Sebatas Angan

Sebatas Angan
Teman dekat


__ADS_3

Badannya panas, ketika dia menyentuhku.


Apa yang harus aku lakukan.


"Jangan tinggalin aku sendiri" matanya memejam, tapi mulutnya berkata.


Aku memegang tangannya kembali,


"ya, kau istirahat saja" ucapku menenangkan.


Terpaksa aku mencari handuk kecil yang ada di lemarinya.


"Maafkan," ucapku sambil memandang Toni yang masih tergeletak lemah.


Aku ingat, kalau badannya hangat, aku harus mengompresnya.


Aku ke dapur dan membuatkan air hangat untuknya, dan menyuapi obat ke mulutnya.


"Ca, aku gak bisa pulang. Jangan tunggu ya"


ku kirim pesan itu kepada Aca.


Kalau tidak karena menolongku, Toni tidak akan jadi seperti ini. Seandainya aku lebih berhati-hati. Aku mengumpat diriku sendiri.


Ku basahi lagi handuk kecil itu, dan kembali mengompresnya. Dan duduk kembali ke kursi kerja yang ku dekatkan dengan ranjang milik Toni.


Sudah jam 3 pagi. Demamnya sudah turun.


Mataku sudah tidak bisa berkompromi, aku tertidur duduk.


Rasanya baru saja aku tertidur, matahari sudah menerobos ke dalam kamar Toni.


Ku buka mataku, tapi, Toni tidak berada di sana.


"Ton.. Toni" panggilku.


Ia keluar dari dapurnya.


"Aku haus. Kau sudah bangun?" tanyanya.


"Alhamdulillah, kau sudah sehat. Kalau begitu aku pamit pulang ya"


Dia yang telah mengganti pakaiannya, hanya berlalu, kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Aku mengikuti langkahnya, karena ponsel dan tasku tertinggal di kamarnya.


Aku keluar tanpa berbicara sedikitpun kepadanya.


Berjalan tanpa tau, sampai kapan aku menemukan kendaraan umum yang lewat.


"Taxi pun gak ada" aku hanya terdiam.


Kemana ponselku? Kulihat dalam tasku pun tidak ada.


"aaahhhh" aku menepuk jidatku sendiri.


Kan aku charge semalam. Kenapa tidak ingat. Mau kembali lagi ke rumah itu, tapi aku ragu. Tapi,..


Aku memutuskan untuk kembali lagi ke rumah Toni.


Aku sangat ragu menekan bel rumah itu.


Tapi, pintu rumah itu tidak tertutup rapat.


Aku mengetuk pintu rumah itu, seorang perempuan separuh baya menghampiriku.


"Maaf, Bu. Pak Toni ada?" tanyaku


"Saya mau ambil ponsel saya yang tertinggal di kamar pak Toni"


"Oh, jadi mbak ya teman dekat pak Toni, terima kasih ya mbak, sudah menjaga pak Toni semalaman"


Kok ibu ini tau?


Padahal aku belum berkata apa-apa.


"Silahkan mbak." Ibu itu mempersilahkan aku masuk ke dalam kamar Toni.


Ku intip muka melas itu, masih sangat pucat.


"Kenapa kembali?" tanyanya.


Aku terkejut.


"Ponselku tertinggal. Jangan lupa obatnya diminum."


kenapa tidak ada suara, ketika aku melihatnya, ia kembali tertidur.

__ADS_1


Ya sudahlah.


Aku keluar dari kamarnya.


"Mbak, tadi pak Toni berpesan, kalau mbak kembali, mbak diminta membawa mobilnya sekalian. Jadi, lusa, mbak diminta menjemput pak Toni untuk ke kantor" jelas ibu itu.


"Apa? Tidak, bu. Saya naik taxi aja." ucapku menyerahkan kembali kunci mobil milik Toni.


"Tapi, mbak.."


"Gapapa,Bu. Saya bisa pulang naik apa saja. Saya pamit ya, tolong obatnya pak Toni, ada di meja kerjanya."


"Tapi, saya di sini hanya menyelesaikan tugas saya, mbak. Setelah ini, saya harus ketempat lain. Saya tidak bisa merawat bapak"


Prang..


Bunyi gelas pecah dari arah kamar Toni.


Kami berlari menuju kamar itu.


"Kau kenapa?"


"Aku hanya haus"


Aku segera mengambilkan air untuknya.


"Biar saya yang bereskan, mbak" ucap ibu itu mengambil sekop dan sapu.


"Apa kau mau pulang?" tanya Toni.


Aku mengangguk pelan.


"Ya sudah, aku bisa sendiri. Kau pulang saja"


**Hai hai.. Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote ya, terima kasih readers tersayang


Jangan lupa untuk mampir ke novelku lainnya.


* Soulmate


*Status Palsu


* Cinta di atas kontrak

__ADS_1


*Mengejar Cinta Rania


__ADS_2