Sebatas Angan

Sebatas Angan
Maraton


__ADS_3

Azan telah berkumandang, seperti biasa, subuh itu selalu Toni yang duluan bangun, dan ketika membuka mata, dia sedang berada di atas sajadahnya.


"Sudah bangun?" tanyanya ketika aku duduk di pinggir tempat tidur itu.


Aku mengangguk dan merapikan rambutku.


"Mau ikut sholat bareng?" tanyanya.


Aku mengangguk dan pergi ke kamar mandi.


Untuk pertama kalinya, kami bersama, imam dan makmum. Dan untuk pertama kalinya, hatiku tenang mendengar lantunan ayat suci yang dibacakannya.


Setelah selesai, aku mencium punggung tangannya, dia mencium keningku, dan memelukku.


Ada perasaan aneh yang datang kembali.


Ya, aku tidak tau apa itu.


"Kita maraton ya. Nanti sekalian kita belanja. Oke. Aku mau mencoba motor barumu" ucapnya sambil melipat sajadah dan meletakkan kopiahnya.


"bersiaplah, aku akan menunggu di depan."


Aku tersenyum dan mengikuti permintaannya. Sudah lama aku tidak maraton, sejak kepergian bang Romi yang kini sudah aku temukan teka-teki hilangnya dia. Walau sesak nafasku mengingat dia, aku mencoba ikhlas. Walau cintaku hanya sebatas angan untuknya, tapi akan aku tanam cinta itu di dalam hatiku yang paling dalam. Dan akan aku lanjutkan cintanya yang ada di diri Toni.


Aku menghapus air mataku.


Aku tidak dapat melanjutkan cintaku dengannya.

__ADS_1


"Yu.. sudah selesai?" tanyanya.


Cepat-cepat aku cuci mukaku, entah kenapa aku tidak ingin Toni melihat sisa kesedihan ku.


Aku keluar dari kamar dengan senyuman.


Lelaki itu sudah memakai pakaian olah raga, tampan. Kata itu yang pertama keluar saat aku melihatnya pagi itu.


"Topimu" Toni memasangkan topi itu dan merapikan rambutku.


Aku merasa pernah melakukan hal ini dengan almarhum bang Romi.


"Ayo," lalu Toni menarik tanganku dan keluar dari rumah. Motor sudah dikeluarkan dari garasi.


Toni memasangkan helm di kepalaku.


"Maaf, tapi biarkan aku menangis sebentar saja" ucapku meneteskan air mata.


Toni tidak banyak bicara, dia memberikan dadanya untuk tempat aku menangis.


"Sudah, Yu. Nanti kata tetangga, kita berantem lagi" ucapnya menggodaku, dan aku tersenyum.


Aku naik motor itu, dan Toni meletakkan kedua tanganku di dadanya yang datar.


Lapangan itu, sepertinya aku pernah ke sini untuk maraton, ku lihat sekelilingku, walau sudah hampir 3 tahun, aku ingat tempat ini, aku kesini selalu dengan bang Romi. Dan ternyata lapangan ini dekat dengan rumah keluarganya.


Kakiku melangkah mengikuti panjangnya lintasan maraton ini. Dan sepanjang itu juga, Toni tidak melepaskan genggaman tanganku.

__ADS_1


Lelahku bukan karena berlari, tapi kenangan itu seketika keluar dari ingatanku yang membuat aku sesak.


"Ton, bisa kita keluar dari sini. Aku tidak kuat lagi" tanpa izinnya, aku berlari putar balik dan keluar dari lapangan itu menuju motorku.


"Are you Ok?" tanyanya sambil mengelap keringatnya.


"No" jawabku singkat.


"Kenapa, kita ke sana yok, sambil beli minum" ajaknya sambil menggandeng tanganku.


"Duduklah" ucapnya lembut.


"Ceritakan padaku, apa yang terjadi"


Tidak.. aku tidak akan menceritakan kepadanya. Aku tidak ingin membuat ia kecewa.


Aku menggelengkan kepala.


Mencoba menata hatiku.


"Aku tau, pasti karena almarhum abangku, kan?"


Aku terdiam. Dia, dia tau.


"Aku tidak berharap kamu melupakannya, tapi aku minta, ikhlaskan dia. Mungkin kalau dia bukan abangku, aku akan sangat cemburu besar pada laki-laki itu. Tapi, ini, dia adalah abangku sendiri. Aku tidak bisa egois dan melarangmu untuk menangis. Tapi bisakah kau simpan tangisan itu hanya untukku." dia terus menggenggam tanganku.


Ku lihat mata coklatnya,

__ADS_1


Apakah aku bisa mencintainya?


__ADS_2