Sebatas Angan

Sebatas Angan
Malam Pertama #2


__ADS_3

Toni menggelengkan kepalanya


"Apalagi anak kecil itu."


Aku tertawa.


"Apalagi sih Dee" Toni berhenti berbicara.


Aku bertanya-tanya, kenapa lagi di depan sana.


"Ayah, ibu.. Maaf, Toni kira, Nadia lagi, masuk yah, Bu" ajak Toni.


"Ayah, ibu." sapaku, dan menggandeng mereka untuk duduk di sofa.


"Toni.." ayah memanggil nama Toni.


Aku memegang tangan ibu. Ada apa sebenarnya.


"Sebelumnya, ayah dan ibu minta maaf, karena ayah dan ibu tidak punya hadiah pernikahan untuk kalian. Ayah dan ibu hanya punya ini"


Ibu menyerahkan sebuah Al Qur'an, dan emas batangan.


"Apa ini, Bu, yah?" aku kaget melihat apa yang mereka bawa.


"Toni, Ayu, jadikan Al Qur'an ini, sebagai pedoman hidup kalian. Ton, ayah sadar, belum menjadi ayah yang sempurna untuk ayu, tapi ayah tau, kamu akan menjaga dan membimbing ayu. Tugas ayah sudah selesai, ayah serahkan harta ayah yang paling berharga, yaitu Ayu kepadamu." Ayah memegang tangan Toni sambil menangis.


Ibu pun sama, menangis mendengar ucapan ayah.

__ADS_1


"Ayah, ibu, terima kasih sudah melahirkan perempuan seperti Ayu. Yang dengan sabar, mandiri, dan cantik, Toni tidak bisa berkata apa-apa, tapi, inshya Allah, dengan izin Allah, Toni akan menjaga dan menjadi imam buat Ayu."


"Ayah dan ibu lega dan ikhlas melepaskan anak kami. Ya sudah, kami hanya ingin menyerahkan ini dan menyerahkan Ayu kepadamu. Istirahatlah. Besok ayah dan ibu kembali ke kampung. Besok kalian juga harus berangkat ke Bali" ayah bangun dari duduknya, dan menggandeng tangan ibu.


Aku memeluk keduanya.


"Kalau ayah dan ibu berubah pikiran dan ingin menyusul ke Bali, telepon Toni atau Ayu, ya, Bu, yah. Nanti Toni urus semua"


Aku kagum dengan Toni, dia menyayangi ayah dan ibuku.


"Tidak nak, ayah dan ibu harus mengurus kerjaan di kampung" ucap ayah di depan kamar, dan akhirnya mereka kembali ke kamarnya, Toni menutup pintu itu.


"Terima kasih, Ton" aku memeluknya, dan menatap wajahnya.


Toni tersenyum.


"Kenapa masih di sana?"


"Paling sebentar lagi ada tamu lagi" ucapnya sambil duduk di belakang pintu.


Aku tertawa lucu melihat mukanya dan kelakuannya yang seperti anak kecil.


Dan benar saja, pintu diketuk kembali.


"Benar, kan?" ucapnya sambil berdiri, aku tersenyum geli.


"Malam, pak. Ini pesanannya." ucap pegawai hotel itu.

__ADS_1


"Terima kasih" ucapnya sambil memberi tip untuk pegawai itu.


"Tidak usah pak, ini tugas saya."


"Tidak apa-apa, tapi saya boleh minta tolong?"


"Apa itu, pak?"


"Saya minta di pintu saya, ada tulisan, jangan ganggu" ucap Toni.


"Baik, pak" ucap pegawai itu, sambil tersenyum


Aku menggelengkan kepalaku.


Toni mengunci pintunya.


"Kenapa begitu?" tanyaku


"Ayah, ibu sudah datang ke sini, tidak ada yg penting lagi, yang lain pasti ingin mengganggu kita" ucapnya sambil membuka makanan yang dibawa.


"Baby, kita makan sajalah. Aku sudah lapar" ucapnya sambil membuka makanan itu,


"Sini, duduk sini" ajaknya.


Dan kami makan malam bersama di kamar pengantin itu, sesekali dia menceritakan siapa saja yang hadir pada pesta tadi, suasana makan malam kami menjadi sangat hangat dengan cerita-cerita yang membuat kami tersenyum.


Seusai makan, aku segera mandi bersih, dan menyelesaikan tugasku dengan 4 rakaat. Sedangkan Toni sudah melaksanakan duluan, dan sekarang sudah tertidur di atas kasur dengan lelapnya.

__ADS_1


Aku menarik selimutku, ku pandang dia yang sangat lelah,


"Terima kasih, sayang" ucapku sambil merapikan rambutnya yang menutupi matanya.


__ADS_2