
"Kenapa semua orang jahat padaku? Apa salahku? Apa dosaku?" ucapku terus menangis dan memukul pundaknya.
Semakin aku memukulnya, semakin erat ia memelukku.
Akhirnya aku pasrah dengan pelukan itu, ada rasa nyaman saat itu.
Aku membutuhkan sandaran untuk aku menceritakan hidupku. Sejak dia pergi, dari hidupku, ku merasa sepi. Dia meninggalkan aku sendiri, tanpa satu yang pasti. Terkadang aku bingung, aku tidak tau harus bagaimana. Aku sendiri. Yang aku tau hanya bang Romi.
Tapi, malam ini, aku merasakan hangatnya pelukan seorang lelaki, dengan lebar dadanya hampir mirip dengan bang Romi. Aroma parfum ini.
Aku terjebak dalam nostalgia mengenang dia kembali. Tangisku yang tadinya reda, kini kembali membasahi pipiku.
Aku mencium aroma tubuh itu.
Aku merindukannya.
Kali ini, aku yang memeluk Toni.
Ku peluk ia dengan erat.
"Aku rindu kamu, bang" kata itu keluar dari mulutku.
Toni yang mendengar, langsung melepaskan pelukan itu.
"Aku bukan Romi. Aku Toni" ucapnya berdiri meninggalkan aku.
Aku terdiam, dan hanya melihat bayang itu pergi dari kamar miliknya.
Aku merebahkan tubuhku, dan menarik selimut tebal itu. Rasanya tidak enak sekali, kepalaku berat, badanku sakit, dan dingin.
Entah bagaimana aku tertidur.
"Ayu, mau ikut Abang?" sambil berjalan di taman yang penuh dengan bunga itu lagi.
__ADS_1
"Mau bang. Abang jangan pergi lagi" aku memeluk pinggangnya
"Tapi, kemarin Abang ajak, ayu tidak mau"
Aku terdiam.
"Nanti ada saatnya kita kembali bersama. Sekarang, Ayu harus menjalani hidup dulu ya. Abang akan menanti Ayu"
Kemudian, dia meninggalkan aku lagi.
Aku hanya berteriak memanggil namanya.
"Bang.. Bang.. Jangan pergi bang.. Bang.." Aku menangis.
"Yu... Ayu..." seseorang membangunkan tidurku. Aku merasakan handuk basah di keningku. Toni duduk atas di kasurnya.
Aku yang masih merasa sedih, dan sesegukan, terbangun dari mimpiku.
"Terima kasih," ucapku,
"Sudah, kamu tidur lagi." ucapnya membelai rambutku.
Ternyata, dia merawatku semalaman.
Ketika aku bangun dari tidurku, aku melihat Toni di sampingku. Aku tidur memeluknya dan ada di lengannya?
Apa yang terjadi?
Aku menutup mataku, dan hendak turun dari kasur itu, tapi dia menarikku.
"Mau kemana"
"Aku mau pulang"
__ADS_1
"Istirahat saja dulu, ini hari Sabtu. Kantor juga tutup" mulutnya berbicara tapi matanya tertutup.
"Ada apa semalam?" tanyaku
"Tidak terjadi apa-apa. Kamu menarikku, dan tidur di lenganku saja"
"Apa?" aku menepuk jidatku.
"Kamu tidak mengambil keuntungan dari kejadian semalam kan?" teriakku.
"Wah, kami sudah sehat. Sudah bisa meneriaki ku lagi." Toni bangun dan menyenderkan punggungnya di pinggir tempat tidur.
"Apa-apaan sih. Pikiran kotor dari mana itu. Bukannya berterima kasih karena sudah merawatku, malah aku dapat teriakan. Sudahlah, aku mengantuk. Kamu tidak tau jadi aku kan, harus menahan segalanya"
"Mana ponselku?" aku mencari ponselku yang ada di dalam tas.
"Itu, aku charge, semalam Aca menelpon terus. Jadi aku angkat saja, dan aku bilang, kamu sedang bersama denganku malam ini"
dia itu, bisa-bisanya tidur sambil ngomong.
"Apaaaaa?" Aku membelalakkan mata.
"Kamuuuuuuu" teriakku lagi.
"Stt.. ini masih pagi, nanti tetangga dengar kalau kau ada di rumahku"
"Kalau begitu, antarkan aku pulang"
"Beri aku waktu 2 jam untuk istirahat, Ok" kemudian dia tidak bersuara lagi.
Aku mendekatinya, dan melihat ke mukanya yang tenang. Nafasnya teratur. Dia benar-benar tertidur? Aku memutuskan untuk mengambil pakaian yang basah semalam. Hendak mengeringkannya. Tapi ternyata di luar masih rintik-rintik. Semalaman hujan?
Rumah ini, sudah lengkap. Sampai mesin cuci pun sudah ada, padahal, pakaiannya dia selalu bawa ke laundry.
__ADS_1