
"Aku keluar dulu, nanti ada yang lihat" kemudian aku mengintip luar ruangan.
Tanganku ditarik, dan Toni memelukku.
"I love you" bisiknya.
Akhirnya, pesta resepsi pernikahanku dan Toni tiba, sebuah konsep taman yang ditanami dengan banyak bunga, menjadi saksi bahwa hubungan kami bukan sekedar di atas kertas, dan bukan karena prasangka orang yang mengira aku hamil duluan. Sebuah hotel dengan taman yang luas itu dipilih mama untuk pesta kami.
Aku sangat bahagia, saat Aca juga datang ke pesta itu. Tidak banyak acara, hanya kumpul sahabat, kerabat, dan keluarga. Dan aku yakin, bang Romi melihat kami dari atas sana, tersenyum bahagia.
"Baby.." sapa Toni, saat aku memandang langit biru yang tampak cerah itu.
Aku tersenyum menatapnya.
"Ayo, kita sapa tamu lagi" ajaknya sambil menggandeng tanganku.
Menjadi ratu dan raja sehari membuat kami kelelahan.
"Are you OK, baby?" tanya Toni.
Aku mengangguk.
Dan akhirnya pesta itu berakhir dengan senyuman para tamu itu.
Ucapan selamat juga tak henti datang lewat ponsel kami.
__ADS_1
Hotel yang sudah disiapkan untuk kami dan keluarga adalah tempat kami berisitirahat.
"Yu, ibu dan ayah sangat bahagia melihatmu sekarang. Walau kamu jauh dari kami, ayah dan ibu yakin, Toni akan menjadi imam yang baik untukmu" Aku masih ingin bersama ayah dan ibu. Malam itu dengan masih menggunakan pakaian yang aku kenakan tadi, aku mampir ke kamar mereka.
"Kembalilah ke kamarmu, suamimu sudah menunggumu" usir ibu sambil tersenyum seolah tak ingin mengganggu acaraku.
Tok.tok.tok
Aca keluar dari kamarnya.
"Kenapa ke kamar ini?" tanyanya dengan muka lucu.
"Aku rindu kamu, ca. Aku belum puas bercanda dan main bersamamu" tanpa izinnya aku berbaring di kamarnya.
tapi ucapan Aca tidak aku hiraukan dan aku menepuk kasur,
"Bagaimana ceritamu di luar kota?" tanyaku,
Dan akhirnya Aca mulai menceritakan awal kehidupannya jauh dariku.
"Tak ada yang sepertimu, Yu.. Mereka semua munafik" Aca memelukku erat dan menangis di pelukanku. Aca yang tegar, dan aku hampir tidak pernah melihatnya seperti ini.
"Aku kangen kamu, Yu" ucapnya lagi.
Aku menghapus air mata yang ada di pipinya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan bang Romi?" tanyanya
"Aku sudah mengunjungi makamnya. Cintaku sudah terkubur setelah melihat makamnya. Cintaku untuknya kini hanya sebatas angan. Dan aku tidak pernah menyesal untuk menantinya, walau penantian itu sekarang sudah selesai. Dan Toni melanjutkan amanah bang Romi, menjagaku. Aku bersyukur, kini aku menemukan dan Toni dengan sabar mengajarkan kembali apa itu cinta" jelasku.
"oh ya, kamu harus main ke rumahku, kalau libur. Kamu tidak boleh sombong" ucapku mengalihkan agar Aca berhenti menangis.
Aku tau dia benar-benar sedih.
"Kapan kau kembali?" tanyaku
"Besok pagi aku harus kembali, karena Senin aku harus kerja kembali." ucapnya,
"Istirahatlah, kamu harus kembali ke kamar. Bisa-bisa Toni marah nanti" lanjutnya sambil mendorongku keluar dari kamarnya.
Aku sebenarnya enggan melangkah dari sana, tapi Aca sangat pengertian. Dan ketika aku masih bercanda di depan pintu kamarnya, aku menabrak seseorang.
"Maaf" ucapku, tapi ketika aku melihat ke arahnya, ternyata lelaki dengan masih menggunakan jas lengkap, menangkapku.
"Wah, pengantinku ini, pecicilan saja. Bukannya menunggu aku di kamar"
"Ambil istrimu, mengganggu istirahatku" ucap Aca sambil tertawa puas.
"Baiklah, terima kasih sudah menjaga istriku. Aku akan membawanya ke kamar kami" kemudian Toni menggendongku, masuk ke kamar.
Semua keluar dari kamar mereka karena aku berteriak. Ayah, ibu, mama, Nadia, dan Aca tertawa melihat kelakuan kami.
__ADS_1