Sebatas Angan

Sebatas Angan
Dalam mimpi


__ADS_3

"Kau mau mampir?" tanyanya,


Aku menggeleng.


"Aku tidak akan berbuat seperti tadi lagi. Aku janji" dia meyakinkanku.


"No, thanks. Sudah malam juga, aku lelah."


"Ya sudah, pulanglah"


aku melihat ia memunggungiku.


Deg,


Sepertinya aku tidak asing dengan punggung itu.


Ah, sudahlah. Aku berlalu dari rumah itu.


Sampai di kosan, aku langsung membasuh badan dan berbaring. Perjalanan menjadi sopir pribadi Toni sangat melelahkan.


"Yu.. Jangan banyak nangis ya sayang. Aku pergi dulu ya."


Suara itu, dan saat aku berbalik arah bang Romi sudah berlalu.


Kalimat itu jelas di telingaku. Aku terbangun dalam keadaan basah dengan keringat.


"Kenapa? Mimpiin bang Romi lagi?" tanya Aca yang masih terjaga.


Aku memeluk Aca.


"Dia cuma berpesan, agar aku jangan banyak nangis. Tapi, dia membuat aku menangis"


"Sudah, doakan saja dia baik-baik. Kamu pasti belum sholat isya kan? Sana wudhu. Doain dia." Aca menenangkanku.


Aku pergi dari samping Aca, dan menunaikan sholat isya. Ya Allah, kalau memang dia jodohku, kembalikan dia untukku. Kalau dia bukan jodohku, tenangkan hati ini, dan berikan jalanmu.

__ADS_1


Aku membuka layar ponselku.


"Udah malem, istirahat" sebuah pesan dari Toni,


Bagaimana dia tau kalau aku sedang online.


"Ya"


"Kenapa belum tidur?"


"Hm"


"Ya sudah, tidurlah, selamat malam"


Orang aneh, aah. sudahlah. Biarkan saja dia.


Aku menarik selimutku lagi.


"Baca doa dulu" Aca mengingatkanku.


Tapi aku tidak keluar dari mobil itu.


"Yu, kamu di depan?" suara itu membangunkan hayalanku.


"Tunggu sebentar ya" ucapnya dengan penuh semangat.


Karena semalam aku terjaga dari tidurku, aku merasa mengantuk sekali. Kupejamkan kembali mata ini, tapi jendela pintu mobil di ketuk Toni. Aku menyerahkan kunci mobil kepadanya.


"Kau saja yang bawa ya" ucapku tanpa minta jawaban darinya. Toni hanya diam.


Dan tak lama mobil itu berjalan, aku tertidur. Mataku sangat mengantuk.


Entah kapan kami sampai di kantor, mata Toni tertuju melihatku. Aku malu.


"Maaf. Kenapa tidak membangunkanku kalau sudah sampai?"

__ADS_1


Toni tersenyum dan menggeleng.


"Minum dulu." Ia membukakan sebuah botol air mineral dan menyerahkannya ke tanganku.


"Apa sudah enakan? Makanya jangan begadang" ucapnya.


"Siapa yang begadang?"


"Terus kalau bukan begadang apa namanya? Tengah malam masih online"


"Kalau tidak tau, jangan menyimpulkan sesuatu deh. Udah ah, aku gak mau berantem pagi-pagi."


"Yang berantem siapa? Aku hanya peduli. Apa salah?"


"Ya gak salah, tapi, kamu mah posesif jadi orang." ucapku


"Kamu sangat berbeda dengannya" ucapku pelan, sambil merapikan rambutku.


"Mana ada orang yang sifatnya sama, walaupun itu saudara kandung ataupun saudara kembar. Aku ya aku. Lagian siapa yang mau di samain sama mantanmu".


"Hei, aku tidak pernah putus darinya, ya. Jadi, dia bukan mantanku. Tetapi masih kekasihku. Sudahlah. Aku berjanji tidak akan banyak menangis kepadanya"


"Hah, memangnya kalian ketemuan? Dimana?" tanyanya penasaran.


"Dalam mimpiku, lah" sambil keluar dari mobil dan menutup pintunya.


"Hahahah, dasar aneh. Jadi kalian pacaran lewat mimpi"


"Cukup dia datang dalam mimpiku, membuat rasa rinduku berkurang sedikit"ucapku cuek.


"Perempuan halu"


"Terserahhh" aku sampai di mejaku, dan di kantor itu belum banyak yang datang.


"Nanti jangan sampai pulang sore. Paham" ucapnya sambil memukul mejaku, dan berlalu menuju ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2