
"Maafkan, pak."
"Keluar kau, sangat ceroboh. Kau tunggu saja pesangonmu" ucapnya sedikit keras.
Aku mencubit lengan Toni.
"Sudah, sudah. Aku tidak apa-apa, hanya cidera kecil. Apa dia sering berbuat seperti ini?" tanya Toni.
"Tidak, pak. Biasanya pak Asep mengerjakan dengan benar" jawab seorang pekerja.
"Berarti, ini baru pertama kali. Ya sudahlah. Silahkan kembali bekerja. Biar aku yang bicara dengan pak kepala" ucap Toni.
Mereka keluar kantor yang berukuran kecil itu.
"Sudah, aku tidak akan memperpanjang Masalah. Biarkan dia tetap bekerja." ucap Toni.
"Kau bisa mengendarai mobil kan, Ayu?" tanya Toni.
"Bisa sedikit, pak" jawabku. Aku sudah lama tidak mengendarai mobil. Dan mobil yang dipunya oleh bapakku, juga mobil kijang tua.
"Baiklah, kalau begitu, kau saja yang bawa mobilnya." ucapnya.
"Pak Kepala, kami pulang dulu, tidak usah diperpanjang masalah ini." pesannya, kemudian kami pun keluar dari ruangan itu.
Mereka mengantarkan kami hingga ke samping mobil.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku.
Toni menggeleng.
Kami keluar dari are proyek itu.
Di jalan, kami hanya diam.
Sesekali aku melirik ke arah Toni.
Keringat keluar dari tubuhnya.
Ada yang tidak benar ini.
__ADS_1
"Are you OK?" tanyaku.
Toni hanya tersenyum.
Aku menyentuh keningnya yang penuh keringat, badannya sedikit hangat.
Dia tertidur. Tapi kenapa dia meringis seperti kesakitan.
Aku memutuskan untuk membawanya ke sebuah rumah sakit.
Perawat UGD siap membantu kami.
Setelah Toni dibawa ke dalam ruangan UGD, aku memarkirkan mobil dan kembali ke ruangan itu.
"Silahkan urus administrasinya." pinta perawat itu.
Aku berlari menuju ruang administrasi.
"KTP mbak, dan yang sakit mbak?" pinta petugas administrasi itu.
Aku kembali ke tempat Toni yang sedang tidur disana. Aku merogoh kantong celananya, dan mengambil dompetnya.
Aku hanya mengambil KTPnya, dan langsung memberikan kepada petugas itu.
Mataku melihat ke arah Toni.
"Ini mbak." petugas itu menyerahkan kembali kepadaku, dan aku langsung memasukkan ke dalam dompetku saat itu.
"Gimana, dok?" tanyaku.
"Sepertinya ada keretakan di punggungnya, Bu"
What, aku dipanggil Bu? Setua itukah aku? Tapi, ya sudahlah.
"Kami akan melihat separah apakah keretakan itu."
"Tapi, dia sampai seperti ini, dok. Bagaimana dengan demamnya?" tanyaku penasaran.
"Tidak apa-apa, Suaminya pasti kuat kok, kami bawa ke ruang Rontgen dulu ya Bu" ucap dokter itu tenang, membawa Toni.
__ADS_1
"Aku dimana, yu?"
"Maaf, aku langsung membawamu ke rumah sakit. Kau tadi pingsan"
"Aku tidak pingsan, hanya tidur saja" dalam keadaan seperti itu, dia masih bercanda.
Setelah Toni di periksa, akhirnya, ia harus memakai gips,
"Ini obat yang harus diminum ya, pak. Ibunya tolong perhatikan juga, karena obat ini harus rutin diminum." ucap dokter itu, yang masih mengira kami suami istri.
"Mungkin malam ini, masih demam akibat nyeri itu. Di kompres saja, dan kalau tidak turun juga panasnya, segera kesini lagi ya Bu" pinta dokter jaga itu lagi.
Setelah membayar semuanya, aku memapah Toni ke dalam mobil.
"Aku tidak tau dimana rumahmu" ucapku bingung, belum menjalankan mobil itu.
"Kau ikuti saja kataku" ucapnya sambil meringis.
Aku menghidupkan mesin mobil itu dan jalan sesuai perintahnya.
Dia menyuruhku menghentikan mobil di sebuah rumah. "Tolong masukkan ke garasi saja ya" ucapnya menyerahkan kunci rumahnya.
Rumah bergaya minimalis itu, dengan taman di depan rumah, membuat perumahan itu sangat asri.
Seketika, aku menyukai gaya perumahan itu.
"Suatu saat, aku akan mempunyai rumah seperti ini juga" tekadku berbicara.
Aku memapah tubuhnya masuk ke dalam kamar. Bajunya basah dengan keringat dingin.
"Kau harus mengganti pakaianmu"
Aku segera membuka bajunya.
Walau sedikit risih, aku melihat bidang pada dadanya.
Tapi aku bingung, pakaian apa yang harus dikenakan. Akhirnya aku membiarkan dia istirahat, dengan telanjang dada, aku hanya menutupinya dengan selimutnya.
"Aku permisi pulang" ucapku bangun dari sisi tempat tidurnya, tapi tanganku di tarik olehnya.
__ADS_1
"Jangan pergi"