
"Apa belum cukup 2 tahun dia pergi?" tanya Toni.
"Cukup, Ton." ucapku meninggalkannya dan menutup mataku di atas kasurku, mimpiku, dan pernyataan Toni, membuat aku shock.
"Maaf, Yu. Aku tidak bermaksud seperti ini"
Aku terus menangis.
Tangisku menyatakan sakit dan perihnya hati ini. Aku tidak tau kemana dia pergi, tidak ada tanda-tanda kepergiannya, sejak 2 tahun lalu.
"Sudah, yu. Jangan nangis lagi, nanti dikira orang kenapa" Toni terlihat panik.
Aku bangun dan duduk di atas kasurku.
Ku hapus air mataku.
"Maaf, aku terbawa emosi"
Toni diam, dan kembali ke tempat kami semula.
"Ya sudah, aku hanya saran. Itu juga kalau kamu mau denger. Kalau tidak, ya sudah. Tapi, yang lalu biarlah berlalu. Hidupmu masih panjang. Biarkan dia pergi."
"Tapi aku yakin, dia masih hidup." ucapku.
"Ya sudah, silahkan menunggunya yang tidak pasti. Kamu mau anter aku pulang gak?" tanyanya.
Aku hanya diam.
"Kalau tidak, aku mau pesan taxi online."
"Lah, mobilnya?"
"Ya aku tinggal saja, gimana caranya aku bawa mobil dengan seperti ini? Sekalian saja, kau bermalam di rumahku, jadi besok bisa bareng ke kantor."
"Ide gila" ucapku spontan.
"Ya terserahlah. Aku mau pulang. Ini konci mobilku." dia keluar dan menunggu jemputan.
__ADS_1
Aku membiarkannya pulang, dan segera masuk membereskan sisa makan tadi.
"Kenapa aku mau saja nerima kunci ini?"
Aku memarkirkan mobil itu tepat di depan kamar kosanku.
"Menyebalkan" ucapku, tapi, aku melihat sesuatu yang aneh.
"Apa ini?" aku melihat pass foto berukuran 2x3, dan itu fotoku.
"Kok bisa di sini? Mungkin dari arsip dan tertinggal di sini. Sudahlah"
Aku kembali ke kamarku.
Ku raih ponselku.
Sepi. Dulu, setiap weekend, kami selalu menghabiskan waktu bersama. Tapi, kini...
Foto kami masih tersimpan di ponsel itu.
Walaupin sudah jadul, tapi aku masih sangat menyukai ponsel itu.
Apa artinya mimpiku tadi?
Bang, semoga kau baik-baik saja.
Aku akan menanti, walau harus penantian panjang.
Tapi, bagaimana kalau..
Ada apa dengan mimpiku?
Aku menceritakan kejadian hari ini kepada Aca. Hanya dia tempatku untuk bercerita.
"Mimpi apa itu? Kok gitu? Udah deh, berpositif thinking aja, yang penting kamu doain aja bang Romi, semoga tidak terjadi sesuatu padanya."
"Aamiin"
__ADS_1
"Trus, si Toni bilang gitu? Itu mobilnya sampe di parkir di depan. Kok bisa?"
"Dia minta aku jemput besok. Trus dia naik taxi online. Aneh kan?"
"Lelaki yang aneh. Tapi, menurutku, dia suka deh sama kamu. Kamu ngerasain itu gak?"
"Aku gak pernah mikirin itu"
"Ya, kamu gak bakal peka. Karena rasa sayang dan cinta kamu mengalahkan semuanya. Tapi ya, kamu sadar gak sih, kenapa sampe bang Romi pergi?"
"Gak, aku sama sekali gak pernah tau, kenapa dia pergi."
"Aneh ya. Jadi hubungan kalian itu gantung. Gak ada kepastian kapan dia akan kembali?"
"Aku pernah ketemu bang Guntur, sahabat bang Romi. Tapi saat aku tanya pun, dia menghindar, atau memang dia saat kami bertemu sangat sibuk. Entahlah."
"Apa kau tidak mau membuka hati lagi?"
"Hatiku sudah digembok. Dan kuncinya di pegang oleh bang Romi." Aku tertawa.
"Sudahlah. Besok aku harus menjemput bos." lanjutku menarik selimut.
"Bagaimana kalau Toni benar-benar cinta sama kamu? Kamu harus gimana?"
"Dia tau kok, aku punya pacar. Cukup tau itu saja. Jadi mau mendekatiku itu salah"
"Astaga Ayu, kamu hanya dipermainkan oleh perasaan yang belum tau jawabannya"
"Aku akan menunggunya, walau itu sebatas angan saja. Dan cukup dengan ia datang dalam mimpiku, membuktikan bahwa dia masih merindukanku" Aku memang cengeng. Dengan kalimat yang aku keluarkan sendiri saja, aku meneteskan air mata.
**Hai hai.. Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote ya, terima kasih readers tersayang
Jangan lupa untuk mampir ke novelku lainnya.
* Soulmate
*Status Palsu
__ADS_1
* Cinta di atas kontrak
*Mengejar Cinta Rania