
"Kenapa kamu mengakui itu kesalahanmu?"
"Terus, aku harus bilang kalau itu adalah idemu? Apa yang sebenarnya ada di benakmu? Kamu ingin kita ada masalah karena ini?" suaranya membuat aku takut.
Aku seperti disambar petir. Toni berbicara dengan nada tinggi. Diam dan air mataku keluar sedikit demi sedikit.
Aku melangkah ke dapur, dan merapikan semua, sesekali aku menyeka air mataku, dan saat selesai, aku masuk ke kamar dan menutup diriku dengan selimut.
"Yu, maaf." ucapnya duduk di pinggir tempat tidur itu.
Aku tetap diam dan menangis, dan memeluk gulingku.
"Aku tidak sengaja. Dari awal aku tau kamu beli motor, aku sudah tau akan terjadi seperti ini. Aku hanya tidak mau kamu kena masalah ini. Orang tuaku anti denga motor, karena membuat mereka mengingat almarhum. Tolong pahami aku. Aku akan mencoba memberi pengertian kepada orang tuaku. Jangan marah lagi. Jangan nangis. Aku gak mau lihat kamu menangis." Toni membaringkan tubuhnya, dan memelukku dari belakang.
"maafkan aku" ucapnya lagi.
Aku mengangguk pelan.
"Tapi jangan bicara dengan nada tinggi lagi, aku takut"
Toni membalikan tubuhku, dan memelukku.
"Ya, aku berusaha tidak melakukannya lagi."
"Kamu tidak sholat?" tanya Toni
Aku menggeleng.
"Baru dapet" ucapku
__ADS_1
Toni tersenyum.
"Ya sudah, istirahatlah. Aku mau sholat dulu"
Begitulah Toni. Dia tidak meninggalkan kewajibannya. Dan aku bersyukur sekali, saat ini, dia yang mengisi hari-hari ini.
Sore harinya, Kami mengunjungi mama dan papa. Toni menginginkan sebuah pesta untuk pernikahan kami. Aku terkejut.
"Tapi, kita kan belum ada surat nikahnya." ucapku pelan.
"Kita urus Senin besok, OK" ajaknya.
"Tapi, izinkan aku ke pemakaman bang Romi"pintaku.
"Aku ingin meminta restu padanya, walau hanya memandang nisannya"
"Tapi bagaimana pekerjaan kita? Kan tidak boleh sekantor?" tanyaku.
"Pa.." panggil Toni.
"Ayu bisa menghandle proyek, kan?" papa tidak banyak bicara
"Tapi, pa.. Ayu kan perempuan" Toni protes keras
"Kenapa dengan perempuan?" Papa bersuara dengan nada keras.
"Kalau dia susah, sudah. Di rumah saja. Cukup kamu yang keluar rumah" Papa kemudian masuk ke kamarnya.
Aku menahan Toni.
__ADS_1
"Kalian pulang dulu, nanti mama yang bicara ke papa."
"Ya, ma. Terima kasih, ma. Ayo, kita pulang" kali ini, aku menggenggam tangannya, yang menahan emosi. Ku pegang dadanya. Toni menatapku. Dan kami berlalu dari rumah keluarga Toni.
"Kamu gapapa?" tanya Toni.
Aku menyeka air mata yang mampir di pelupuk mataku. Aku ingat ayah. Ayah hampir tidak pernah membentakku. Dan dia yang selalu tau bagaimana aku ingin mandiri. Dan dia yang mensupport keinginanku.
Aku memeluk Toni, dan menangis di dadanya.
Toni hanya diam, sambil terus memberikan dadanya untuk aku menangis. Ya Tuhan. Kau memang baik, saat aku sendiri, Kau mengirimkan lelaki ini untuk menemaniku.
"Sudah menangisnya? Hapus air matanya. Maafkan aku yang tidak bisa menghentikan tangismu" Toni dengan terlalu sabar dan menurutku, dia terlalu baik untukku.
"Kamu ingin mengunjungi pemakaman bang Romi?" tanya Toni.
Aku mengangguk.
"Istirahatlah, besok kita berangkat pagi ya."
Toni mengantarkan aku ke kamar, dan terus merangkulku.
"Istirahatlah," ia mengecup keningku, dan menyelimutiku.
Mata lelah setelah menangis, membuat aku terlelap.
**
Aku menyusuri taman yang sering aku datangi, tapi kali ini aku tidak sendiri, Toni menggandeng tanganku, dan di seberang jembatan aku melihat bang Romi, sambil memberikan 2 jempolnya, dan melambaikan tangannya.
__ADS_1