
Setelah jam makan siang, kami kembali ke meja masing-masing dan beraktiftas kembali.
Sampai akhirnya jam pulang kerja.
Arya sudah menungguku di pintu keluar.
"Ayo" ajaknya.
Kami menuju parkiran motor.
Setelah memasang helm di kepalaku, kami segera menuju tempat yang di maksud. Aku hendak membeli sebuah motor second. Lumayan untuk mengirit ongkos taxi. Beberapa hari naik taxi saja, sudah membuat aku memperhitungkan pengeluaran ku dalam 1 bulan. Dan itu akan membuat aku bangkrut.
Tabunganku bisa-bisa jebol.
"Oke deh pak. Kapan saya bisa bawa pulang motornya?" tanyaku.
"Besok pagi saya antar ke kantor ya mbak. Atau besok siang?" tanyanya
"Oke, besok ya. Saya mau ambil uang dulu." ucapku.
Dan kami pun berlalu dari sana.
"Aku antar pulang ya, Yu" Arya menawarkan diri untuk mengantarku pulang.
"Oh.. eh.. gak usah. Aku bisa pulang sendiri kok. Kamu antarkan saja aku ke ATM terdekat. Nanti tolong kasih ke bapak itu. Besok si bapak antarkan motornya kan?" tanyaku.
"Ya, percaya padaku. Aku kan mengontrak di rumahnya. Dia memang sedang butuh dana, makanya dia jual motor itu, padahal baru 3 bulan dipakai" ucap Arya meyakinkanku.
Kami pergi menuju ATM terdekat.
"Ini uangnya, aku titip ya"
__ADS_1
"Oke" jawab Arya.
"Kamu yakin, gak mau aku antar pulang?"
"Gak.. Aku bisa naik kendaraan umum" ucapku.
"Aku tunggu sampai kamu pulang ya" ucap Arya. Dia memang baik. Selain Ina, dia adalah orang baik di kantorku.
"Itu taxi, aku pulang ya" ucapku melambaikan tangan ke Arya, dan segera berlalu dari tempat itu.
Sampai di rumah, Toni berada di depan pintu rumah.
"Kenapa baru pulang? Dari mana saja?" tanyanya.
Aku diam saja.
"Boleh masuk gak?" tanyaku.
"Kamu dari mana? Kenapa pulangnya malam?" tanyanya menarik tanganku.
Aww. teriakku.
Toni melepaskan tanganku dan melihat jariku masih menempel plester obat.
Dia menarikku duduk di sofa, dan mencari kotak P3K.
Di lepaskan plester itu dari jariku.
Kemudian ia membaluri jariku dengan obat antiseptik, dan membiarkannya terbuka
"Kenapa seceroboh ini? Kamu tau, aku sangat khawatir tadi. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu tau rasanya seperti apa. Aku tersiksa di dalam ruangan itu." dia meniup jariku.
__ADS_1
"Bukannya kamu sedang asik berbincang dengan mbak Angel, sampai harus cipika cipiki di depanku, dan merangkulnya" jawabku ketus.
"Aku sudah terbiasa dengannya seperti itu" jawab Toni meyakitkan perasaanku. Ku tarik tanganku yang sedang diobatinya.
"Aku bisa sendiri" kemudian aku bangun dari sofa itu dan menuju kamar.
"Kamu tau, aku orangnya sangat pencemburu. Aku cemburu melihat kedekatanmu dengan Arya" dengan cekatan dia memelukku dari belakang.
Aku menahan nafasku.
"Aku cemburu, saat kamu harus dekat dengan orang lain. Entah kenapa setelah pernikahan itu, aku sangat cemburuan." ucapnya terus memelukku dari belakang.
"Kamu bisa membuat aku menjadi orang gila, Yu. Saat kamu di sentuh Arya, aku ingin sekali memukulnya."
Mataku membelalak karena kaget.
"Aku ingin sekali memecatnya, karena berani menyentuhmu"
Ku lepas tangannya yang melingkar di leherku.
"Jangan sekali-kali, kamu melakukan itu." ucapku
"Kamu membelanya? Apa hebatnya dia?" Toni kali ini bersuara keras.
"Kamu tidak usah mencampur adukkan masalah kita dengan orang lain."
"Kamu, yang mencampur adukkan masalah kita di kantor" ucapnya lagi.
Aku kesal.
Ku tinggalkan dia dan segera masuk ke dalam kamar, dan menguncinya.
__ADS_1