Sebatas Angan

Sebatas Angan
Omelet


__ADS_3

Aku hanya terdiam melihat belanjaan itu.


"Rp. 1.790.000" ucap penjaga kasir


Huft.. akhirnya, hanya segitu.


Aku mengeluarkan dompetku.


Tapi,


Dompetku ditutup olehnya, dan ia menyerahkan kartu debitnya.


"Pin nya, mbak" ucap kasir itu.


Aku melirik ke arah Toni.


Aku hanya diam.


"Kamu itu istriku, walau kamu belum mengakui aku sebagai suamimu, tapi kamu adalah tanggung jawabku" bisiknya.


Aku terdiam kembali dengan statement itu.


Toni membawa barang belanjaan itu ke dalam bagasi mobil.


"Ayo, kita harus beli bahan masakan di rumah. Nanti kamu pecicilan keluar rumah dan pingsan lagi." ajaknya sambil menggandeng tanganku.


Kali ini, tidak seperti yang tadi dia lakukan, dan kali ini, aku yang aktif memasukkan belanjaan ke keranjang belanjaan.


"Sudah?" tanya Toni.


Aku tersenyum.


Dan lagi-lagi, dia mengeluarkan kartu debitnya.


"Bukannya tadi mas dan mbak sudah belanja?"


Ternyata kami di kasir yang tadi.


Aku tersenyum.


"Mas dan mbaknya pengantin baru ya? Serasi sekali. Kalian mirip" ucapnya sambil menghitung belanjaan itu.


"Silahkan, pin nya mas" ucapnya tanpa bertanya lagi.

__ADS_1


Kami berlalu dari supermarket yang ada di mall itu.


Aku melirik sepasang cincin pernikahan.


Tapi aku buru-buru mengalihkan pandanganku.


"Kenapa?" tanyanya.


Aku menggeleng.


Dia merangkulku selama perjalanan.


Walau aku risih, tapi dia tetap tidak mau melepaskan rangkulan itu.


"Nanti ada yang lihat. Kalau orang kantor lihat, bagaimana?"


Tapi dia tetap tidak memperdulikan ucapanku.


"Kamu mau makan apa?" tanya Toni.


"Aku mau makan di rumah saja."


"Kita bawa pulang saja, gimana?"


Kami berhenti di sebuah restoran siap saji, dan memesan beberapa makanan.


**


"Biar aku yang bawa masuk belanjaannya. Kamu mandi duluan sana" ucapnya.


Aku masuk kamar Toni, dan mengambil beberapa baju untuk ku letakkan di kamar sebelah.


"Kenapa mengambil banyak baju? Mau dipindahkan kemana?" tanyanya dengan nada sedikit penasaran.


"Aku akan tidur di kamar sebelah."


"Tidak perlu, aku akan tidur di sebelah. Kamu tidur di kamar kita saja. Kalau aku mau ambil baju, aku tinggal minta izinmu mengambilnya."


"Tidak perlu. Aku akan tidur di sebelah"ucapku lagi.


"Kamu pemilik rumah ini" ucapnya meletakkan kembali baju-baju ke lemari.


"Sudah, tidak usah berdebat. Aku sudah lapar. Ayo, makan" ajaknya.

__ADS_1


Pantas saja dia sudah mengeluh, saat ini sudah pukul 20.30


Di meja makan, kami menceritakan pekerjaan tadi. Tanpa di sadari, aku dan dia sangat menikmati makan malam walau hanya dengan makanan siap saji.


"Kamu, bisa masak?" tanya Toni, sambil mengambil kentang goreng.


"Tidak terlalu pintar. Aku sudah lama tidak masak"


"Besok, aku mau sarapan omelet, bisa?" tanyanya.


Waah.. dia sudah berani meminta aku memasakkan untuk dirinya.


Tapi kenapa aku mengangguk.


"Pasti enak" ucapnya.


"Uhuk. uhuk." Toni tersedak.


Dan aku buru-buru mengambilkan ia minum, sambil menepuk punggungnya yang lebar.


"Makanya, kalau sedang makan, jangan mikirin yang lain" gerutuku.


"Terima kasih, aku tidak memikirkan yang lain, aku hanya memikirkan bagaimana membuatmu merasa bahagia"


"Sudah, jangan banyak gombal" ucapku sambil merapikan sisa makan itu.


"Yu, aku sayang kamu" ucapnya memelukku dari belakang, saat aku mencuci piring.


Aku terdiam.


Perasaan apa ini.


Kenapa jantungku tiba-tiba seperti berhenti berdetak.


Dan.


Prang...


Piring yang aku pegang, jatuh di lantai.


"Ayu..." dia mengangkat tubuhku, ke tempat yang agak jauh dari sana.


Sedangkan tanganku masih penuh dengan sabun.

__ADS_1


__ADS_2