
"Nad..." panggilku.
"Ceritakan tentang Bang Romi" aku mengajaknya duduk di sofa.
"Kak.. Apa kakak sudah baikan? Maafkan kami ya kak, tidak jujur dari awal. Ketika pertemuan kita pertama kali, aku dan mama sangat kaget, bang Toni mengajak kakak menginap di sini. Kami tidak tau sebenarnya, siapa kakak. Ketika bang Toni mengajak kami berbicara di dalam kamar waktu itu, dia menangis. Bang Toni mengatakan, dia telah menemukan amanat yang diberikan dari bang Romi, dan kami tidak tau maksudnya apa. Bang Toni mengatakan, saat bang Romi memanggilnya sebelum bang Romi meninggal, ia memberikan sebuah foto. Dan bang Toni harus menemukan perempuan di foto itu. Bang Romi meminta, kalau bang Toni harus membahagiakan kakak. Dan bang Romi meminta bang Toni untuk menjaga kakak. Bang Romi menyerahkan cincin yang sudah dibelinya untuk kakak kepada bang Toni. Dan pesan bang Romi sebelum meninggal, bang Toni harus belajar mencintai kakak."
Aku tidak dapat mengatakan apa-apa.
"Jangan menangis lagi, kak" Nadia mengusap air mata yang menetes deras di pipiku.
"Mau aku ceritakan kelanjutannya kak?" tanya Nadia lagi.
Aku mengangguk.
"Awalnya, bang Toni tidak mau melaksanakan amanat itu. Tapi, lama kelamaan, bang Toni juga selalu dimimpikan bang Romi. Entah memang takdir kalian dipertemukan di kantor yang sama. Jalan bang Toni untuk melaksakan amanatnya makin jelas. Bang Toni mulai mengenal kakak."
Aku tertunduk.
Jadi selama ini memang dia sudah mengenal aku. Kenapa tidak pernah bilang kalau dia seperti itu.
__ADS_1
"Sudah kak. Berhenti menangis" Nadia memelukku.
"Aku yakin, Bang Romi sudah bahagia di sana. Bang Toni sudah menjaga kakak dengan baik. Dan sekarang, walau bukan dengan bang Romi, tapi kakak sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Itu amanat besar." Nadia, anak itu bisa berbicara layaknya orang dewasa.
"Bagaimana dengan mama dan papa? Aku pasti disalahkan karena kepergian bang Romi"
"Sebentar kak, mama menelpon" kemudian Nadia menjauh dariku.
"Ya ma, iya aku tau.. Aku pulang nih." hanya kalimat itu saja yang aku dengar.
"Kak, aku pulang ya, aku lupa ada mata kuliah siang ini. Hehe.. Kakak, jangan menangis lagi ya. Kasian bang Romi. Biarkan dia pergi dengan tenang" Aku melihat bulir air mata di pelupuk mata Nadia.
Aku kembali ke dalam rumah.
Menarik nafas panjang, dan melihat sekeliling rumah,
"aku harus apa?"
Ku ambil sapu, dan mulai membersihkan rumah yang tidak kotor itu.
__ADS_1
"Pernikahan ini terlalu cepat. Pernikahan ini amanat dari almarhum bang Romi. Tapi, apa aku bisa menerima bang Toni?" gumamku kecil, sambil membersihkan tempat tidur yang semalam aku tempati.
Bagaimana mungkin aku hidup bersama orang yang tidak aku cinta? Apa aku akan terus begini? Pertanyaan itu keluar dari pikiranku.
Tapi, sekarang aku adalah istri dari pemilik rumah ini.
haaahhhh... Aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur.
Aku akan bersikap normal, seperti biasa, tidak ada perasaan apa-apa. Dan aku bangun lagi, melanjutkan merapikan rumah itu lagi.
Setelah semua pekerjaan selesai, seorang perempuan yang biasa merapikan rumah datang.
"Mbak.. Kok rumahnya sudah rapi. Nanti apa kerjaan saya?" tanyanya..
"Bu, dimana saya bisa membeli sayur mayur?" aku tersenyum melihat dia salah tingkah.
"Biasanya, si ibu suka beli di supermarket, mbak. Tapi, di luar komplek, ada warung sayur."
"Antarkan saya kesana ya Bu. Saya mandi sebentar ya" ucapku berlalu dari hadapannya
__ADS_1