Sebatas Angan

Sebatas Angan
Kopi


__ADS_3

Siang itu, aku sengaja ingin makan siang keluar kantor. Ku pasang earphone, dan jalan keluar pintu kantor. Kucari lagu yang aku suka, tiba-tiba, aku menabrak seseorang.


"Maaf, maaf" Kulihat beberapa buku jatuh dan berserakan di lantai.


Aku menyusun buku-buku itu.


"Tidak apa-apa, mbak" aku hanya mendengar kecil suara itu, yang kalah dengan suara musik yang ada di telingaku.


"Ini, saya minta maaf."Ucapku sambil menunduk dan melepas ear phoneku


"Tidak apa-apa. " ucapnya. "Ayu." lanjutnya.


"Bang Guntur? Wah kebetulan sekali. Abang ada waktu, kita makan bareng yok" Aku menarik bajunya, kali ini, aku tidak akan melepaskan saksi kunciku.


"Duduk, bang. Mau pesan apa?" tanyaku.


"Aku sudah makan sih tadi. Aku ngopi aja deh." ucapnya sambil meletakkan tas dan bukunya.


"Banyak amat bukunya?"tanyaku.


"Ya, aku memerlukan mereka ini," ucapnya bercanda.


Makanan sudah sampai di meja kami.


"Aku makan ya mas, tidak sarapan pagi tadi. Hehe"


"Pantas saja, dia sangat mencintaimu." gumamnya pelan.


Uhuk.uhuk.

__ADS_1


Aku tersedak.


Bang Guntur memberikan aku minum.


Tanpa kusadari, sepasang mata melihat kami.


"Pelan-pelan, Yu." ucapnya pelan sambil menepuk punggungku.


"Makasih bang" suaraku yang masih menyisakan sakit akibat tersedak tadi, keluar dengan pelan.


Aku melanjutkan makanku.


"Kamu masih di tempat lama?" tanyanya.


"Masih kok bang. Tapi aku berencana beli rumah, tapi, aku sedih kalau harus keluar dari


sana. Tempat itu adalah tempat pertemuan aku dan dia, Bang. Oh ya, kemarin aku tanya, kemana bang Romi, bang Guntur tidak menjawab."


Aku menghentikan makanku, dan membersihkan sisa makan yang ada di mulutku.


"Apa maksudnya? Bang, kami tidak pernah putus. Bang Romi juga pergi mendadak, tanpa memberi tahu Ayu. Ayu juga mau tau kenapa dia begitu? Bang, jangan suruh Ayu buat ngelupain bang Romi. Karena itu tidak akan bisa."


"Kau harus mengikhlaskannya. Dia sudah bahagia" ucap bang Guntur menyakitkan hatiku.


"Maksudnya apa?" air mataku menetes.


"Ayu, saranku. Kamu harus melanjutkan hidupmu tanpa dia. Perjalanan hidupmu masih panjang." ucap bang Guntur pelan.


Aku menangis, ku tutup mukaku dengan tisue yang ada di depanku.

__ADS_1


Tiba-tiba, seorang menarik bang Guntur.


"Toni, lepaskan dia" pintaku, karena Toni sudah bersiap ingin memukul bang Guntur.


"Kenapa kau bela dia, dia membuatmu menangis."


"Toni, jangan buat keributan di sini. Lepaskan dia"


Toni melepas kerah leher bang Guntur.


"Maaf, bang." ucapku.


"Tinggalkan kami berdua" teriakku kepada Toni.


"Kau memang atasanku, tapi kau tidak berhak untuk masuk dalam kehidupan pribadiku" lanjutku mengusirnya.


Toni geram. Dia menatap mataku tajam, dan keluar dari tempat itu.


"Maaf bang."


"Sepertinya, atasanmu menyukaimu." ucapnya sambil membenahi pakaiannya.


Aku tidak menjawab apa-apa.


"Ayu, Abang tidak bisa menjelaskan panjang lebar kepada Ayu. Yang Abang mau, lupakan Romi. Biarkan dia bahagia. Ikhlaskan dia. Semua sudah jalannya. Abang tidak banyak waktu." ucapnya dan bangun dari duduknya.


"Tapi, bang. Masih banyak yang mau ayu tanyakan"


"Abang yakin, lelaki tadi orang baik. Dia pasti akan menjagamu. Jangan sia-siakan orang yang mencintaimu. Kalau tidak mau menyesal. Terima kasih traktiran kopinya, next, Abang yang traktir ya" Bang Guntur menepuk pundak ku dan pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Aku masih terdiam dengan teka teki yang belum juga terjawab. Kemana hilangnya bang Romi.


Aahh.. aku lupa lagi menanyakan kontaknya bang Guntur.


__ADS_2