
"Kenapa kami mau menerima amanat dari bang Romi?" tanyaku.
"Karena aku mencintai abangku. Awalnya, aku tau kamu karena kita adalah karyawan di tempat kerja. Bang Romi memberikan fotomu. Tanpa kamu sadari, awal aku bertemu denganmu, membuat aku kesal. Ternyata ini perempuan yang membuat bang Romi keluar dari rumah. Tapi akhirnya aku tau, kesederhanaanmu, yang membuat hatiku luluh, dan mau mengenalmu. Selama 2 tahun aku sering mencari tau, bagaimana kamu. Dengan siapa saja kamu bergaul. Dan cinta itu tumbuh secara tiba-tiba. Apalagi, saat kamu menjagaku ketika tanganku retak. Ketulusanmu membuat aku yakin denganmu. Dan ternyata, doa yang aku panjatkan di sepertiga malam ku, dikabulkan oleh Allah."
Aku hanya mendengarkan ceritanya, tanpa berkata sepatah pun. Dia melanjutkan ceritanya.
"Dan ketika ayahmu meminta aku menikahimu, aku benar-benar seperti mendapat jawaban dari semua. Dan aku merasa perjalanannya tidak ada halangan"
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanyaku.
Toni mengangguk, "Ya"
Aku tersentuh dengan ceritanya.
"Aku mencintaimu."
Aku menatap matanya dengan dalam-dalam.
"Apa kamu tidak akan menyesalinya?" tanyaku lagi.
Toni menggeleng., "Tidak. Inshya Allah. Karena jalan Allah mempertemukan kita dengan cara yang indah."
"Bagaimana kita memberitahu teman-teman kantor? Dan bagaimana kalau kantor tau, kita tidak akan boleh sekantor lagi"
"Aku belum memikirkan itu" ucapnya sambil menaikkan alisnya.
"sudahlah. aku akan mencari jalan keluar. Aku akan berkonsultasi dengan papa."
"Kenapa papa?"
"Papa kan direksi utama di tempat kita"
Hah.. aku sudah menjadi menantunya hampir 1 bulan, dan baru tau kalau papa adalah direksi utama? Pemilik perusahaan itu.
__ADS_1
Aku menahan dadaku, yang tersedak air mineral. Toni menepuk pundakku pelan.
"Yok, kita jalan. Siapa tau ada yang bisa kita makan" ajaknya.
Aku memang menahan lapar dari tadi juga, semalam kan aku tidak makan. Jadi sekarang perutku meronta-ronta karena minta diisi.
Batagor, cireng, susu kedelai, akhirnya masuk ke perutku.
Toni menghentikan langkahnya, ia melihat-lihat helm.
" Ini ada pasangannya tidak, pak?" tanya Toni.
"Sebelah sini, mas yang ada pasangannya" ucap pedagang itu"
"Hm.. kamu suka yang mana?" tanya Toni.
Aku memilih corak yang bisa kami pakai bersama. Dan aku menjatuhkan di helm berwarna Biru Dongker dengan motif bayi lucu.
"Wah.. bagus sekali pilihan mbaknya. Dan semoga mas dan mbaknya segera dapat momongan ya" ucap bapak itu.
"Aamiin. Doakan ya pak. Istri saya itu masih malu-malu" ucap Toni.
Aku mencubit lengannya.
Bukan maksudku seperti itu.
Aah.. jadi malu.
Toni membayar 2 helm itu.
"Nanti pulangin helm si Arya. Jangan pinjem sama dia lagi. Oke, baby" ucapnya,
Dia lari ketika aku hendak memukulnya.
__ADS_1
"Ke pasar yok." ajakku.
"Oke nyonya Toni Wijaya Putra. Hamba akan mengikuti kemana nyonya melangkah"
lagi-lagi Toni mebuat aku tersenyum malu pagi itu.
**
Sayur, ayam, ikan, telur, sudah di tangan kami.
"Aku rasa cukup." ucapku sambil keluar dari pasar itu.
"Nikmat ya, pacaran halal seperti ini, aku tidak takut dosa kalau berdekatan denganmu, tidak seperti waktu itu, kamu sakit, memelukku. Aku rasa bingung sekali" ucapnya di atas motor.
Aku memukulnya dari belakang.
Malu rasanya kalau ingat itu.
Tapi, aku tersenyum lagi.
"Senyumnya cantik sekali, tapi senyum itu hanya boleh diberikan untukku saja, OK" ucapnya sambil melirik ke spion motor.
Aku menutup mukaku.
**Hai hai.. Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote ya, terima kasih readers tersayang
Jangan lupa untuk mampir ke novelku lainnya.
* Soulmate
*Status Palsu
* Cinta di atas kontrak
__ADS_1
*Mengejar Cinta Rania