
"Yu, udah siap belum?"
Suara Toni sudah memperingatkan aku untuk ke sekian kalinya.
Dan aku masih duduk di atas tempat tidur.
Apa aku sanggup menemuinya?
"Yu" sapanya yang membuyarkan lamunanku.
" Kenapa?" dia duduk di sebelahku.
"Apa kamu tidak siap menemui bang Romi?"
Toni menepuk pundakku.
Aku tidak menjawab.
Tapi aku ingin sekali menemuinya.
"Kalau belum siap, ya sudah, lain kali saja"
"Gak.. aku siap kok" aku bangun dari dudukku.
__ADS_1
Perjalanan itu, membuka kenangan yang tidak dapat dilupakan.
Aku menggenggam tanganku sendiri, seolah tau apa yang aku rasakan, Toni menenangkanku.
"Yu, are you OK?"
Aku tersenyum, dan memegang topi yang aku bawa.
Kami memasuki pemakaman umum itu. Dari turun mobil, aku melihat hamparan bunga yang indah. Pemakaman ini, bukan seperti tempat pemakaman umum seperti adanya. Jalan setapak itu, membawa kami ke tempat peristirahatan bang Romi yang terakhir. Melewati jembatan dan akhirnya Toni menghentikan langkahnya. Aku menggenggam erat tangan Toni.
"Di sini, bang Romi istirahat untuk terakhir kalinya" ucapnya memegang pundakku.
Aku mencoba tegar. Stop. Jangan nangis. jangan nangis. Please, air mata jangan keluar.
Saat aku lihat ke pusaran itu, tertera nama Romi Wijaya Putra.
Toni hanya mengangguk.
Ku dekati lagi makam itu, dan duduk di samping Toni.
Bang... begitu cepat Abang meninggalkan Ayu. Tanpa pesan, Abang pergi meninggalkan Ayu. Ya Allah, kenapa deras sekali air mata ini. Aku mengenang senyumnya, aku mengenang langkah kakinya, aku mengenang saat ia memasukkan bola ke ring, aku mengingat semua. Perasaanku saat ini, ya Tuhan, Bang.. kenapa Abang tinggalin Ayu, tanpa pesan sedikitpun. Dan aku hanya bisa menangis dan terus menangis.
"Bang, Toni sudah menepati janji Toni. Toni akan menjaga amanah ini. Ini Ayu, bang. Toni akan menjaga Ayu, bang. Abang tenang di sana ya." Toni menghapus air matanya.
__ADS_1
"Kita kirim doa untuk bang Romi ya" ucapnya. Kami menundukkan kepala. Toni membenahi kerudung yang aku pakai. Dan Toni memimpin doa itu.
Pemakaman itu sangat bersih, dan sepi. Ada taman yang indah menuju kesini. Ku pandang sekelilingku, rasa aku tidak asing dengan tempat ini, tapi, ya sudahlah.
Ku letakkan topi itu di atas pusarannya.
"Bang.. Ini topi yang Abang beliin buat Ayu. Terima kasih ya bang, udah nemenin hari-hari Ayu. Walau cinta kita kini sebatas angan, tapi cinta ini akan selalu ada di hati Ayu." kemudian aku mengusap batu nisan itu, dan berlalu dari sana. Tapi aku membalikkan tubuhku lagi,
"Selamat beristirahat dengan tenang, bang"
Toni merangkulku, dan kami meninggalkan makam bang Romi. Teka teki sudah terjawab.
Tapi entah mengapa, hatiku lega.
"Aku lapar, kita makan dulu yok." ajak Toni.
"Hah"
"Aku lapar, kita makan sop waktu itu yok." ajaknya sambil menggandeng tanganku.
Aku mengikuti lelaki itu, sampai di depan parkiran mobil, Toni menoleh ke belakang,
"Terima kasih, bang, Kau sudah memberikan aku wanita yang ada di sampingku ini." Ucap Toni sambil membukakan pintu mobilnya.
__ADS_1
"Bang.. Lelaki yang menjadi penggantimu ini, sedikit banyak, punya sifat dan fisik sepertimu. Aku yakin, kau akan menjagaku melalui adikmu." ucapku dalam hati.
Mesin sudah dihidupkan, dan ban itu pun sudah berjalan, kami meninggalkan pemakaman itu dengan hati sedikit terobati.