
Resepsi yang diimpikan oleh Toni, sudah hampir terwujud. Undangan sudah disebar. Gedung pun sudah dibayar oleh mama, WO sudah dipesan. Tapi bisik-bisik di kantor membuat telingaku sedikit panas.
"Wah.. gak nyangka, Yu.. Ternyata kamu dan pak Toni itu.. Eh, tapi diundangan akad nikahnya sudah hampir 2 bulan yang lalu. Kok kamu gak cerita sih, Yu" Ina protes dengan kabar resepsi pernikahan kami.
"Pantesan, pak Toni sedikit berubah. Gak songong lagi." ucap Ina.
"eh, maaf, Yu.. Sekarang kan dia suami kamu" Ina memelankan suaranya.
Aku menepuk tangan Ina yang masih ada di sampingku.
"Sudah, sana. kerja dulu. Nanti gak selesai" ucapku yang mengalihkan pertanyaan demi pertanyaan dari Ina.
Saat jam makan siang pun, setiap mata yang ada di kantor itu seakan ingin menghakimiku.
Toni, adalah bos yang dikagumi oleh banyak karyawan cewek yang masih lajang, apalagi anak baru, mereka selalu mengelukan Toni. Kalau dulu, aku tak peduli, tapi sekarang, ada rasa aneh yang membuat aku risih mendengarnya.
"Selamat ya mbak Ayu. Sekarang udah jadi istri pak Toni. Gimana caranya sih mbak, mendapatkan hati pak Toni yang dingin itu"
Mungkin niat mereka hanya untuk memberi selamat atas pernikahanku, tapi kenapa pertanyaan itu terlalu spesifik sekali.
Aku tersenyum, Ina tau apa yang aku rasakan.
"Kalian ini, bisanya hanya bergosip. Sana, urus kerjaan kalian saja, jangan ganggu kami, menghilangkan nafsu makan kami saja. Ayo, yu. Kita pindah tempat saja" ajak Ina.
"Tapi bukan karena hamil duluan kan, si mbak Ayu mendapatkan pak Toni, Perutnya saja masih datar" bisik mereka lagi tapi terdengar jelas di telingaku, membuat aku sangat emosi, sampai botol air yang aku pegang, terjatuh.
__ADS_1
Semua mata tertuju padaku.
Ina mengambil botol minum itu dan menarikku.
"Sudah tidak usah di dengarkan ucapan mereka. Toh tidak benar, kan? Atau memang.."
Ina menghentikan kalimatnya, saat aku menatap tajam matanya.
"Sekarang aku masih haid, dan aku belum tersentuh olehnya" ucapku menahan amarah.
"Hah... Jadi kalian..." Ina menunjukkan muka penasarannya.
"Panjang ceritanya, sudahlah. Aku tidak mau makan lagi. Aku akan kembali ke mejaku."
Langkahku percepat sampai akhirnya aku berada di mejaku, aku menunduk kesal.
Aku melihat ke atas, dan dia ternyata sudah ada di sebelahku, menatapku.
Aku mendorongnya masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa?" tanya Toni yang berpostur tubuh tinggi itu ketika aku mendorongnya.
"Baby" panggilnya, aku menutup mulutnya,
"Toni, ini di kantor. Bagaimana kalau dilihat karyawan lain?" tanyaku kesal.
__ADS_1
Kini dia sudah memelukku dari belakang.
"Hei, seisi kantor ini juga sudah tau kalau kita sudah menikah. Apa salahnya?"
"Tatap salah, ini kantor, bukan rumah. Kamu tidak bisa seenaknya di kantor. Lepaskan aku" aku yang memang sedang kesal meluapkannya kepada Toni dengan memukulnya.
"Aw" teriaknya.
Aku melihat dia kesakitan, melihat tangannya yang merah akibat ku pukul tadi.
"Maaf, aku tidak bermaksud demikian" ucapku sambil meniup tangan Toni dan mengelusnya.
"Sudah tidak apa-apa. Kenapa kamu? Kesal? Sama siapa? Coba ceritakan pelan-pelan"
Aku menceritakan semua, tidak mungkin. Akan terjadi masalah kalau aku menceritakan padanya.
"Sudahlah, mungkin aku grogi menjelang resepsi kita" ucapku duduk di sofa.
"Kamu yakin? Tidak ada masalah?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk, dan mengelus tangannya yang masih tampak merah.
Dia mengecup keningku.
"Aku keluar dulu, nanti ada yang lihat" kemudian aku mengintip luar ruangan.
__ADS_1
Tanganku ditarik, dan Toni memelukku.
"I love you" bisiknya.