
Aca menggeleng.
"Sahabatku sudah menjadi milik orang lain."
"Tidak, tidak. Aku akan tetap menjadi sahabatmu, dan akan selalu menjadi sahabatmu. Aku juga masih tinggal di kosan kita. Aku tidak akan kemana-mana. Kita masih akan bersama, Ca"
Toni membelalakkan matanya.
"Tidak. Aku tidak mau menjadi sahabat yang jahat. Kamu harus mengikuti jejak suamimu, kemana dia, kau harus ikut. Aku tidak akan egois. Aku merelakanmu untuk bahagia. Doaku sudah didengar Allah. Tidak akan ada air mata lagi, dan Ayuku, akan hidup bahagia"
Tumben Aca berbicara seperti orang dewasa, biasanya, dia selalu jadi orang yang sangat pemarah, kalau aku merahasiakan sesuatu darinya, 7 tahun kami bersama dalam 1 atap yang sama, dan aku sudah tau sifatnya, baik dan buruknya. Bukan kami tidak ingin pisah, tapi ikatan kami kuat.
"Yu, aku berangkat kerja dulu ya. Ini dimakan." Aca membawakan aku buah-buahan segar, karena ia tau aku paling suka makan buah.
"Ton, aku berangkat ya. Jagain sahabat aku" Aca keluar kamar itu dengan senyuman.
"Yu, aku juga mau pulang dulu, mau ganti baju dan berangkat ke kantor"
"Bagaimana urusan kantor? Surat sakitku sudah ada kan? Aku masih mau kerja. Masih mau menghasilkan uang sendiri."
"Surat sakit? Hahaha. Kamu itu istriku, dan aku tau kamu benar-benar sakit. Ada-ada saja. Lagian, siapa yang menyuruhmu untuk resign. Kalau kamu resign, dan pindah kerja, kamu bisa main mata dengan lelaki lain." guyonannya tidak lucu sama sekali.
"Istirahatlah. Nanti siang, mungkin teman-teman kantor akan kemari." ucapnya, dan mengelus rambutku.
Aku sekarang sendiri.
Apa yang harus aku kerjakan.
Aku merasa benar-benar sehat. Dan aku ingin sekali pulang ke kosan, dan beraktifitas seperti biasa.
__ADS_1
Perawat datang untuk membersihkan ruangan kamarku,
"Gimana rasanya jadi istri, Bu?" tanya perawat itu menggodaku, dan setelah merapikan ruangan itu mereka pamit.
"Sebentar lagi, dokter visit ya Bu" ucap mereka dan akhirnya hilang dari pandanganku.
Aku tersenyum. Kejadian kemaren membuat aku malu.
Toni masuk ke ruangan, berbarengan dengan dokter yang visit hari itu.
"Dok, saya boleh pulang tidak?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Boleh kalau ibu sudah sehat. Lagian tidak enak ya Bu, masa pengantin baru harus terpisah seperti ini" ucap dokter itu masih bercanda, sambil melihat hasil pemeriksaan.
"Semalam sudah tidak demam lagi, kan. Baiklah, sore ini boleh pulang, habiskan dulu infusan ini. Tapi, jangan makan sembarangan dulu ya. Istirahat yang cukup. Dan perbanyak konsumsi air minum. Nanti tolong di perhatikan makan nyonya nya ya pak" ucap dokter menepuk pundak Toni.
"Kalau obatnya habis, nanti cek up lagi ya. Untuk sementar seminggu ini istirahat dulu, jangan kerja dulu ya" ucap dokter itu, seraya melepaskan senyumnya.
"Nanti aku kembali, mereka sudah ada di bawah" ucapnya langsung keluar kamar.
Ina meleponku.
"Yu, di lantai berapa? Si bos nanya nih"
Hah.. si bos nanya, padahal dia tau persis ruangan ini. Tapi baguslah, paling tidak dia menepati janjinya.
"Di lantai 3, kamar nomor 336" jawabku.
Tak berapa lama,mereka sudah sampai di ruanganku,
__ADS_1
"Hai, Ayu.. Wah.. Kamu bisa sakit juga ya. Aku kesepian tidak ada kamu" suara Ina memecah keheningan ruangan itu.
"Kemarin si bos bilang kalau kamu sakit. Maaf ya, kami baru jenguk sekarang" ucap Jimi.
"Bos ini, kami nunggu lama di bawah, makan siang kemana sih bos" hanya Ina yang berani berbicara seperti itu, sambil mendekatiku.
"Tapi, kamu sepertinya sudah sehat. Ayolah, aku tidak ada teman ngobrol. Cepet sembuh ya."
Aku memegang tangan gempal Ina.
"Eeh.. cincin apa ini? Sepertinya aku baru lihat, kamu pakai cincin ini deh. Tapi, kok seperti cincin pernikahan"
Aku dan Toni terkejut, Toni tersedak.
"Kasih bos minum dulu." ucap Jimi.
"Wah, si bos telat. Ayu udah direbut orang." canda Ina lagi.
"Coba aku lihat cincinnya"
Mata Toni membelalak lagi.
"Ina, kamu ini mau tau aja. Kepo banget sih" ucap Toni gugup. Di cincin itu tertulis nama Toni dengan jelas.
**Ada-ada saja si Ina.
Kepo banget jadi orang.
Kalau kalian tetap kepo dengan lanjutan cerita ini, jangan lupa like, dan komentar ya.
__ADS_1
Terima kasih😍😍