Sebatas Angan

Sebatas Angan
Proses yang cepat


__ADS_3

"dimana Bu?" tanyaku


"Itu mbak. Sebentar lagi sampai."


Kenapa cahaya matahari ini sangat terang.


Keringat mulai mengucuri bagian kepalaku.


Aku menghentikan langkahku, dan berpegangan pada asisten rumah tangga itu.


"Mbak.. mbak" kemudian semua menjadi gelap.


"Yu.." suara mamanya Toni terdengar di telingaku.


"Ma." aku bangun dari tempat tidur itu. Aku dimana? Ku lihat sekeliling kamar itu.


"Kamu di rumah mama" ucapnya sambil mengelus tanganku.


"Dimana dia... maa. maaa" suara Toni yang berteriak-teriak.


Toni masuk kamar dimana aku berada.


"Huft.." nafasnya terlihat tersengal-sengal, dan tersenyum melihatku duduk ditemani mama.


"Kamu gapapa kan?" tanyanya.


Aku menggeleng.


"Tadi menurut si Bu Yam, Ayu mau beli sayur di depan sana, tapi belum lagi sampai, ayu sudah mendadak pingsan. Untung saja, Nadia lewat sana, dan Nadia yang mengantarkan Ayu kemari."


"Ngapain keluar rumah? Tadi aku udah bilang, istirahat aja" ucap Toni.


Aku menundukkan kepala.

__ADS_1


"Makan siang di sini aja, mama udah masak juga" ajak mama.


"Ya, ma. Duluan aja. Nanti kami nyusul" ucap Toni.


Mama mengangguk dan keluar dari kamar.


"Udah diminum obatnya belum?"


Aku lupaaa.. astaga kenapa aku lupa makan obat. Aku hanya tersenyum lebar.


Toni menggelengkan kepalanya.


"Aku pulang ambil obat dulu" ucapnya.


Aku keluar kamar,dan menuju dapur melihat keadaan dapur.


"Ma, papa sering menyendiri seperti itu?"


tanyaku


Aku hanya bisa melihat papa yang sedang memandang aquarium besar di ruang keluarga.


Toni datang dan merangkul pundakku.


Aku merasa risih. Ku lepaskan pelan-pelan.


"Ayo makan. Ton, bawa papa kesini" pinta mamanya Toni.


Toni mengangguk. Dan seperti biasa, tidak ada canda tawa. Dan setelah merapikan sisa makanan itu, kami kembali ke rumah Toni.


"Lepaskan" pintaku ketika Toni merangkulku saat memasuki rumah.


"Maaf, aku masih shock dengan semua kejadian ini" lanjutku.

__ADS_1


Toni memandangku.


"Tapi, kamu sekarang istriku"


"Tapi kita menikah tanpa rasa cinta. Kamu menikahiku karena terpaksa memenuhi amanat"


Toni menutup pintu rumah.


"Aku akan tidur di kamar sebelah. Kamu tidur di kamarmu" pintaku.


Toni yang duduk di sofa, hanya bisa membelalakkan mata.


"Apa aku tidak pantas untukmu?" tanya Toni.


"Bukan itu maksudku, tapi, aku belum mengenal kamu lebih lanjut"


"Kita sudah kenal lama"


"Kamu adalah atasanku di kantor. Dan aku harap itu akan terus seperti itu." pintaku


"Yu, kamu tau? Ketika aku mendapat amanat dari almarhum bang Romi, aku selalu minta kepada Allah, untuk meyakinkan diri ini, agar aku dapat jawaban dari doaku. Bila memang kamu jodohku, dengan atau tanpa amanat itu, aku didekatkan kepada kamu, bila tidak, kamu akan menjauh. Tapi, Allah menjawab semuanya. Secepat itu prosesnya."


"Tapi, perasaan tidak dapat dipaksakan, Ton. Kita memang suami istri, tapi aku minta, di depan teman-teman kantor, perlakukan aku seperti biasa. Aku mohon."


"Baiklah, aku akan ikuti permintaanmu. Tapi, maukah kamu menjalin hubungan denganku? Kita akan menjalani proses layaknya pasangan yang baru kenal. Aku sayang kamu, Yu. Entah kapan rasa itu tumbuh. Aku selalu cemburu, saat kamu memanggil nama bang Romi."


Aku melirik ke arahnya.


"Ya, aku cemburu, sebesar itu cintamu untuk dia. Apa aku tidak bisa menerima cinta itu untukku?" Toni mendekatkan wajahnya kepadaku, dan hendak mencium ku.


Plak.. sebuah tamparan keras tanpa aku sadari mendarat di pipinya. Dia menarik tubuhku.


**Maafkan Ayu ya.

__ADS_1


Terima kasih reader yang baik hati dengan selalu membaca dan memberi like juga komentar..😍😍


__ADS_2