Sebatas Angan

Sebatas Angan
Tragedi Batu Bata


__ADS_3

Langkahku percepat karena Toni terburu-buru. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


"Ton.. bisa gak biasa aja bawa mobilnya"


Aku berpegangan pada handle mobil.


Tapi, dia tidak memperdulikanku.


"Apa yang dikejar lelaki ini" pikirku.


Dia memarkirkan tepat di depan rumah makan yang sederhana. Kemudian dia turun. Aku gengsi dong, orang dia gak ngajak aku turun.


Tak lama, dia menghampiriku, ia mengetuk kaca mobilnya.


"Apa?" tanyaku


"Turun.. Ayo." ajaknya.


Aku keluar, dan merapikan bajuku.


"Untung saja, sopnya masih ada. Jam istirahat begini, sopnya diserbu orang-orang." jelasnya.


Jadi, demi SOP ini, dia ngebut di jalan? Gak masuk di akal sehat banget sih ni orang.


"silahkan duduk" ucapnya sambil menarik kursi untuk aku tempati, dan dia duduk di kursi yang ada di hadapanku.


"Huft, lega sekali. Maaf ya membuatmu takut di jalan tadi. Kau harus nyobain deh. Enak banget sop di sini" ucapnya tanpa dosa.


Ia tidak tau, jantungku mau copot, karena perjalanan tadi.


"Mau minum apa?" tanyanya.


"Apa saja." jawabku masih lemas dengan cara mengendarai mobilnya.


Memang biasanya dia tidk seperti tadi. Tapi, tadi. Ahh sudahlah.

__ADS_1


"Kak.. 2 teh hangat ya" pintanya.


Tak lama, 2 teh hangat, dan 2 porsi sop beserta 2 piring nasi, datang.


"Kau harus mencobanya, bentar" ia menghancurkan emping yang ada di meja, dan menaburkan di sopku.


"Silahkan makan" ucapnya.


Begitu sendok itu masuk ke dalam mulutku, aku terdiam.


"Pantas saja," hanya kalimat it yang keluar dari mulutku.


"Habiskan nasimu"


"Banyak banget, udah kenyang kok"


"Gak usah diet, nanti kau sakit. Kerjaanmu banyak."


"Huh, siapa yang diet. Memang begini porsi makanku." umpatku dalam hati.


"Aaah... kenyang.. Bagaimana? Enak kan? Ke sini membutuhkan perjuangan dan kesabaran. Akhirnya aku dapatkan" kemudian dia tertawa.


"Ehem.. siapa nih bang Toni? Baru liat. Tumben sama cewek" goda pelayan itu.


Ternyata, dia sering ke sini.


"Cantik gak?" tanyanya.


"Cantiklah"


"Cocok gak jadi pendamping hidup aku?"


"Kalo itu, bang Toni lah yang paham. Tapi dia serasi dengan bang Toni. Abang ganteng, dan dia cantiknya natural" ucap pegawai itu.


Tanpa sadar, aku menendang kaki Toni.

__ADS_1


"Aww" teriaknya.


"Kasar kalinya dia, kak. Masa kakiku di tendangnya" kemudian mereka tertawa.


Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi proyek yang ternyata tidak jauh dari tempat makan itu.


Kami memakai helm ketika memasuki tempat itu. Demi keamanan.


Aku memang lulusan teknik sipil, dan aku suka melihat cara pekerja dengan semangat membuat tanah kosong itu menjadi perumahan.


Tanpa sadar, tanganku ikutan memplester bangunan bersama para pekerja dengan canda tawa.


"Kalo nak Ayu datang, auranya beda ya." ucap pekerja senior yang ada di sana.


"Ayuuuu" terdengar suara Toni berteriak.


Tiba-tiba, aku tidak tau bagaimana ceritanya, sebuah batu bata turun dari bawah, dan hampir mengenaiku. Tapi, Toni memelukku, dan batu itu menimpa tubuhnya.


"awww" teriaknya.


Semua pekerja langsung mengerubungi kami.


Kepala proyek mendekati, dan meminta beberapa pekerja mengangkat tubuh Toni ke dalam sebuah kantor kecil yang ada di sana.


Aku pun ikut ke kantor itu.


"Sakit?" tanyaku, memegang pundaknya.


Dia hanya diam. Dia memang berbeda, saat kami hanya berdua, dan saat bersama pekerja lain.


Seorang pekerja datang menghampiri kami.


"Maaf, pak. Maafkan saya, pak. Saya salah, pak. Maafkan saya"


"Kau ini, ada apa? Tidak becus sekali. Kau sangat tidak fokus. Apa kau mau dipecat?" ucap kepala proyek memarahinya,

__ADS_1


"Jangan, pak. Anak saya sedang diopname pak, saya butuh banyak biaya, pak. Pak Toni, maafkan saya" ia bersimpuh di hadapan Toni.


**Terima kasih para pembaca setia novelku. Semoga masih setia dengan novel²ku ya. Dan semoga, novel terbaruku ini, bisa diterima kembali. Jangan lupa like,vote dan komentar yang membangun ya.😍😍


__ADS_2