
"Mas Toni.. Sudah lama sekali tidak mampir." sapa ibu penjual SOP ramah.
"Kenapa, kangen ya?" guyonnya.
"2 ya Bu" lanjutnya.
"Sama cewek yang sama, kapan jadiannya itu?" tanya si ibu.
"itu istri saya, Bu. Cantik gak?" bisiknya pelan, tapi aku mendengarnya, dan aku hanya bisa menunduk malu.
Si ibu tersenyum sambil mengangguk.
"Gimana perasaannya sekarang?" tanyanya.
Aku menarik nafas, dan tersenyum.
Aku masih membayangkan kejadian yang baru saja terjadi.
"Yu.. " Toni menepuk tanganku.
"Oh.. eh. ya.. Ada apa?"
"Kamu diam lagi. Masih mikirin yang tadi?"
"Heh.. gak.." ucapku menepuk tangan Toni dan tersenyum.
"Kenapa tadi?" tanyaku
"Gak jadi." ucapnya singkat.
Aku tersenyum.
"Waah.. mas Toni, sekalinya bawa cewek, kedua kalinya udh nikah aja, gak undang-undang ya" ucap si ibu penjual SOP itu.
"Nanti aja ya, kita masih sibuk. Hehe.. "
Ucap Toni sambil melayangkan senyum yang tidak seperti biasanya.
Kami makan bersama, tapi aku, tetap teringat akan makam itu.
"Kalau tidak mau dimakan, jangan dimainin nasinya" suara Toni terdengar jelas di telingaku.
"Oh.. ya.. " aku meliriknya dan tersenyum melihatnya yang asik mengaduk Sop itu.
__ADS_1
Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Tapi selama di perjalanan aku hanya menatap luar jendela mobil itu.
Aku kangen kamu, tapi udah gak bisa lagi.
Rasa ini tidak selesai. Aahh..
Anganku melambung jauh seperti aku melihat awan itu.
Aku melirik Toni yang hanya diam fokus ke jalanan.
Apa aku salah? Aku kangen dia yang sudah tidak ada, dan mengacuhkan lelaki yang sudah mengambil sumpah untuk menjagaku seumur hidupku?
"Ton" panggilku pelan
"Hm" cuma dehaman itu.
"Kenapa diem?"
"Terus aku harus apa? Kamu juga hanya diam"
Rasanya tidak enak sekali saat ini.
Aku menarik nafas panjang.
"Bukan salahmu." jawabnya singkat
"Aku tidak tau harus bagaimana."
"ok"
"Ton.." panggilku lagi.
"hm" jawabnya.
"Bantu aku ya"
"untuk?" tanyanya
"Belajar membuka hatiku untuk kamu"
"hm"
Aku tau dia kecewa dengan tindakan dan sikapku.
__ADS_1
"Sekarang, bagiku, kamu adalah duniaku. Meski kami tidak menyadari itu."
Ucapannya itu membuat aku merasa sangat bersalah.
"Ton.. maaf" ucapku, memegang tangannya.
Toni hanya tetap fokus dengan jalanan.
"Kamu berhak marah." ucapku sambil memegang tangannya yang sedang berada di setir mobil.
"Aku tidak bisa memaksakan kehendakmu. Tapi kalau memang ini berat. Aku tidak bisa melanjutkan semua. Aku akan membebaskanmu. Sebelum semua terlanjur dalam. Aku tidak mau kamu tinggalkan saat aku merasa cinta sudah dalam."
"Ton. Bukan begitu. Hentikan mobilnya" pintaku.
Toni menghentikan mobilnya dan memarkirkan di lapangan dekat komplek.
"Aku pahami perjalanan hidup yang kamu lalui sekarang. Tapi kamu tidak sendiri. Kamu sudah berjuang menaklukkan hari yang tidak mudah. Tapi izinkan aku menemanimu. Aku hanya ingin mendengarkan ceritamu setiap harinya, menenangkan kamu saat menangis. Tapi kalau semua tidak ada artinya,.."
"Stop Ton" ucapku sambil menutup telinga.
Aku keluar dari mobilnya, sambil menangis.
Aku pikir dia tidak akan menyusul ku.
Tapi, dia menarikku ke dalam pelukannya.
Sesaat kami hanya diam dan hanyut dalam suasana malam itu.
"Jangan pergi" ucap Toni.
"Maaf"
Aku hanya memeluknya,
"Apa aku pantas untuk kamu? Aku belum bisa melupakan bang Romi. Apa kamu mau menunggu sampai saat itu tiba?"
"Ya, aku akan menunggu. Aku mau" ucapnya.
"Tapi, tadi..."
"Aku hanya mengeluarkan unek-unek saja. Maaf aku terbawa emosi"
**Terima kasih sudah berkenan mampir,
__ADS_1
jangan lupa like , komen dan vote nya ya.. 😍😍