Sebatas Angan

Sebatas Angan
Plester oBat


__ADS_3

Aku membelalakkan mataku.


hisss.. Desisku.


Ina yang mendengar, melirik ke arahku.


"Kenapa, Yu" tanya Ina


"Gapapa," ucapku sambil menutup berkas yang sedang aku kerjakan.


"Ayo, dear. Kita ke ruanganku saja. Di sini nanti mengganggu konsentrasi karyawan.


Ina, tolong bawakan minuman ke ruangan saya, ya"


"Siap, pak"ucap Ina, bangun dan segera ke dapur.


"Oh ya, bawakan juga cemilannya ya" ucap Toni sambil merangkul mbak Angel.


Sedekat itu mereka. Sampai harus cipika-cipiki, dan merangkul. Ini kan kantor.


Pekerjaanku tidak bisa fokus, selalu salah, hingga aku harus membolak balikkan kertas-kertas itu.


"Apa salahnya sih kertas itu, kasian sekali mereka, tidak bersalah tapi jadi ungkapan kekesalan" Ina yang memperhatikan aku sejak keluar dari ruangan Toni, menepuk pundakku.


Aku mengeluarkan Snack yang aku bawa.


"Kamu mau?" tanyaku.


Ina seperti melihat harta Karun ketika aku membuka tas tentengan ku.


"Waahh... keren. Aku bisa minta dong" ucap Ina sambil mencomot beberapa Snack.


"Ngapain aja di dalam?" tanyaku yang sedikit penasaran. Ya bukan sedikit aja, tapi aku merasa gerah melihat mereka.


"Mereka sedang duduk di sofa, berbicara santai. Mesra sekali. Aku rasa mereka punya hubungan deh" ucap Ina sambil bekerja tapi mulutnya penuh dengan makanan.


Aku mendengarnya langsung makin emosi.


Dan tanpa sengaja, aku menjatuhkan gelasku.


"Ayu.." teriak Ina.


"Maaf."


"Sebentar, aku akan meminta OB untuk membersihkannya" ucap Ina memanggil OB kantor.

__ADS_1


Tapi, Toni tidak keluar dari ruangannya, atau hanya mengintip keluar sebentar saja. Heh.. aku kesal sekali. Tapi kenapa aku sekesal itu. Dia bukan siapa-siapa aku kok. Dia hanya laki-laki yang berstatus suamiku saja. Tapi bukan orang yang aku pilih. Kekesalanku menjadi-jadi.


"Maaf merepotkan, ya pak" ucapku, ketika OB datang membersihkan pecahan gelas itu.


"Gapapa, mbak Ayu. Kan memang tugas saya" jawabnya kemudian dia pamit untuk keluar kantor itu.


Aw.. aku meringis.


"Kenapa, Yu. Waduh, jarimu berdarah" Ina heboh sendiri. Ia menekan-nekan jariku


"Ada sisa pecahan belingnya. Sebentar ya. Kamu harus tahan sebentar aja"


"Kamu gapapa, Yu?" tanya Arya mendekat,


"Aku ambilkan plester obat ya" Arya berlari mengambil kotak P3K kantor.


"Nah.. udah nih.. Bentar" ucap Ina mengambil tisue di tasnya.


"Aku gapapa kok teman-teman." ucapku.


Ina membersihkan sisa darah yang keluar dari jari tengahku.


Arya memasangkan plester obat ke jariku.


"Nanti ya, ada saatnya." ucap Arya.


"Aku kira kamu dan pak Toni pacaran, ternyata dia kalah cepat. Hahahha" kami tertawa bertiga.


Ehem.. Suara Toni mengagetkan kami bertiga.


"Ini kantor, bukan warung kopi yang bisa dipakai untuk bermain" ucapnya sambil berlalu bersama mbak Angel.


Aku melotot melihat Toni yang sudah berlalu.


"Sudah-sudah, bubar, nanti dia balik lagi dan masih lihat kita berdiri, ribut lagi" ucapku kemudian kami kembali ke meja masing-masing.


Jam makan siang, hampir tiba, aku melirik ke jam dinding yang ada di dinding kantor.


Pekerjaanku harus selesai target.


Dan akhirnya, istirahat pun tiba. Aku meregangkan ototku,


"Ayo makan" ajak Ina.


"Ayo, aku udah janjian juga sama Arya. Makan bareng yok, Na" ajakku balik.

__ADS_1


"Okeee" kemudian kami bertiga berlalu dari tempat itu.


Saat makan aku melihat di ponselku, banyak pesan WA dari Toni.


Apa ini, Kenapa aku di bom begini.


Ku intip ponselku.


P


P


P


P


Kamu gapapa kan?


P


P


P


P


Apa harus ke doker?


P


P


P


P


Aku tersenyum, dan tidak membalasnya.


"Jadi gimana, Yu? Kamu beneran nih sama yang itu? Kalau udah pas banget, kita temui dia. Baik kok orangnya" Arya membuka pembicaraan setelah kami selesai menyantap makan kami.


"Oke. Nanti pulang kerja, ajak aku temui dia ya"


Ina bingung dengan pembicaraan kami, hanya melirik kami berdua. Dan kami pun tertawa melihat tingkah laku Ina.


**Jangan lupa untuk like, komentar dan vote ya.. Terima kasih😍😍

__ADS_1


__ADS_2