Sebatas Angan

Sebatas Angan
Mama


__ADS_3

Cukup waktu untukku mencuci pakaianku.


Dia kan tidur 2 jam. Semoga cepat keringnya.


walaupun aku tidak yakin, akan secepat itu keringnya.


Sambil menunggu, aku melihat isi dapurnya.


Hanya ada mie instan dan roti tawar. Ahh. kenapa tidak ada apa-apa di rumah ini. Apakah dia selalu makan di luar? Sayang sekali uangnya.


Aku fokus merapikan rumah itu, sambil masak mie instan.


"Hei, siapa kamu?" Aku terkejut.


Seorang perempuan paruh baya dan perempuan muda yang aku perkirakan umurnya 2 tahun di bawahku, datang dengan bungkusan di tangan.


"A. a. aku" ucapku gagap.


"Ma, siapa perempuan itu. Kenapa pakai baju bang Toni?" ucapnya menunjukku.


"Siapa kamu?" tanyanya mendekati aku yang memegang gelas kotor sisa semalam.


"Mana, Toni? Apa yang kalian kerjakan.. Kamu.. kemana pakaianmu, hingga memakai pakaian anakku?"


Aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya terdiam. Toni yang mendengar keributan keluar dengan berbicara


"Yuu, aku kan sudah bilang, jangan teriak-teriak, nanti tetangga dengar tidak e....


Mama? Mama kenapa kesini?" tanyanya sambil mendekati mamanya.


"Siapa perempuan itu?!" tunjuk perempuan yang dipanggil Toni dengan sebutan mama.

__ADS_1


"Dia, dia temanku, ma. Kami kehujanan semalam"


"Kehujanan, bukannya kamu bawa mobil. Kehujanan dari mana? Jangan membuat alasan yang tidak-tidak" tangannya menjewer kuping Toni.


Perempuan muda itu mendekatiku.


"Kakak siapa?" tanyanya pelan dan terus memandangiku


"Aku, aku" aku seperti tidak punya kekuatan untuk berbicara.


"Kakak pacarnya bang Toni, ya?"


"Bu. Bu. bukan.. aku bukan pacar abangmu. kami hanya berteman"


"Tapi, kakak di sini, memakai pakaiannya. Bang Toni bukan type orang yang dengan sukarela meminjamkan barangnya kepada orang lain" jelasnya.


Aku terdiam.


Aku sudah tidur di atas kasurnya.


Aku yang sudah membawa mobilnya.


Tapi, dia bukan type orang yang sembarang dengan meminjamkan barangnya kepada orang lain.


"Untuk minum saja, bang Toni tidak mau gelas lain. Ia hanya mau gelasnya saja. Kakak tidak tau?" tanyanya.


Aku menggeleng.


"Siapa dia, nak?" tanya mama mereka yang sangat ingin tau.


"Panjang ceritanya, ma. Ikut Toni" Toni mengajak mamanya ke kamar diikuti oleh adik Toni.

__ADS_1


Cukup lama mereka berbincang di kamar. Dan aku hanya terpaku diam, duduk di dapur, memikirkan apa yang akan terjadi.


Pakaianku yang masih lembab, terpaksa aku kenakan kembali. Rasanya dingin. Tapi, aku harus memakainya. Rencana membuat sarapan pun harus aku lupakan. Kejadian itu sangat tiba-tiba. Aku bersiap untuk kembali ke kosanku.Tapi, tas dan ponselku masih ada di dalam kamar itu.


Cukup lama mereka berbicara, dan akhirnya keluar.


"Yu, baju itu kan basah. Bagaimana kalau kamu sakit lagi?" Toni yang terkejut melihatku, langsung menghampiriku.


"Tidak apa-apa, bajunya juga akan kering nanti. Bajumu, sudah aku cuci. Tolong ambilkan tas dan ponselku ya" ucapku pelan.


"Mau kemana? Pulang? Tidak. Aku tidak mengizinkan" ucapnya sambil menarik tanganku menemui mamanya.


Mamanya menatap mataku tajam, dia meneteskan air matanya. Entah apa yang dibicarakan Toni, hingga membuat perempuan paruh baya itu, melemah.


"Ma, ini Ayu. Ayu Amelia." aku bingung, hanya bisa menatap matanya.


Mamanya datang memelukku.


"Ayu.." dia menangis sesegukan.


Aku bingung.


Tapi, dari tangisnya, aku merasakan kepedihan mendalam.


"Tante.." aku yang masih bingung hanya bisa mengucapkan kata itu.


Dia melepas pelukanku.


"Mama, panggil aku mama." Dan perempuan itu memelukku lagi.


**Author yang bikin pengen nangis,

__ADS_1


Apalagi, belum ada yang like dan komentar.


Buat author jadi semangat ya readers tersayang😍😍


__ADS_2