Sebatas Angan

Sebatas Angan
Handuk


__ADS_3

Akhirnya, surat resmi nikah kami selesai, setelah hakim memutuskan kami berhak memiliki surat itu. Dan secara agama juga negara, pernikahan ini diakui.


Toni menggenggam tanganku saat kami melangkah keluar tempat yang mengerikan itu, sekaligus tempat sejarah bagi kami berdua.


Tapi, belum lagi kami sampai di depan mobil Toni, suara perempuan terdengar, dan Toni menoleh ke belakang.


"Toni?"


Aku ikut menoleh ke belakang, dan genggaman tangan itu dilepaskan Toni.


"Aisyah?"


"Hai, sudah lama sekali tidak bertemu" ucap perempuan bernama Aisyah itu. Dia langsung memeluk Toni, ada rasa sakit saat perempuan itu memeluk Toni. Toni tersadar, dan dia melepaskan pelukan itu.


"Maaf" ucap Toni menghindar.


Perempuan itu melepaskannya, dan Toni segera mendekatiku.


"Siapa dia?" tanya Aisyah.


"Kenalkan, dia istriku. Ayu, ini Aisyah."


Raut muka perempuan itu berubah drastis. Aku tau dia tidak suka dengan kehadiranku.


"Ada keperluan apa kesini?" tanya Toni yang melingkarkan tangannya di pinggangku.


"Apalagi, kalau bukan masalah perceraian. Aku mengajukan perceraian terhadap suamiku. Dia..."


"Oh, maaf, aku menyesal mendengarnya" potong Toni seolah tidak mau mendengarkan cerita Aisyah.


"Kalian, apa yang kalian kerjakan di sini?" tanyanya sambil menaikkan alisnya.


"Bukan urusanmu. Maaf kami duluan, masih ada yang harus aku kerjakan. Ayo, baby" ucapnya segera membukakan pintu mobilnya.


Aku menunduk dan berlalu dari depan perempuan itu, mengikuti ajakan Toni.


Yang hanya aku lihat, raut muka Aisyah tampak begitu kesal.


Toni menyalakan mesin mobilnya, dan tersenyum kepadaku.


Selama perjalanan, Toni hanya diam. Entah apa yang ada dipikirannya.


"Ton.."

__ADS_1


"Yu.."


suara kami bersamaan.


"Kamu duluan deh" ucapnya tersenyum.


"Gapapa kamu duluan deh." Toni memegang tanganku.


"Kita langsung ke kantor?" tanyaku.


"Tidak, kita pulang saja. Banyak yang akan aku diskusikan denganmu"


"Tentang?"


"Kita" jawabnya singkat.


"Kita?" tanyaku


"Ya, kita. Bagaimana kita melanjutkan kehidupan kita dan banyak lagi." ucapnya tersenyum nakal.


Aku hanya menatap keluar jendela sambil bertanya-tanya dalam hati.


"Dia mantan pacarku" ucapnya tiba-tiba.


"Ya, perempuan tadi. Aisyah. Pacarku yang bersamaku sejak SMA. Tapi setelah tamat kuliah, dia menghianatiku, dan menikah dengan orang lain, pejabat di sebuah dinas Kesehatan." jelasnya sambil menampakkan muka sedihnya.


Aku tidak berani menanyakan apa-apa, yang aku tau, dia menunjukkan rasa kecewanya.


"Padahal, aku sudah mengenalkannya kepada mama dan papa, almarhum juga mengenalnya. Dan yang paling menentang hubungan kami itu, almarhum bang Romi."


"Kenapa?" tanyaku.


"Dia pernah melihat Aisyah jalan dengan laki-laki lain, dan aku tidak mempercayainya. Bodohnya aku saat itu. Aku sempat membenci bang Romi. Karena aku pikir, bang Romi cemburu kalau aku sudah mengenalkan Aisyah kepada mama dan papa, sedangkan dia, belum pernah mengenalkan teman perempuannya kehadapan mama dan papa."


Aku terdiam. Bukan inginnya bang Romi seperti itu, tapi, almarhum sering sekali mengajakku ke kediaman keluarga mereka, dan aku selalu menghindar dengan berbagai alasan.


"Tapi aku menyesal tidak mempercayainya. Perempuan itu berhasil memainkan perasaanku. Dan dia menikah tepat setelah kami wisuda. Oh ya, sebenarnya kita seumuran ya dengan perempuan itu" Toni melihat kearah ku.


Aku mengangguk.


Ponsel Toni berdering.


Tapi dia mengabaikannya.

__ADS_1


"Kenapa tidak diangkat?"tanyaku


"Tidak penting" ucapnya.


Dan sampai di depan rumah, aku segera turun dan membuka pintu mobil.


"Baby, kamu meninggalkan ini?" tanyanya dengan sedikit kesal sambil menunjukkan berkas dan surat nikah kami.


"Oh.. sorry, aku kebelet pipis.. Tolong bawain ya" aku berlari menuju kamar.


Ah.. sekalian saja aku mengganti pembalut.


Dan tanpa pikir panjang, aku segera mandi.


Tapi setelahnya, aku lupa, kalau handukku, masih ada di jemuran belakang.


Bagaimana aku mengambilnya. Mau pakai baju ini, aah.. sudah tidak mungkin, karena seharian sudah dipakai.


"Ton.." aku memanggilnya,


"Ya.." aku mendengar suaranya menyahut.


"Tolong ambilkan handukku masih di jemuran belakang."


Tidak ada suara. Aku menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada Toni. Kemana dia.


Aku memutuskan untuk keluar dengan menutup bagian atas dengan pakaian yang aku kenakan tadi.


Tiba-tiba, Toni masuk sambil membawakan handukku.


aaaaaaaahhh.


Aku berteriak.


"Kamu... sana... keluar dulu.." ucapku sedikit berteriak.


Tapi Toni tidak mengindahkannya, dan segera menutup tubuhku dengan handuk yang ada di tangannya.


"Kenapa? Kamu malu?" tanyanya sambil duduk melihatku membenahi handuk.


"Sudah, tidak usah malu seperti itu. Apalagi syarat yang harus aku penuhi, setelah surat nikah kita jadi. Sampai kapan aku menunggu untuk menjadi suami seutuhnya"


Aku hanya membelalakkan mata, dan..

__ADS_1


**Hai readers tersayang, jangan lupa like , komen dan vote sebanyak-banyaknya ya.. 😍😍


__ADS_2