
Malam itu juga, ayah dan ibu kembali ke kampung.
"Ingat ya nak. Jaga anak ayah. Jangan sakiti hatinya. Jangan membuat ia menangis. Kalau saja ayah mendengar suatu kejadian yang menimpa Ayu, tidak cuma seperti kejadian tadi pagi." Ayah menepuk pundak Toni.
"Yah, Bu.." aku memeluk keduanya.
"Cepat sembuh ya nak."
"Kami pamit ya, nak Toni."
Toni mengantar ayah dan ibu ke parkiran.
Mereka diantar ke stasiun oleh supir kantor.
Rencana mereka untuk sedikit lama menemaniku, bubar karena kejadian yang seperti tadi.
Suara langkah memasuki ruangan, semakin lama semakin dekat. Aku pura-pura memejamkan mata dan menutup sebagian tubuhku dengan selimut.
Toni mendekatiku, dan berkata
"Ayah dan ibu sudah berangkat. Istirahatlah, kau pasti lelah dengan kejadian hari ini."
kemudian ia mengelus rambutku, dan mencium pipiku.
Malam ini, aku sudah tidak demam lagi, dan bisa tidur dengan tenang. Suhu badanku juga sudah berangsur normal. Ketika aku bangun, aku melihat Toni yang tidur di kursi sambil memegang tanganku.
Aku melepaskan tanganku.
__ADS_1
Toni terkejut, dengan gerakanku.
"Sudah bangun?" tanyanya.
"Suhu badanmu sudah normal. Aku memeriksa setiap waktu."
Aku melepas cincin yang ada di jari manisku.
"Kenapa dilepas?" tanyanya heran.
"Pernikahan ini palsu, kan? Tidak sebenarnya kan?"
"Apa maksudmu?"
"Kamu menikahiku karena desakan orang tuaku, kan? Aku kembalikan cincin ini. Bersikaplah normal, aku adalah bawahanmu di kantor. Jangan sungkan memberikan aku pekerjaan." ucapku menyerahkan cincin itu ke tangan Toni yang putih.
Kami tidak tau, kapan Aca masuk dan mendengarkan pertengkaran kami.
"Apa ini maksudnya?" tanya Aca.
"Oh.. eh.. Ca.. kapan sampai" tanyaku menyembunyikan jariku.
Aca menghampiriku, dan menarik tanganku.
"Aww" teriakku, karena Aca mengenai jarum infusku.
Toni spontan menarik kembali tanganku, dan meniup dan mengelus tangan kananku yang masih terpasang infus.
__ADS_1
"Apa ini? Kalian.. Kalian sudah menikah? Dalam sehari saja, aku tidak ada, kalian sudah menikah, dan aku tidak tau?" Terlihat kekecewaan di muka Aca.
Aku menepis tangan Toni.
"Ca, bukan begitu" kuraih tangan sahabatku.
"Aku sahabatmu, Yu. Aku bersamamu setiap hari. Tapi, kabar ini tidak aku ketahui. Rahasia apalagi yang belum aku ketahui."
"Maafkan aku, Ca. Ini tidak seperti dugaanmu. Ini semua salahku."aku memegang erat tangan sahabatku itu.
"Tidak, ini semua salahku. Aku yang harus dipersalahkan" ucap Toni.
"Aku tidak mau kalian saling salah. Sekarang, ceritakan semua kepadaku"
Toni menceritakan semua.
"Malam itu, suhu badan Ayu sangat tinggi. Walau sudah dikasih obat, dan selimut, badannya tetap gemetar. Ayu menarikku, dan aku tidur disampingnya sambil memeluknya. Aku tidak melakukan apa-apa,"
Aku dan Aca membelalakkan mata. Aku sendiri tidak tau kejadian malam itu, kami saling pandang.
"Lalu" ucap Aca.
"Aku merasa baru saja tidur, saat kedua orang tua Ayu sampai. Dan aku kaget, ketika ayahnya Ayu memukulku dan mengejar ku. Aku diminta pertanggungjawaban atas perbuatanku. Aku pulang ke rumah orang tuaku, dan berbicara kepada mereka. Mereka menyetujui permintaanku. Dan semua terjadi begitu cepat dan semua dipermudah" jelas Toni.
"Tapi, bagaimana mungkin kedua orang tuamu begitu cepat menyetujui semua."
Toni menarik tangan Aca keluar dari kamar, entah apa yang mereka bicarakan. Dan saat mereka masuk kembali, mata Aca berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ca, ada apa?" tanyaku.