Sebatas Angan

Sebatas Angan
Sandal


__ADS_3

Entah ap yang terjadi, aku tetap seperti orang **** yang tidak tau, dan hanya melihat sorotan mata mereka.


"Sudah, apa-apaan ini. Mama bawa apa?" tanya Toni.


"Bawa sarapan lah, apalagi. Mama buat makanan kesukaan Abang. Coba lihat" ucap perempuan yang aku kira masih anak SMA.


"Yu, sini" ajak mamanya Toni.


"Aku belum memperkenalkan diri ya kak? Namaku Nadia. Aku adiknya bang Toni." perempuan kecil itu sangat ramah.


"Kak, baju kakak ini lembab loh kak. Aku bawa jaket., Kakak pakai jaketku saja. Nanti kakak masuk angin loh" lanjutnya, memegang bajuku yang memang masih lembab.


Aku hanya melirik Toni.


"Ayo pakai bajuku, kak." Nadia mendorongku masuk ke dalam kamar Toni.


Aku mengganti pakaianku, dan mengambil tas serta ponselku.


"Nanti aku kembalikan. Tante, saya pamit, ya." ucapku.


"Nanti biar diantar pulang. Ikut sarapan bareng sini" ajaknya.


"Ayo" Toni mendorong ke meja makan,aku duduk di sebelahnya.


Mereka bercanda gurau dengan hangat. Begitukah keluarga ini? Alangkah bahagianya hidup mereka.


Sesekali aku ikut tersenyum.


"Kamu harus coba ini, bihun masakan mama, paling enak sedunia" Toni mengambil piringku, dan menyendoki bihun itu.


"Silahkan makan"


Aku memang masih merasa sedikit pusing.


Nafsu makanku berkurang. Atau mungkin juga, karena aku terlalu kelaparan, jadi sudah tidak ingin makan lagi.


"Aku mau pulang" ucapku pelan,


"Kau bisa bersabar, sebentar lagi" jawabnya pelan juga


"Iiih... bisik-bisik, ada kita begini, ma." Nadia menggoda kami.

__ADS_1


Mamanya Toni hanya tersenyum.


Setelah makan, kami merapikan sisa makan, dan mereka pamit pulang duluan.


"Tadi, papa masih tidur. Kami duluan ya, Yu." ucap mamanya Toni.


"Ya, Tante. Hati-hati di jalan" aku bersikap ramah.


"Main yok ke rumah. Mumpung libur, papa juga di rumah" ajak mamanya Toni lagi.


"Kapan-kapan, tante. Jauh ya dari sini?" tanyaku.


Mereka tertawa, Nadia menunjuk sebuah rumah


"Itu kak, yang diujung sana"


Hah.. Ternyata rumah keluarga Toni dekat darinya. Tapi kenapa Toni memilih tinggal di rumah ini?


"Jangan bingung, kak. Di rumah itu hanya aku, mama dan papa. Abang-abang semua misah dari rumah utama. Ya sudah. Kami duluan ya kak." Nadia memegang tanganku.


Aku makin merasa orang paling bodoh.


"Ton, aku juga pamit pulang ya. Aku mau istirahat."


"Aku akan mampir ke apotek saja. Aku akan sembuh dengan obat kampung" ucapku memasang sepatuku yang lembab.


"Sudah, tunggu di sini, pakai sendal jepit itu saja. Jangan pakai sepatu basahmu" Toni segera mengambil kunci mobil kemudian mengeluarkan mobilnya dari garasinya.


Aku duduk di teras rumahnya. Memandang halaman yang hijau. Aku betah di sana.


Toni membunyikan klakson mobilnya. Aku segera menuju mobil itu, dengan sendal yang kebesaran.


Setelah aku duduk, dia melihat kakiku. Kemudian tertawa terbahak-bahak.


Aku kesal, ku lepaskan sendal itu


Dia menghentikan mobilnya di sebuah supermarket dekat rumahnya.


"Ayo, turun"


"Gak"

__ADS_1


"Bandel. Ayo turun" dia menarik tanganku.


Lelaki ini, kadang baik, kadang menakutkan.


Kami masuk ke sebuah outlet pakaian perlengkapan wanita.


"Sana, ganti bajumu"


"Tidak usah" jawabku.


Dia memilihkan aku baju. Bolak balik mencari baju yang bisa aku pakai.


"Cepat ganti bajunya. Mbak.. Dalemannya juga sekalian."


Aku menutup dadaku.


"Sudah sana" ucapnya.


Aku keluar dari ruang ganti dengan semua barang baru.


Dia masih sibuk mencari alas kaki untukku.


"Aku ambil model ini, coba cari nomornya" perintahnya.


Dia memasangkan sepatu ke kakiku, "coba berdiri" perintahnya sambil bertolak pinggang.


"Coba yang ini" ucapnya lagi


"Ya sudah, kau pakai sandal ini saja. Bisa santai kan?" tanyanya.


Aku mengeluarkan dompetku.


Tapi dia menutupnya lagi.


Ia mengeluarkan kartu debitnya.


"Kenapa kamu belanja sebanyak ini?"


Aku memegang belanjaan di tanganku, entah berapa baju dia beli.


"Ini bukan untukmu, kok"

__ADS_1


Kemudian kami mampir ke apotik yang ada di supermarket itu.


"Obat demam dan flu yang bagus, ya mbak" pintanya.


__ADS_2