membuat aku langsung menegakkan kepalaku lagi.
"Antarkan aku pulang lagi ya. Nanti kamu bawa saja mobil ini. Besok aku akan minta jemput sopir kantor saja, agar tidak merepotkanmu harus berangkat subuh-subuh"
__ADS_1
Aku rasa, otaknya habis di cuci, sehingga bicaranya jadi seperti itu.
**hai hai hai.. Bahagia rasanya, saat karyaku diterima kembali. Terima kasih yang tetap setia dengan karya-karya Keke. 😍😍