
"Bagaimana hasilnya?" tanya Aca.
"Ayu harus di rawat inap. Demam thypoid." jawab Toni.
"Aku mau pulang saja. Aku gak akan betah di rumah sakit. Aku mau pulang saja, Ca" ucapku bersikeras.
"Tidak, yu. Di kosan kita tidak punya apa-apa. Di sini kamu akan sehat kembali."
"Aku cukup istirahat, nanti aku akan sembuh"
Pintaku.
"Terserah, silahkan kamu pulang." Toni kesal dan meninggalkan kami.
"Yu, dia orang yang baik. Aku yang memintanya untuk membawamu kemari."
"Kepalaku sangat sakit." ucapku memegang kepalaku. Demamku belum juga turun.
"Kamu di sini saja, ya. Nanti aku kabari ayah dan ibumu." ucap Aca
"Jangan, Ca, aku tidak mau merepotkan mereka. Lagian, Mereka pasti buru-buru, aku tidak mau mereka tau"
"Baik, tapi kamu harus nurut, tetap di sini. Ok?" Aca memegang lenganku, tanpa sengaja, ia meremas tanganku yang terpasang infus. Dan aku berteriak.
"Maaf, yu" ucapnya mengelus tanganku
"Kita, pindah ke ruangan, ya Bu." perawat itu membawaku ke sebuah ruangan di lantai 3.
Sebuah ruangan VIP. Aca melongo melihat ruangan itu.
__ADS_1
"Terima kasih, sus." ucap Ayu kepada perawat itu.
"Wah, tempatnya enak, Yu. Kamu pasti lekas sembuh" Aca berkeliling kamar itu. "Aku akan menemanimu di sini." ucapnya.
Aku heran, bagaimana caranya aku dapat ruangan sebesar ini? Aku kan hanya karyawan biasa, dan kartu asuransi ku tidak akan mengcover ruangan ini.
Malam itu aku benar-benar istirahat. Obat-obatan yang diberikan, cukup membuatku sedikit nyaman, walau mual dan sakit kepala yang luar biasa menerpaku.
Aku terbangun dari tidurku, Aca tidur pulas di sofa. Aku sangat bersyukur mempunyai sahabat sepertinya. Ku lanjutkan tidurku lagi.
"Selamat pagi" pintu terbuka dan beberapa perawat mendekatiku, memeriksa keadaanku.
"Apa keluhannya, Bu?" tanya seorang perawat.
"Kepala saya masih sangat sakit"
"Oh, ya. Karena demamnya masih ya. Nanti dokter visit kita kasih laporannya ya." lalu mereka pergi.
Tinggallah aku sendiri.
Dan entah kenapa, aku tertidur kembali. Mataku panas ketika aku membuka mata.
"Ayu, bangun. Makan dulu" suara pelan itu membangunkanku, sambil memainkan rambutku.
Aku terbangun. Ku lihat bang Romi di depanku.
"Bang" ucapku pelan.
"Aku Toni, Yu" Dia tidak marah. Dan masih dengan suara lembut itu.
__ADS_1
"Makan ya" lanjutnya sambil menyodorkan air hangat dan menyuapi bubur ke mulutku.
Aku terpana melihat dia memakai topi, Selama ini, dia tidak pernah mengenakan itu. Jadi, jangan salahkan aku, yang mengira itu adalah bang Romi.
"Cukup. Nanti aku muntah" aku menutup mulutku. Dia tidak membantahku.
Dan segera mengambil obat.
"Minum obatnya" suara itu pelan sekali, seperti bukan Toni yang aku kenal. Apa mungkin dia memiliki kepribadian ganda?
Kenapa cara berpakaiannya juga seperti bukan Toni. Malah menurutku, gaya ini yang dipakai bang Romi.
"Ada apa dengan bajumu?" tanyaku
"Maksudmu?" Toni bertanya balik.
"Pakaianmu"
"Aku ingin terlihat santai"
"Tapi, kamu tidak sedang mengikuti gaya berpakaian bang Romi, kan?"
"Aku, adalah aku. Aku bukan Romi yang tidak tau dimana keberadaannya. Sudah, jangan berpikir panjang. Kamu harus banyak istirahat"
"bagaimana dengan ruangan ini? Bukankah asuransi ku tidak sebesar ini?"
"Sudah, cerewet. Jangan dipikirkan. Yang harus kamu pikirkan, bagaimana kamu harus sehat. Itu saja."
"Aku akan sehat. Besok juga aku sudah pulang."
__ADS_1
"Jangan main-main" Mata Toni mendelik mengarah padaku.