
Hei.. jangan katakan yang aneh-aneh.
Belum saatnya, lagian aku kan lagi dalam keadaan seperti ini. Aku segera masuk ke dalam kamar mandi lagi.
"baby.. ngapain masuk lagi, tar masuk angin loh." ucapnya yang terkejut melihat langkahku masuk ke kamar mandi lagi.
"Aku akan keluar kalau kamu keluar dulu."
teriakku dari dalam kamar mandi.
Suara di kamar itu sudah sepi, mungkin dia sudah keluar dari sana, aku keluar dari kamar mandi, dan cepat-cepat mengambil pembalut yang ada di lemari, kemudian memakai baju tidurku.
Suara orang mendengkur.
Dari mana arahnya.
Aku melirik ke arah belakang, betapa kagetnya aku, Toni sudah tidur dengan membalikkan tubuhnya menghadap jendela kamar.
Aku tertawa kecil melihatnya.
Bukankah tadi baru saja dia menggodaku, sekarang dia sudah terlelap seperti itu.
Ku Gelung rambutku ke atas dengan handuk, dan mendekati Toni yang tertidur di sana.
"Kalau kamu tidur seperti ini, ingin rasanya aku mencubitmu, karena aku kesal dengan keusilanmu." Aku membelai lembut pipi Toni.
"Kalau kau mau cubit, ya tinggal cubit saja"
Sontak suara itu mengagetkanku, dan saat aku ingin berlalu dari sana, tangannya sudah menangkapku terlebih dahulu.
__ADS_1
"Mau kemana, katanya kesal, mau mencubit pipiku"
"Oh.. eh.. tidak.. kata siapa?"
"Kamu sendiri yang berbicara seperti itu" ucapnya sambil mengunci tubuhku. Sekarang aku tidak bisa bergerak karena kakinya menahan tubuhku.
"Ayo, sekarang, cubit." Toni mendekatkan mukanya ke mukaku, hingga saat ini paling sisa jarak sejengkal dari mukaku.
Aku menatap mata itu, sedikit kemiripan dengan bang Romi kalau dilihat dari dekat seperti ini. Aku tersenyum padanya, dan saat dia lengah, aku membalikkan tubuhnya dan berusaha kabur dari kasur itu. Tapi, tetap, aku kalah cepat dari dia. Sehingga, untuk kedua kalinya aku terkunci.
"Ton, lepaskan aku." ucapku meronta-ronta, tanganku di tahan olehnya, dan tubuhku terkunci oleh tubuhnya.
Toni hanya tersenyum, dan semakin dekat, aku hanya menutup mataku. Bibir itu telah menyatu dengan bibirku, dan entah bagaimana, aku menikmatinya, permainan lidah membuat ruangan kamar ber AC itu menjadi panas. Toni tidak hanya mencium bibirku, tapi leherku, yang membuat aku mengerang nikmat, dan kembali menyatukan bibir kami.
Saat ia membuka piyamaku, aku berteriak.
"Stop, Ton. Aku.." Toni menghentikan aksinya.
Toni membaringkan tubuhnya di sampingku.
Aku tau dia kecewa, tapi aku harus menghentikan semua.
"Yu, kita honeymoon yok." ajaknya.
"Apa? Tapi..."
"Iya, nanti setelah acara resepsi kita laksanakan. Bagaimana?" tanyanya.
"Aku akan menyiapkan segalanya, secepatnya. Minta Aca untuk menghadiri acara kita. Aku akan meminta ayah dan ibu untuk ke sini. Papa dan mama juga akan aku minta bantuan" ucapnya menggebu-gebu.
__ADS_1
"Aku mandi dulu, nanti kita ke rumah mama, oke" ucapnya bersemangat.
**
"Ayu, Toni, kalian tidak kerja?" tanya mama.
"Wah.. aku senang sekali, kalian main ke sini. Ayo kak.. masuk" ajak Nadia.
"Abang jauh-jauh, aku mau curhat sama kak Ayu." lanjutnya mengusir Toni.
"Hei, ingat, dia istri sahku. Ma, lihat ini. Kami sudah punya ini" Toni menyerahkan surat nikah kami kepada mamanya.
"Wah, Alhamdulillah.."
"Ma, kami ingin mengadakan pesta resepsi kecil-kecilan. Bagaimana, ma?"
mama hanya melihat anaknya itu.
"Kapan kalian ingin mengadakan resepsi itu"
"Minggu ini" jawab Toni asal.
"Kamu kira pesta besar seperti itu bisa terjadi secara tiba-tiba" ucap mama spontan.
"Mama kan banyak relasinya, bantu ya ma.." rayu Toni. Toni adalah anak kesayangan mamanya. Dan setiap Toni meminta sesuatu, pasti dikabulkan.
"Baiklah sayang, mama akan minta bantuan relasi mama. Kamu dan istrimu, duduk diam saja. Hubungi orang tua Ayu, untuk menghadiri pesta ini" ucap mama.
"Tapi, bagaimana dengan papa, ma?" tanyaku takut, melihat potonya saja, aku sudah gemetar.
__ADS_1
"Serahkan semua sama mama" ucap mama percaya diri.
**Hai hai hai.. terima kasih untuk like, dan komennya para readers tercinta.. Jangan lupa votenya ya. Dan jangan lupa mampir ke novelku terbaruku lagi, yang berjudul Meraih cinta Rania. Terima kasih 😍😍😍