Sebatas Angan

Sebatas Angan
Cidera kaki


__ADS_3

Ku tinggalkan dia sendiri. Toh akan ada keluarganya yang mengurusnya.


"Ca, dimana?"


"Lagi nyari makan, kenapa Yu?"


"Bawain makan ya"


Aku tidak bisa menceritakan kejadian itu melalui ponsel.


Untung saja, sebuah taxi kosong lewat, dan akhirnya aku lega bisa duduk, karena lelah berjalan.


Aku kembali melewati lapangan penuh kenangan itu. Aku melihat sepasang muda mudi yang bercengkrama dengan mesranya. Anganku kembali terbang.


#Flash back


"Cieee, new couple, dibawa teruuusss" goda salah satu team basket kantor bang Romi.


Aku melepaskan tanganku dalam genggamannya. Tapi, dia menarikku kembali.


"Kenapa? Ayu malu jalan sama Abang?"


"Ayu takut malu-maluin Abang" jawabku.


Bang Romi tersenyum lebar, dan mencubit pipiku yang sedikit chubby.


"Kamu, harus siap dengan segala yang ada, cibiran ataupun sanjungan," tangannya melingkar di bahuku.


Tuhan,


Lelaki ini, sangat baik untukku.

__ADS_1


Terima kasih, Kau telah mengirimkan dia untukku.


Kali ini, aku sengaja duduk di tribun paling atas, lebih baik menyendiri, dan bisa memandang dia dari kejauhan.


"Serius mau di sini?" tanyanya.


Aku mengangguk.


"Ya udah, Abang turun dulu ya. Give me power" ucapnya sambil merentangkan tangannya.


Aku memeluknya, "Semangat" ucapku sambil mengepalkan tangan.


"Aaahh.. Tenaganya udah full. Aku pasti menang" jawabnya sambil menarik ke bawah topiku


Seperti biasa, permainan yang seru selalu terjadi saat di lapangan.


Caranya mendrible, mengalihkan perhatian musuh, dan memasukkan bola ke ring, benar-benar membuat aku sangat jatuh cinta padanya.


Tapi di akhir pertandingan, lawan sepertinya sengaja membuat dia terjatuh, dan semua yang menonton berteriak heboh.


Bang Romi melambaikan tangannya, seperti memberi kode, untuk aku segera turun.


Ku ambil tas, dan peralatannya, dan segera turun.


"Sakit?" tanyaku yang menghampiri dirinya yang sedang duduk di pinggir lapangan dan menyender di dinding.


"Gak. Tadi Abang kan cuma action saja, biar yang lain bisa main"


"Hiss.." ku pukul kakinya.


"Aww.. sakit"

__ADS_1


"Eh.. beneran sakitnya?"


"Iya sakit, dong sayang" jawabnya.


Tapi, apa? Aku tidak salah dengar? Sayang? Dia menyebutkan kata itu. Aku seolah tidak mendengar. Dan mengambil air minum yang suda kami beli tadi sebelum pertandingan berjalan.


"Kenapa, Ayu keberatan, kalau Abang panggil sayang?" tanyanya merebut air minum yang aku pegang, dan ia meminumnya.


"Itu kan bekas Ayu, bang" ucapku.


"Tidak ada bekas darimu."


Kemudian dia meneguk air itu kembali.


Pertandingan berakhir dengan skor yang memenangkan kembali team basket kantor bang Romi.


Setelah semua bersalaman, dan semuanya bubar, kami jalan menuju parkiran, aku memapah bang Romi yang cidera kaki.


"Padahal, Abang rencananya mau ajak Ayu main dulu lah, gak langsung pulang. Minggu depan ya." Sambil jalan ia merangkulku.


"Ayu aja deh yang bawa motornya. Nanti sakit lagi kakinya" ku ambil kunci motor yang ada di genggamannya.


"Terima kasih, sayang." ucapnya lagi. Dan lagi-lagi dia memanggilku seperti itu. Wajahku rasanya memanas. Tapi kualihkan pandangan jangan sampai dia melihat mukaku yang memerah.


Sepanjang jalan, aku hanya diam.


"Yu, sebentar, Abang mau beli kue itu dulu, kita kesana bentar ya" tunjuknya. Aku mengikuti arah yang ditunjukkan.


Dan tak lama, ia sudah kembali dengan kue yang ada di tangannya.


"Abang aja yang bawa ya"

__ADS_1


"Tapi, kaki Abang kan sakit"


"Abang sehat, selagi ada ayu disamping Abang"


__ADS_2