
"Saat itu, emosi bang Romi sangat tinggi. Papa memanggil bang Romi untuk bertemu dengannya. Papa sangat marah, karena bang Romi memilihmu daripada anak teman papa.
Malam itu, ketika kejadian itu, bang Romi menunjukkan cincin yang sedang kamu pakai."
Aku terkejut.
"Maksudnya?"
"Bang Romi sudah menabung dengan hasil keringatnya sendiri untuk membeli cincin itu. Dan bang Romi menunjukkan keseriusannya itu. Papa menampar bang Romi. Papa tidak terima dengan keputusan bang Romi. Hingga kami dikabari, kalau bang Romi sudah berada di rumah sakit. 6 bulan lamanya, bang Romi dalam keadaan koma. Sebelum bang Romi pergi untuk selamanya, bang Romi sempat sadar. Dan dia menitipkan kamu kepadaku." ucap Toni sambil menutup matanya.
*Flashback
"Ton, aku titip Ayu. Jaga dia baik-baik. Abang yakin, kamu akan mudah mencintainya. Saat kalian menikah, pasangkan cincin ini ke jari manisnya. Aku akan bahagia, saat kalian sudah bersama. Aku akan tenang, kalau kamu yang menjaga dia"
"Dan tidak lama dari itu, bang Romi pergi dengan senyuman." Toni menghentikan pembicaraan itu, ia meninggalkan aku sendiri.
Aku terdiam. Air mataku menetes deras. Aku tidak bersuara. Hadiah yang sangat mengejutkan ini, tidak pernah aku duga, akan menerimanya. Aku masih terdiam. Pandanganku kosong, pikiranku melayang. Jawaban selama ini yang aku tunggu akhirnya terungkap sudah. Entah berapa lama aku terdiam di sofa itu. Sampai akhirnya aku merasakan sesak yang teramat sangat.
Tuhan...
Apa aku sanggup dengan semua ini?
Ku peuk bantal sofa itu, yang aku tau penyesalan tanpa batas. Seandainya aku tau, aku akan menghentikan langkah bang Romi menemui papanya.
Aku terbangun.
__ADS_1
Aku berharap semua ini mimpi.
Tapi kenapa aku berada di tempat tidur luas ini? Aku memandangi sekeliling ruangan itu.
Dimana aku?
Ya, aku di rumah yang sudah dipersiapkan untuk bang Romi.
"Sudah bangun?" suara Toni mengagetkanku.
Aku diam.
"Banyak lagi yang akan aku ceritakan kepadamu. Bangun, dan cuci mukamu.
Aku masih diam, melihat punggung Toni yang mulai menjauh.
Cincin ini.. aku menggenggam tanganku sendiri, dan memeluk kakiku yang terlipat.
"Bang.."
"Yu... Ayo cepat" Toni menarik tanganku.
"Aku menunggumu di sini" ucapnya menutup pintu kamar mandi.
Aku keluar dengan mata yang sembab, entah berapa banyak air mata itu keluar. Toni menggenggam tanganku dan kami jalan kaki menuju rumah papa.
__ADS_1
Dan benar saja, Nadia langsung mendekatiku.
"Kakak. lama sekali, perutku sudah lapar. Ayo kak"
Aku mencium kedua tangan orang tua yang sedang duduk. Papa masih saja diam.
"Ayo silahkan," ucap mama sambil mengambil lauk untuk papa.
"Kak, makan, kakak kan baru keluar rumah sakit."
aku tersenyum. Toni menepuk tanganku.
Apa yang membuat Toni menikahiku. Apakah ini jalan pernikahan yang tanpa dilandasi dengan rasa cinta, dan ini bukan pernikahan yang jadi anganku.
Acara sarapan bersama, akan tetap ada. Tradisi ini sudah ada sebelum aku masuk ke dalam keluarga ini.
"Aku berangkat. Istirahatlah. Aku akan usahakan makan siang di rumah. Jangan banyak menangis." ucapnya berlalu sambil mengedipkan matanya.
"Kaaakk" Nadia berteriak.
"Aku boleh main ke rumah kalian kan?" tanya dengan penuh semangat.
Aku tersenyum, dan memegang tangannya, kemudian kami masuk ke dalam rumah itu.
"Nad.."
__ADS_1