
"Yu, sudah siap belum?" suara itu terdengar jelas.
Astaga, aku lupa menutup pintu kamar.
Dan benar saja, dia sudah ada di belakangku.
"Kita berangkat bareng" ucapnya.
"Oh.. gak usah. Aku nanti naik taxi saja"
"Kamu naik taxi Mulu, emangnya sopir taxi itu suami kamu. Aku mau bareng sama kamu" ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang aku tiduri.
"Jangan gila, deh. Nanti ketauan sama orang-orang kantor gimana?"
"Ya gak apa-apa, toh seluruh dunia juga harus tau, kalau kamu sekarang istriku"
"Tidak, aku tidak mau orang tau sekarang. Aku belum siap" ucapku sambil menutup lipstik, dan melihat ke arahnya yang sedang berbaring.
"Tooon.. nanti bajunya kusut" Aku menarik tangannya untuk bangun.
Kejadiannya sangat cepat, ketika aku sekarang sudah berada di pelukannya.
"Sebentar saja, aku butuh mencharge tenagaku" ucapnya ketika aku hendak melepas pelukan itu.
Aku hanya diam, ia mengambil tanganku, dan melingkarkan ke pinggangnya.
Dia diam. Hanya diam. Dan akhirnya melepaskan pelukannya itu.
"Aku akan merindukan pelukan ini" ucapnya, menatapku dengan pandangan apa itu. Aku tidak mau mengasumsikan sesuatu.
Aku menarik tasku, dan berlalu dari kamar itu.
"Jangan lupa kunci rumah ya. Aku duluan. Taxiku sudah menungguku."
__ADS_1
"Ayu.." ucapnya dengan penuh tanda tanya.
Aku berlalu, sambil tersenyum kecil.
Toni masih berdiri di depan pintu, saat taxi yang kupesan berlalu dari pandangannya.
"Mbak tidak sekantor sama masnya ya?" tanya sopir itu.
"Hm.. sekantor, pak"
"Kenapa tidak bareng sama masnya, mbak? Lagi bertengkar ya?" tanya sopir itu lagi.
Aku menggeleng dan tersenyum tanpa memberikan jawaban.
Sampai di halaman kantor, aku jalan memasuki gedung itu, dan naik ke lantai 3 tempatku bekerja. Tapi alangkah kagetnya aku, Toni sudah berada di mejaku. Aku buru-buru menghampirinya.
"Kok udah sampai?"
"Kamu ngebut ya? Gak sayang nyawa" ucapku sambil meletakkan tasku di atas meja kerjaku.
"Sana, nanti ada yang lihat" aku melirik ke segala penjuru kantor itu.
"Huft, untung masih belum banyak orang. Sana pergi. Aku gak suka lihat kamu kebut-kebutan."
"Kenapa?"
"Nanti aku jadi janda mu" mulutku ditutup olehnya
"Jangan bilang sembarang. Aku gak mau ninggalin kamu. Aku duluan sampai karena mau lihat kamu aman sampai di kantor"
Aku menatapnya.
Kenapa dia seperhatian itu.
__ADS_1
"Sudah sana.. Sebentar lagi semua orang sampai di sini" Aku mendorongnya dari mejaku.
Suara mulai terdengar.
Tapi Toni sengaja tidak mau berlalu dari mejaku.
"Nanti siang kita makan bareng" ucapnya, memegang tanganku.
"Gak, aku ada janji" ucapku, kemudian duduk di mejaku.
"Sana, jangan buat aku maluuu, pergi sana"
"Janji sama siapa?" ucapnya dengan suara agak keras.
Mereka yang datang langsung melirik ke arahku.
Aku menutup mukaku dan menunduk,
"Dengan siapa aja. yang pasti tidak denganmu. Sana pergi" ucapku pelan sambil melotot.
Akhirnya Toni pergi juga.
"Hai, yu. Nanti jadi kan makan siangnya? Sambil kita membicarakan masalah yang pernah kita bicarakan" Arya menyapaku, dan memastikan makan siang hari ini.
Aku lihat, Toni menghentikan langkahnya, dan kemudian melanjutkan kembali menuju ruangannya.
"Ok.. nanti jam makan siang ya" ucapku tersenyum pada Arya.
Siang itu, ada pertemuan di ruangan Toni. Seorang perempuan cantik, urusan dari pihak advokasi hukum kantor.
Toni menyambutnya.
"Hai, dear. Udah lama bener gak ketemu ya" ucapnya sambil bersalaman, tapi... kok sambil cipika cipiki sih.. Gak perlu pake cipika cipiki juga kali.. Kenapa mesti di samping mejaku.
__ADS_1