Sebatas Angan

Sebatas Angan
Cemburu


__ADS_3

Sakit rasanya, bukan karena jari ini, tapi kenapa aku menangis.


Ku pukul kasur yang tidak bersalah itu.


Aku kesal. Dia memperlakukan aku seperti itu. Padahal dia yang membuat masalah duluan dengan kelakuannya tadi. Aku tidak bersalah. Egoku sangat tinggi.


Setelah puas menangis, aku membersihkan diri, dan mengganti pakaianku. Aku diam di kamar, hanya memandang ponselku, yang ternyata 10 panggilan tidak terjawab dari Toni.


Astaga, pantas saja dia begitu khawatir.


Tapi tetap, dia tidak boleh seperti itu.


Lagian, memang kejadian dengan mbak Angel membuat aku juga merasa sedikit kesal. Dengan mudahnya dia merangkul perempuan lain, dan mencium pipi kiri dan kanan perempuan itu. Apa aku cemburu? Aku cemburu? Tidak. tidak. Aku tidak cemburu kok. Siapa dia?


Aku tetap diam di kamar itu. Perutku perih, lapar melanda. Aku harus apa? Apa aku bertindak seolah tidak terjadi apa-apa, dan keluar mengambil makanan? Aah.. tapi aku malu. Tapi saat ini, aku benar-benar lapar.


Ku dengar suara sepi di luar, aku memberanikan diri keluar kamar, lampu pun sudah resup. Aku menuju dapur. Aku terjebak. Toni sedang berada di sana.


"Kamu lapar?" tanyanya dengan suara pelan, dan tidak dengan nada tinggi seperti tadi.


"Aku sedang masak mie instan. Kamu mau?" tanyanya.


Aku diam.


"Kamu duduk saja di depan Tv, nanti aku bawakan." ucapnya lagi.


Aku mengambil gelas dan jus kemasan. Kembali ke sofa, dan menghidupkan siaran TV.

__ADS_1


Aroma mie instan itu memenuhi seluruh ruangan.


"Ayo kita makan," Toni meletakkan 2 mangkok berisi mie instan di meja.


Hanya suara televisi saja yang terdengar.


"Maaf, aku tidak bisa masak dengan baik" ucapnya ketika aku merasakan mie itu beda. Bukan seperti bumbu instan, tapi.. ini enak. Bumbunya pas.


"Karena kamu tidak boleh makan bumbu mie instan, aku buat sendiri saja bumbunya. Tidak enak ya?" tanyanya.


Aku tersenyum. Rasa haru menyelimuti aku saat itu. Dia rela tidak memasukkan bumbu mie instan, dan membuat bumbu sendiri ala dia.


"Terima kasih" ucapku pelan.


"Maafkan aku ya, Yu. Aku tidak bermaksud keras tadi" ucapnya setelah menyelesaikan 1 mangkok mie instan.


"Hahahaha" aku tertawa.


"Jangan berlebihan" ucapku sambil tertawa, hingga aku tersedak.


Toni cepat-cepat mengambil air di dapur. Dan ia menyerahkan segelas air untukku.


"Pelan-pelan, yu" ucapnya sambil meletakkan gelas itu ke meja lagi.


Dia mengelap air yang tersisa di bibirku.


Aku melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Kamu tidak tau kan, aku sedikit gila hari ini. Lukamu, kepergianmu yang tidak pamit kepadaku"


Aku terdiam. Astaga. Aku lupa, tidak seharusnya aku pergi tanpa pamit dengannya. Aku menutup mataku.


"Maaf" ucapku pelan.


"Tidak apa-apa, tapi jangan ulangi lagi ya" senyum itu, dan mata yang menatapku itu, penuh dengan...


Aahhh.. apa-apaan sih, Ayu.


Aku segera ke dapur dan melihat suasana dapur yang acak-acakan.


Astaga.


Seperti kapal pecah, barang-barang dapur berantakan sekali. Aku menggelengkan kepalaku.


Kurapikan dapur itu dan meletakkan alat masak yang sudah kotor ke tempat cuci piring.


"'Aku bantu ya" ucap Toni dari belakang


Aku hanya diam.


Kami melakukan bersama. Karena sabun yang dituangkan Toni sangat banyak, busanya sampai berlimpah, dan sifat usil Toni, hidungku diberi bisa olehnya. Aku membalasnya, dan mengejarnya di dalam rumah. Akhirnya Cucun piring belum selesai, kami berlarian di rumah itu, sambil bermain busa.


**Senang sekali ya, bisa main busa. Tapi apa gak licin tuh lantainya😂😂


Jangan lupa like, koment dan vote ya semua😍😍

__ADS_1


__ADS_2