
"Ayo kembali ke kantor." ucap Toni tegas.
"Kami pamit dulu ya Yu. Semoga lekas sembuh ya." ucap Toni berpura-pura tidak tau apa-apa.
"Terima kasih, bos. Maaf kalau saya terlalu banyak izinnya" ucapku bersandiwara.
"Yu, gimana keadaanmu?" Aca menelponku
"Sore ini aku boleh pulang"
"Langsung ke rumah Toni?"
"Ya gak lah, aku akan pulang ke kosan. Tempat tinggalku kan di kosan." ucapku sambil melihat kapan habisnya cairan infusan itu.
"Kamu ini, Ya sudah kalau begitu, aku sudah pulang, dan menunggu di kosan" Aca mematikan ponselnya.
Obat terakhir sudah aku telan. Dan aku bersiap untuk pulang ke kosanku. Tempat tidurku. Bantalku, aku merindukan mereka. Walau tidak sebagus di rumah sakit ini, tapi bantalku itu sangat berbeda. Magic di dalamnya yang tau bagaimana aku bermimpi.
Toni sudah menyelesaikan administrasi.
"Kamu kuat jalan?" tanyanya.
Aku mengangguk pelan. Kenapa lepas infus aku jadi lemah begini. Padahal tadi aku sudah merasa sehat. Toni menarik tanganku, dan melingkarkan ke tangannya.
"Kita pulang ke rumah kita" ucapnya ketika sudah sampai di dalam mobil.
"Tidak, aku akan pulang ke kosan"
"Tapi, mama.."
"Aku mau pulang ke kosan, please"
__ADS_1
"Tapi, kamu..."
"Aku mau pulang ke kosan" rengekku.
"Mama sudah menunggu kita di rumah. Apa yang harus aku katakan kalau aku pulang sendiri tanpa membawamu"
"Aku belum siap, Ton. Lagian peralatanku kan masih di kosan semua"
"Peralatanmu? Barang-barang itu sudah aku minta, Aca merapikan semua. Dan mungkin, sudah dibawa ke rumah."
"Apa?" teriakku.
"Tadi Aca tidak bilang apa-apa" gumamku.
"Tapi, antarkan aku dulu ke kosan." pintaku lagi.
"Baik, nyonya. Asalkan nanti nyonya pulang ke rumah. Aku tidak bisa jawab apa-apa, kalau mama bertanya, kemana istriku"
Sampai di kosan, aku turun, tapi karena badanku masih lemah, sesekali aku berhenti.
"Kamu bandel. Dibilang langsung istirahat dulu" Toni memapahku masuk ke dalam kosan.
Dan ternyata benar. Kasurku, bantalku, pakaian ku, buku-buku, semua, sudah tidak ada lagi. Aku lemas. Apalagi alasanku untuk menghindarinya.
"Barangnya tadi sudah dipindahkan" ucap Aca tersenyum lebar.
"Lagian, aku mau cerita ke kamu, Yu. Aku, bakal mutasi ke daerah. Aku juga akan meninggalkan kosan ini. Minggu depan aku sudah harus berada di sana."
"Jadi.. Aca... Aku sendirian?"
"Yu, kamu punya keluarga baru. Lihat orang yang duduk di depan itu, dia. Dia suamimu."
__ADS_1
"Tapi aku tidak cinta dia"
"Belajarlah mencintainya. Lupakan masa lalumu. Kamu akan bahagia dengannya. Dia orang baik. Aku tau semua. Nanti saatnya kamu akan mengerti, jalan ini sudah takdir kalian. Pergilah. Kasihan dia. Mertuamu pasti sudah menunggu kalian."
"Tapi, berjanjilah, sebelum kepergianmu, kamu harus memberitahu aku dulu. Aku tidak mau ditinggal lagi oleh orang yang aku sayangi. Janji" ucapku memeluk Aca.
"Aku janji. Pergilah. Jangan nanti kamu menyesali semuanya. Lihat dia, dia bukan orang jelek, dia tampan, punya kedudukan, apa kurangnya dia"
Aku diam.
"Tapi aku tidak mencintainya"
"Belum. Tapi kamu akan belajar mencintainya, berjanjilah."
Aku tidak menjawabnya.
Toni sudah gelisah, berkali aku mendengar bunyi ponselnya berdering, tapi dia hanya melihatnya. Ia hanya bangun dan menendang batuan yang ada di depannya.
Aca mengantarkanku ke hadapan Toni. Aku menangis memeluknya. Kami saling berpelukan dan menangis.
Aca mengusap air mataku, dan tersenyum.
"Sudah. Jangan menangis. Persahabatan kita tidak akan putus sampai di sini. Ton, jaga Ayu baik-baik . Dia sudah seperti adikku sendiri. Jangan kau sakiti hatinya." pesan itu membuat aku makin memeluk Aca.
Kami keluar dari pagar kosan itu.
Aku melihat kosan bekas bang Romi tempati.
"Maafkan aku, bang"
Berat rasanya, aku harus berpisah dengan kenangan tempat ini. Hanya air mata ini yang bisa mengartikan semua.
__ADS_1