
Aaaa...
"Lepaskan aku. Lepaskan aku"
Kakinya yang panjang, membuat aku kalah untuk kabut darinya.
Kami pun merebahkan badan di lapangan itu.
Melihat langit yang penuh dengan bintang.
"Yu" sapanya sambil terus menatap bintang
"hm"
"Bisakah aku mencoba masuk ke dalam kehidupanmu?"
Aku tidak bisa menjawab.
"Aku bukan bang Romi yang romantis, yang selalu ada saat kamu sedih. Aku orang egois yang hanya bisa kamu kendalikan. Tapi, aku akan mencoba menjadi yang terbaik untukmu. Aku tidak akan mengkhianati pernikahan ini"
Aku tetap tidak bisa menjawab.
Pandanganku hanya tertuju pada langit yang gelap dengan cahaya bintang yang berkelap-kelip di sana.
"Apa aku boleh?"
Dia mendekatkan wajahnya ke depan mukaku. Ku dorong wajahnya, dan aku menjauh darinya.
"Ayuu" teriaknya kesal.
Aku duduk bersila, diikuti oleh Toni.
"Aku akan coba. Kita akan mulai semua dari awal. Tapi aku tidak mau ada orang lain yang tau pernikahan ini, selain keluarga dan Aca. Dan sebelum aku benar-benar yakin, kita tidur terpisah"
Toni mengangguk tanda setuju.
Dan saat itu dimulailah hari mengenal 1 sama lain.
__ADS_1
**
"Apa udah benar-benar sehat?" tanya Toni
Aku mengangguk.
Setelah sarapan bersama di hari pertama itu, kami tidak berangkat bareng. Aku berangkat naik taksi.
"Selamat pagi" sapa Ina si gendut yang selalu membawa sangu,
"Pagi, bawa apa itu?" tanyaku, melirik tas bawaannya.
"Ada biskuit, ada keripik" jawabnya sambil duduk,
"Kamu tau? Meja kamu selalu menangis menanti tuannya. Hahaha"
Tawa recehnya terhenti ketika Toni keluar dari lift. Semua karyawan berdiri menyambutnya. Tak terkecuali aku. Tapi, dia seperti tidak mengenaliku. Heh.. ucapku kesal.
Ina mencubit tanganku.
"aww" suaraku terdengar besar, padahal aku mengeluarkan suara itu dengan pelan. Mungkin suasana kantor sedang sunyi.
"Kamu, sejak sakit, jadi aneh."
"Aneh gimana" tanyaku sambil duduk di kursiku.
"Ya aneh aja. Aneh, ya aneh"
Hari itu, aku melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan fokus menyelesaikan tugas. Hingga perutku terasa pedih, aku baru berhenti.
"Kenapa, Yu?" tanya Ina yang melihat aku memegang perutku.
"Perutku perih."
"Udah sarapan belum?" tanyanya sambil berdiri mendekatiku.
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Kau mau biskuit yang aku bawa?"
"Boleh, tapi nanti kamu gak cukup" ucapku sambil tersenyum lebar.
"Coba dulu, gampang kok, kalau habis, ya tinggal beli lagi. Makan ini dulu. Siapa tau mengurangi rasa perihnya." Ina gendut tapi perhatian itu membuat aku tersenyum.
Ku ambil beberapa keping biskuit.
"Besok aku ganti ya" ucapku tersenyum.
Ina kembali melirikku, dan memberikan senyum cantiknya.
Saat makan siang, Ina mengingatkanku untuk makan.
"Ayo, kemana kita makan? Kantin bawah aja yok. Katanya ada menu Ayam Bakar Pedas" ajaknya.
"Kamu duluan, bentar lagi nih." ucapku masih fokus dengan layar yang ada di depanku.
"Janji, kamu nyusul. Atau mau aku pesan sekalian, jadi pas udah turun, tinggal makan"
"Usul yang bagus. Gih sana.. Nanti keburu habis" usirku.
Di ruangan itu tinggallah aku yang sibuk dengan laptopku.
"Yu," Toni menutup layar laptopku.
"Apa-apaan sih. Sana, nanti ada yang liat" ucapku takut, nanti terlihat karyawan lain.
"Udah sepi. Lihat. Udah pada istirahat. Ayo, makan." Toni mengeluarkan bungkusan yang ada di tangannya.
"Kita makan bareng ya" ucapnya.
"Toniiii.... sanaaa... Nanti kedok kita ketauan"
"Ya sudah, kalau tidak mau ketauan, kita ke ruangan aku saja. Aku tunggu. Kalau belum datang juga, aku yang akan makan di sini" ancamnya.
"Ya.. cepat sana, jauhi mejaku" usirku sambil mendorong tubuhnya.
__ADS_1
Ponselku berdering, aku kaget.