Sebatas Angan

Sebatas Angan
Cemburu #2


__ADS_3

"Udah, cukup.. capek" ucapku duduk di sofa dengan nafas tersengal-sengal.


Toni merebahkan tubuhnya dipangkuanku.


"Awas, sana. Aku belum selesai cuci piring" ucapku sambil mengangkat kedua tanganku karena masih penuh dengan sabun.


"Nanti tanganku kering. Minggir"


Aku bangun dari tempat dudukku.


"Aww" ucapnya


aku hanya tersenyum malu.


"Yu, laper lagi gak?" tanyanya setelah aku membersihkan tanganku.


"cari makanan yok" ajaknya menarikku keluar dan masuk ke dalam mobil.


Toni menghentikan mobilnya di depan , dan memesan makanan siap saji.


"Mau pesan apa lagi, nyonya?" tanyanya.


"Cukup, nanti kamu kekenyangan."


Dan kami berlalu dari tempat itu.


Sampai di rumah, kami menghabiskan waktu bersama di depan televisi, sambil makan dan bercerita.


"Kamu akrab banget ya sama mbak Angel"


"Hm.. Kamu cemburu ya?" Toni tersenyum puas.


"Kata siapa?"


"Kamu sampai memecahkan gelasmu"


Aku diam saja seolah tidak mendengar.

__ADS_1


"Mbak Angel itu kakak kelasku dulu, dia seangkatan dengan bang Romi, dan sahabat bang Romi. Dan dia sudah dianggap anak oleh mama. Makanya aku sangat akrab dengannya. Lagian, dia udah punya anak. Iya kali aku naksir dia, udah bener punya istri cantik, ngapain naksir tante-tante."


Aku terdiam lagi, ternyata aku sudah salah menduga terjadi sesuatu antara mereka.


"Kamu tidak marah lagi, kan?" tanyanya.


"Aku gak marah"


"Kamu gak cemburu lagi kan? Tadi dia nanya, yang mana namanya Ayu. Karena mama cerita kalau aku sudah menikah denganmu. Tapi aku bilang, jangan di kantor. Karena kita berkomitmen belum ingin memberi tahu semua, masalah pernikahan kita"


Aku hanya melongo. Mama udah cerita, sekarang hanya mbak Angel. Nanti siapa lagi. Aku harus apa. Mana mungkin aku bilang ke mama jangan ceritakan hal pernikahan ke orang lain.


"Kamu yakin tidak cemburu tadi? Aku lihat muka kesalmu saat aku dekat dengan mbak Angel."


"Ge er banget" ucapku membuang muka. Padahal aku memang cemburu tadi. Tapi kan aku tidak boleh terlihat seperti itu.


"Oh ya, kamu kemana tadi?" tanyanya


"Aku beli motor second"


"Motor? Second? Kamu? Kenapa tidak bilang? Kenapa beli motor? Sudah di bayar?"


"Berapa harganya?"


"9 juta. Dan besok diantar ke kantor"


"Aku bukan tidak setuju, tapi resiko bermotor itu lebih besar."


"Kan dekat juga jarak dari sini ke kantor."


"Tetap saja, beda halnya dengan mobil. Aku takut terjadi sesuatu nantinya."


"Aku akan baik-baik saja. Lagian kita berangkat bareng. Dan kamu kan ada di belakangku. Bagaimana?"


Toni diam memandangku.


Kemudian dia mengambil tanganku.

__ADS_1


"Janji tidak akan terjadi apa-apa nantinya"


Aku mengangguk.


"Baiklah, aku akan mengikuti kemauanmu"


kemudian dia kembali membaringkan tubuhnya di pangkuanku. Dan entah kenapa, dia terlihat tertidur pulas. Ketika aku hendak bangun, tanganku di tarik Toni, dan aku tidak bisa bergerak.


Huaaaaahhh..


Ku regangkan ototku.


Aku hanya sendiri di atas sofa itu,


Aaw.. Kakiku seperti kesemutan.


Jam di dinding masih menunjukkan pukul 03.15.


Kenapa aku di sini?


Oh.. Semalam aku pasti tidur dalam keadaan duduk.


Aku jalan dengan terseok-seok, kakiku rasanya sakit sekali.


Kemana Toni?


Dimana dia?


Aku menoleh ke segala arah, dia tidak ada.


Aku berniat melanjutkan tidurku, dan melangkah ke kamar tidur.


Siapa itu.


Apa itu?


Apa itu?

__ADS_1


Aaaahhh..


Aku berteriak.


__ADS_2